Warga Laporkan TPS Ilegal, Pengelola Terancam Pidana

0
1019

KABUPATEN BEKASI.- Keresahan warga terhadap tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal di Kampung Wates, Desa Kedungjaya, Kabupaten Bekasi nampaknya berlanjut pelaporan ke Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Bekasi.

Pada Senin 3 Agustus 2020 sejumlah Warga Desa Kedungjaya mendatangi kantor Dinas LH Kabupaten Bekasi dan diterima langsung oleh Bidang Penegakan Hukum (Gakum).

Ijay Jaelani salah satu perwakilan warga Desa Kedungjaya mengatakan, gerakan warga ini merupakan reaksi keras atas pencemaran lingkungan. Maka, sudah seharusnya para pelaku pengelola TPS ilegal bertanggungjawab atas pencemaran lingkungan yang sudah dilakukan.

“Jelas ditegaskan dalam Undang – undang bahwa pengelola sampah yang merugikan masyarakat dapat dipidana,” cetus Ijay kepada inapos.com, Selasa (4/8/20).

Ia menyebut, dalam Undang-undang tentang Pengelolaan Sampah BAB XV Ketentuan Pidana Pasal 40 ayat (1). Pengolahan sampah yang secara melayan hukum dan dengan sengaja melakukan kegiatan pengelolaan sampah dangan tidak memerhatikan norma, standar, prosedur, atau kriteria yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat, gangguan keamanan, dan/atau perusakan lingkungan diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan palimg lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

“Undang – undang harus ditegakan dan pelaku harus mendapat efek jera,” tegasnya.

 

Baca Juga : https://inapos.com/tps-ilegal-keluarkan-bau-busuk-warga-desak-dinas-lingkungan-hidup-ambil-tindakan-tegas/

 

Pantauan Inapos.com, dalam waktu bersamaan, ratusan warga mendatangi kantor Desa Kedungjaya meminta agar TPS tersebut segera ditutup.

Disela aksi spontanitas warga di kantor Desa Kedungjaya, Erwin Mahendra salah satu warga yang keras menolak adanya TPS ilegal dilingkungannya mengaku sudah menyampaikan aspirasi warga kepada BPD Kedungjaya pada dua bulan lalu. Namun, tak kunjung mendapat jawaban hingga akhirnya warga bereaksi.

“Pengelola dan pelaku pembuang sampah akhirnya dijemput aparat desa dan membuat pernyataan tidak membuang sampah disitu lagi,” terangnya.

“Meski sudah ada pernyataan, para pelaku tersebut harus mendapat efek jera,” imbuhnya.

Sebelumnya, Syarifudin yang akrab disapa Kake disebut – sebut oleh pengelola TPS ilegal bahwa turut membuang sampah, namun ia membantah lahan yang dimilikinya dijadikan TPS ilegal.

“Betul saya juga buang sampah, tapi saya hanya bertujuan untuk mengurug lahan saya yang hanya seluas 200 meter. Saya tidak menjadikan lahan saya bisnis TPS ilegal. Sejak sebelum lebaran kemaren juga saya sudah stop buang kesitu, kalau sudah ada uang ingin saya urug dengan limbah coran dan saya bangun rumah,” kata Kake.

Pria yang turut hadir dan membuat pernyataan di kantor Desa Kedungjaya ini juga menegaskan bahwa yang menjadikan lahan pengairan sebagai bisnis TPS ilegal bukan dirinya, melainkan pria yang bernama Pandi.

“Saya juga sangat tidak terima saat si Pandi menyebut nama saya sebagai salah satu orang yang buang sampah, dan saya akan mengklarifikasi hal ini agar mengembalikan nama baik saya,” tutup Kake. (Fery)