Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto.

INAPOS.COM – Setelah lama “menghilang” pasca polemik dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mantan Menteri Kesehatan yang juga mantan Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Letnan Jenderal TNI (Purn) Terawan Agus Putranto, kembali muncul untuk menjawab pertanyaan seputar dirinya.

Terawan menyediakan waktu untuk berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas TV, Rosiana Silalahi, yang di tayangkan pada Kamis (07/07/2022) malam di Program Rosi (Ekslusif).

Rosiana Silalahi menemui dr. Terawan di rumah dinasnya yang berlokasi berdekatan dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto tempat praktiknya sehari-hari.

Menurut dr. Terawan, dia mulai menempati rumah dinas tersebut sejak 2013. “Saya diberikan rumah dinas supaya saya bisa melayani RSPAD dengan dekat,” ucapnya.

Ia menjelaskan dari rumah dinas tersebut, dia dapat cepat menuju ruang tindakan medis di RSPAD Gatot Subroto. “Kalau ada yang butuh pertolongan saya bisa lari ke sana (RSPAD) dengan cepat,” pungkasnya.

dr. Terawan menceritakan dia masih menangani pasien hingga pukul 01.00 Wib dini hari. “Saya harus cek dan ricek semua kondisi pasien yang kebetulan emergency telepon saya,” ungkapnya.

Bahkan dirinya juga mengungkapkan sebelum wawancara dengan Rosi, dia terlebih dahulu menangani sejumlah pasien di RSPAD. Jumlahnya bahkan mencapai 35 orang. “Ini baru pulang dari RSPAD tadi 35 pasien harus saya lakukan tindakan,” paparnya.

Terawan membantah kabar yang menyebutkan izin praktiknya sebagai dokter sudah dicabut. Kabar ini sempat mencuat pasca polemiknya dengan IDI.

Seperti diketahui IDI telah merekomendasikan pemecatan dr. Terawan dari keanggotaannya. Isu pencabutan surat izin mencuat lantaran IDI merupakan organisasi profesi dokter yang memiliki kewenangan mengeluarkan rekomendasi untuk praktik kedokteran.

“Yah selama izin praktek saya belum dicabut,” jelas Terawan.

Dokter berusia 57 tahun ini pun mengungkapkan bahwa yang dicabut oleh IDI hanyalah keanggotaannya dari organisasi tersebut dan bukan surat ijzin praktik. “Enggak ikut organisasi yah enggak masalah,” sebut pria yang berpangkat Letnan Jenderal TNI AD ini.

Namun Terawan menyampaikan bahwa pernyataannya tersebut bukan bentuk perlawanan kepada IDI. Justru sebaliknya, dia memang telah menerima keputusan keluar dari keanggotaan IDI.

“Kalau diusir, ya saya pergi. Melawan itu kalau diusir tetapi tidak pergi,” tandasnya.
(er)