Yayasan Bina Sehat Mandiri : Pasien Cuci Darah Butuh Perhatian Khusus

0
437

KOTA SUKABUMI.- Jumlah penderita penyakit gagal ginjal kronis di Kota dan Kabupaten Sukabumi terus bertambah, hal tersebut dibuktikan dengan padatnya jumlah pasien Cuci Darah pada setiap jadwal yang sudah di tentukan oleh pihak RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi.

Tidak hanya itu, diluar kebutuhan medis, para pasien juga sangat membutuhkan adanya bantuan atau perhatian khusus dari pemerintah maupun pihak swasta pasalnya selain biaya operasional yang tidak sedikit, kebutuhan perlengkapan alat medis diluar fasilitas rumah sakit pun, mereka sangat membutuhkan dan ingin memilikinya secara masing masing.

Demikian dikatakan Dedah (75) salah seorang pasien Cuci Darah yang hingga saat ini masih rutin melakukan pengobatan di RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi. Ia mengaku sangat membutuhkan perhatian khusus untuk kesembuhan penyakit Gagal Ginjal Kronis yang sudah di deritanya selama kurang lebih satu setengah tahun. “Penyakit yang saya derita ini pada prinsifnya harus mendapatkan perhatian khusus baik dari pihak rumah sakit secara tindakan medis maupun pemerintah secara sarana prasarana misalnya pemerintah memberikan bantuan terhadap para pasien agar bisa memiliki tabung gas atau kursi roda secara pribadi pasalnya penyakit ini bisa terjadi droup kapan pun atau sewaktu waktu tanpa diduga duga” katanya.

Dedah yang dikonfirmasi Jumat (6/4) melalui seluler putranya, Dudi (50) mengungkapkan, selain perhatian khusus dalam bentuk tindakan medis dan adanya penunjang sarana prasarana yang memadai, para pengidap penderita cuci darah ini juga berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan penuh dalam bentuk pembiayaan perawatan dan pengobatan terlepas saat ini pasien kerap menggunakan fasilitas BPJS namun klaim pembiayaan tersebut selalu tidak sepenuhnya dibayarkan oleh BPJS. “Alhamdulilah selama ini kita menggunakan BPJS dan sangat terbantu akan tetapi beberapa waktu lalu sempat tersiar kabar bahwa pembiayaan pasien HD tidak lagi mendapatkan klaim secara full dari pihak BPJS, jika kabar tersebut ter realisasikan artinya ini akan sangat memberatkan pasien,” ungkapnya.

Selain itu, salah seorang pasien lainnya Desiana (20) menjelaskan, jika dilihat dari hitungan pembiayaan pasien HD, maka nilai rupiah pada setiap minggunya akan menjadi bengkak karena rupiah yang harus dikeluarkan oleh pasien bukan biaya yang sedikit. “Jika wacana tersebut terjadi sama artinya kita harus menanggung biaya obat obatan secara pribadi sementara biaya nebus resep pada setiap jadwal cuci darah itu paling sedikit berkisar Rp. 500 – 1 Juta, jika di akumulatifkan maka sekitar Rp. 4 Juta an biaya yang harus dikelurarkan untuk nebus obat saja belum ditambah yang lain – lain,” keluhnya.

Untuk itu ia berharap agar kebijakan tersebut bisa dikaji kembali sebelum diberlakukan, mwngingat kondisi prekonimian pasien dan keluarga tidak selamanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pengobatan. “Semoga wacana tersebut bisa dikaji kembali dan harapannya agar kaitan pembiayaan tersebut bisa dikembalikan pada sistem semula yakni biaya cuci berikut obat obatan di klaim oleh BPJS,” harap Desi.

Terpisah, Ketua Yayasan Bina Sehat Mandiri Sukabumi, Eko Arief membenarkan, apa yang disampaikan oleh pasien HD tersebut benar adanya, semoga pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota atau Kabupaten Sukabumi, bisa meninjau dan berkomunikasi langsung dengan pasien HD. “Semoga kedepan pemerintah dapat bertatap muka dan berkomunikasi langsung dengan para pasien untuk dapat menampung aspirasi pasien dan kebutuhan kebutuhan pasien selain tindakan medis karena pada dasarnya secara tindakan medis yang sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit sudah sangat baik namun ada kebutuhan lain yang tentunya harus mendapatkan solusi agar pasien dan keluarga bisa keluar dari kesulitan,” pungkasnya.(Eko)