Tradisi Selametan Bubur Sura di Keraton Kanoman Cirebon

0
149

KOTA CIREBON.- Bulan Sura atau Muharram merupakan salah satu bulan yang banyak mengandung kemuliaan, keutamaan dan mistisme dalam tradisi Islam di Indonesia khususnya di Keraton Kanoman Cirebon.

Sebagai bulan pertama dalam mengawali tahun baru baik tahun baru Islam dan tahun baru Saka Aboge Keraton, bulan Suro menjadi waktu khusus dilakukanya acara-acara ritual yang erat kaitanya dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam dan kosmologi dalam hitungan weton dan primbon.

Tepatnya pada tanggal 10 Sura, Keraton Kanoman senantiasa melakukan acara ritual selametan bubur Sura di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon, Sabtu (29/8/20).

Juru Bicara Kersultanan Kanoman Ratu Raja Arimbi Nurtina mengatakan, acara ritual selametan bubur Sura ini sudah dilakukan sejak masa Sunan Gunung Jati (Wali Sanga) dan sudah teruji oleh lintasan zaman dan peradaban.

“Untuk itulah, Keraton Kanoman sebagai pewaris tahta dan tradisi ritual suci peringatan hari besar Islam yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati tetap konsisten dan konsekwen melakukan apa yang telah dilakukan oleh leluhur (Sunan Gunung Jati),” ujar Arimbi.

Dijelaskan Arimbi, Acara ritual bubur Sura yang dilakukan setiap tanggal 10 Sura ini tidak lepas dari peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam antara lain, Taubatnya Nabi Adam AS kepada Allah,  Berlabuhnya  kapal  Nabi  Nuh  AS,  selamatnya  Nabi  Ibrahim  AS  dari  api  hukuman  Raja Namrud, Nabi Yusuf AS dibebaskan dari penjara, Nabi Ayyub disembuhkan dari penyakit, Nabi Musa  dan  umatnya  diselamatkan  dari  kejaran  Fir’aun  terjadi  pada  bulan  asyura,  sampai  pada terbunuhnya Sayyidina Husen bin Ali (cucunda Nabi Muhammad SAW) terjadi tepat pada tanggal 10 Sura.

“Peristiwa bersejarah ini kemudian diperingati dalam sebuah tradisi yang disebut Bubur Sura oleh para walisanga khususnya Sunan Gunung Jati, kemudian diteruskan oleh kami (keluarga besar Kesultanan Kanoman) sebagai pewaris tradisi dan anak cucunya,” jelasnya.

Selain itu, sambung dia, peringatan asyura juga mempunyai keutamaan untuk belajar mengeluarkan shodaqoh seperti tanaman hasil bumi atau suro pendeman, seperti; kacang-kacangan, umbi-umbian, kelapa, buah-buahan  menjadi  bahan  pokok pembuatan bubur suro.

“Semua bahan tersebut adalah swadaya dari masyarakat yang mereka punya untuk bahan-bahan pembuatan bubur suro. Sebagai penanda dibikinlah Bubur Sura, yang terdiri dari:
Bubur beras : Beras, air, kelapa parud, salam, sereh, klungsu, pisang saba ½ mateng, tales, uwi, garam. Santen kelapa : Kelapa parud, air, daun pandan dan garam,” urainya.

Sedangkan untuk lauk pauknya antara lain yakni,
sambel goreng, dendeng daging sapi suwir, dadar sisir, dendeng daging ayam, kelapa sisir goreng suwir, kacang tanah goreng, ikan asin jambal asep, kacang gendolo goreng, ikan asin ebi,
Buah delima pretel, oso (srundeng kuning),
buah jeruk gede suwir, bawang goreng, timun sisir, tempe goreng, cabe merah sisir, bergedel,
daun kemangi,” imbuhnya.

Arimbi menambahkan, Bubur Suro dan lauk-pauknya disajikan dalam sebuah takir,  yaitu wadah yang terbuat dari daun pisang klutuk berbentuk perahu sebagai pengingat Bahtera Nabi Nuh.

Selametan Bubur Sura di pimpin oleh Sultan atau Patih sebagai wakil Sultan, dengan diiringi para family, Penghulu, Mager Sari, Abdi Dalem dan masyarakat umum.

Acara ini diawali dengan prosesi masak-masak oleh rombongan abdi dalem Panca Pitu, kemudian prosesi penyajian bubur suro di Bangsal Jinem Keraton Kanoman pukul 08.00 sampai menjelang dzuhur, lalu kemudian persiapan acara ritual dengan berkumpulnya para family Keraton sebari menunggu kedatangan Sultan Raja Muhammad Emirudin, Sultan Kanoman XII atau Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman, lalu kemudian pelaksanaan acara Ritual Selametan  Bubur Sura di Bangsal Paseban Keraton Kanoman Cirebon. (Kris)