Wartawan Layak Berterimakasih Pada Prabowo

0
284

Di masa Orla dan Orba, media massa nasional, telah mampu menempatkan diri sebagai pilar berkembangnya demokrasi di Indonesia.

Mesti untuk menegakkan idealisme, banyak di antaranya yang menjadi tumbal kekejaman rezim. Beberapa media massa yang sahur waktu itu,, dibredel paksa oleh rezim. Dan mati.

Memasuki era reformasi, media diuntungkan oleh euforia di semua lini, dan tumbuh melebihi jamur di musim hujan. Sebagian besar diantaranya kemudian tumbuh sebagai industri yang ditopang oleh modal yang besar. Media-media ideal tersingkir dengan sendirinya. Akibatnya hegemoni kekuatan modal terhadap dunia jurnalistik tidak dapat dihindari.

Para pekerja di dunia jurnalistik juga bergeser, tidak lagi berasal dari kaum idealis. Profesi wartawan hanya sebagai lahan untuk mencari kerja dan mempertahankan diri untuk sekedar hidup. Gelar wartawan amplop sudah dianggap biasa dan wajar adanya. Sangat memprihatinkan.

Pada dekade terakhir perkembangan pers nasional lebih menyedihkan. Karena hegemoni kekuatan modal itu, bergumul menjadi satu dengan kekuasaan. Media benar-benar telah menjadi alat kekuasaan para pemodal.

Kondisi ini pada awalnya masih dapat dipahami. Namun kejadian tidak diliputnya peristiwa yang melibatkan jutaan orang dalam Reuni 212, oleh hampir seluruh media meanstream merupakan puncak runtuhnya dunia pers nasional. Sebuah tindakan yang oleh wartawan Senior, Hersu, disebut sebagai bunuh diri pers nasional. Tindakan konyol yang dilakukan kaum terdidik.

Beruntung dalam kondisi itu muncul suara keras Prabowo, yang memberikan peringatan dengan lantang. Bahkan ia menyerukan baikot, agar para jurnalis tersentak, dan segala sadar diri. Sebagai tokoh bangsa tentu Prabowo prihatin agar dunia pers tidak semakin tenggelam ditinggalkan semua orang.

Dengan peringatan keras Prabowo itu, selayaknya pers berterima kasih pada Prabowo. Semestinya para jurnalis segera membuat perlawanan. Mengembalikan lagi idealisme pers nasional sebagai salah satu kekuatan dan pilar civil society di Indonesia.

Jangan malah picik menyalahkan sikap Prabowo. Karena perkataan Prabowo hari ini adalah senjata kaum reformis dan pers di masa depan.

Karena sekiranya dia berkuasa dan memberangus media seperti yang dilakukan Jokowi hari ini, kita bisa menyumpal mulutnya dengan ludahnya sendiri. Catat itu.

Tetapi hal demikian hanya bisa dilakukan jika pers hari ini segera merubah diri, bertindak ideal, independen dan berimbang. Jika tidak pada saatnya, para wartawan harus rela menjejali mulutnya dengan ludahnya sendiri, yang sudah terlanjur busuk.

Penulis : Mochammad Sa’dun Masyhur. Alumnus Megister Perencanaan dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia