Tiga Arsitek Muda Paparkan Konsep Desain MAJT Magelang

0
114

SEMARANG.- Tiga peserta sayembara desain Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Magelang memaparkan konsep arsitektur usulannya di hadapan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kamis (28/5/20).

Sayembara ini digelar untuk menentukan desain MAJT yang akan dibangun Pemprov Jateng di Magelang.

Ketiganya merupakan grandfinalis yang tersaring dari 53 peserta, yang telah mengirimkan karyanya kepada panitia. Ketiga calon juara itu adalah peserta dengan kode pengiriman MAJT 012 (Bandung), MAJT 082 (Malang), dan MAJT 062 (Yogyakarta).

Peserta asal Yogyakarta memaparkan konsep desain MAJT versinya secara langsung di hadapan Gubernur Ganjar. Dia membuat masjid berdesain joglo, rumah adat khas Jawa Tengah. Namun bentuk joglo tersebut terbelah menjadi dua.

“Tema yang kami usung selain masjid sebagai tempat ibadah yang Islami, juga mengusung kebudayaan Jawa Tengah. Kami mengedepankan itu, dan saat ada orang melintas di depannya atau masuk ke dalamnya, mereka bisa merasakan ini Jawa Tengah banget,” kata Made Oka Handara, tim arsitek dari Yogyakarta.

Adapun peserta asal Bandung, yang memaparkan konsep desainnya kepada Ganjar secara virtual, menerangkan bahwa desain masjid versinya menggunakan atap khas Jawa berupa tajug. Atap didesain melengkung lengkap dengan interior dan eksterior khas Jawa Tengah.

“Berbagai material yang digunakan juga menggunakan material lokal, seperti batu candi dan lainnya. Bentuknya saya mengadopsi penuh dengan kearifan lokal di Jawa Tengah,” kata Ade.

Hal senada disampaikan peserta asal Malang, Rahardian Prajudi. Mengusung tema Gunungan Jroning Pakuning Tanah Jawi, Rahardian membuat desain MAJT yang terinspirasi dari Gunung Tidar.

“Gunung Tidar itu ada di Magelang dan merupakan Pakuning Tanah Jawi. Jadi, desain saya buat mirip dengan gunungan agar bisa menggambarkan kuatnya budaya Jawa,” terang Rahardian.

Tak hanya sebagai tempat ibadah, ketiga peserta juga mendesain MAJT Magelang sebagai tempat wisata religi, ekonomi dan lainnya.

Desain masjid yang mereka usulkan dilengkapi dengan plaza dan tempat untuk aktivitas jual beli, aula, perpustakaan dan lain sebagainya. Tentunya, para peserta juga tak hanya mengedepankan keindahan, tapi juga fungsi dan manfaat serta mengutamakan faktor lain seperti bencana dan aksesibilitas

Seusai menyimak presentasi ketiganya, Ganjar mengaku bingung ketika harus memilih desain yang terbaik. Ia pun memberikan keputusan sepenuhnya kepada dewan juri.

“Kami ingin seluruh bangunan yang ada itu designnya menarik. Kemenarikannya ini tidak dari kaca mata kita, tapi kita libatkan partisipasi masyarakat. Di luar dugaan, setelah disayembarakan hasilnya bagus-bagus,” ujar Ganjar.

Yang membuatnya bangga, dari ketiga peserta yang menjadi finalis sayembara merupakan para arsitek muda. Artinya, harapan Indonesia untuk mengerjakan sendiri bangunan-bangunan hebat bisa dilakukan.

“Ini membuktikan bahwa kita bisa membuat desain yang sangat bagus sendiri. Arsitek kita banyak yang hebat-hebat,” tandas Ganjar.

Nantinya, satu desain terbaik akan dibangun menjadi MAJT Magelang, tentunya setelah proses penyusunan detail engineering design (DED).

“Mudah-mudahan bisa mulai dikerjakan tahun depan. Ini sekaligus untuk merangsang dan mendorong kembali ekonomi bisa bergulir,” tutup Ganjar. (RS)