Tsunami Selat Sunda Tidak Terdeteksi

0
453

JAKARTA,- Tsunami yang terjadi di Selat Sunda, menerjang Lampung dan Banten merupakan kekuatan tsunami besar dan menyebabkan hotel serta bangunan dekat pantai hancur.

Sutopo Purwo Nugroho, kepala pusat data dan informasi serta Humas BNPB kepada media menyampaikan tinggi gelombang tsunami bervariasi.

“Berdasar laporan di lapangan sekitar 2-3 meter. Landaan tsunami ke daratan berbeda-beda tergantung kontur pantai,” jelas Sutopo pada media di Group Whatsapp Medkom Bencana, Minggu (23/12/2018).

Tidak adanya peringatan dini, menurutnya kejadian ini tidak ada tanda-tanda akan terjadi tsunami.

“Ditambah kondisi gelap karena kejadian malam menyebakan korban banyak akibat terjangan tsunami. Kita tidak memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dipicu oleh longsor bawah laut dan erupsi gunungapi sehingga tidak mampu mendeteksi dan memberikan peringatan dini tsunami. Yang kita miliki (BMKG) adalah peringatan dini berbasis gempabumi sebagai pemicunya,” paparnya.

Sistem peringatan dini tsunami akibat gempa nampu memberikan warning kurang dari 5 menit setelah kejadian gempa.

“Ini jadi tantangan ke depan untuk mengembangkan peringatan dini tsunami akibat longsor bawah laut dan erupsi gunungapi. Tentu BMKG dan PVMBG dapat berkolaborasi didukung kelompok atau lembaga lain,” tambahnya pula.

Saat ditanyakan jika melihat kekhususan tsunami di Selat Sunda dan jejak sejarah tsunami karena Gunung Krakatau, mengapa dari pemerintah belum pernah ada usulan pendeteksi seperti itu. Padahal, PVMBG pernah mengeluarkan kajian “Tsunamigenik di Selat Sunda” pada tahun 2008.

Sutopo menyarankan agar ditanyakan langsung ke BMKG.

“BMKG sebagai institusi yang berwenang memberikan info tsunami. Juga ke PVMBG sebagai institusi leading sector soal kegunungapian,” tutup Sutopo.