Tragedi Ratusan Orang Meninggal, Tumbal Demokrasi

0
157
oppo_0

INAPOS, JAKARTA,- Terkait ratusan anggota KPPS dan penyelenggara pemilu 2019 yang meninggal, Aktivis HAM, Natalius Pigai menegaskan kematian tersebut adalah adalah bentuk anomali demokrasi. Menurutnya, kematian anggota KPPS di Pemilu 2019 merupakan perstiwa ironis untuk sebuah negara demokrasi seperti Indonesia.

“Kematian angggota KPPS dan penyelenggara pemilu adalah anomali demokrasi. Pemilu 2019 telah menjadi etalase kematian,” kata Natalius Pigai dalam sebuah diskusi bertajuk Tumbal Demokrasi, di Balik Tragedi Kematian 555 Orang di Cemara Hotel, Jakarta Pusat, Minggu (12/5/2019).

Dia mengatakan, seharusnya dari awal penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu harus memegang kuat-kuat prinsip HAM yakni hak untuk hidup karena itu telah menjadi ketentuan internaisonal.

“Hak untuk hidup adalah hak tertinggi (supreme of human rights) yang pemenuhannya tidak dapat dikurangi sedikitpun kendati negara dalam kondisi darurat,” paparnya.

“Negara, dalam hal ini KPU Indonesia memiliki kewajiban tertinggi untuk mencegah adanya peristiwa yang menyebabkan hilangnya nyawa orang,” tambah dia.

Terlebih, tambah Pigai, Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 sudah pernah ada kejadian serupa meski tak sebesar tragedi kematian di Pemilu 2019.

“Kesalahan penyelenggara pemilu tidak mengambil pelajaran dan antisipasi karena pada Pemilu 2004 dan Pemilu 2009 sudah pernah kejadian. Kemudian, KPU juga tidak menyediakan paramedis di tiap-tiap KPPS,” ujarnya.

“Artinya, kejadian seperti ini sudah berulang karena pernah terjadi pada pemilu sebelum-sebelumnya,” sambung tokoh HAM asal Papua ini. (red)


Komentar Anda?