Tanri Abeng: Pertumbuhan Ekonomi Kita Masih Eksklusif

0
421

JAKARTA, INAPOS – Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Indonesia pada Kabinet Reformasi Pembangunan,  Tanri Abeng mengatakan ada 56 juta lebih UMKM di Indonesia yang menyediakan lapangan tenaga kerja 107 juta tidak memiliki sumber pendanaan.

“Sebanyak 96 %  UMKM tidak mempunyai sumber pendanaan. Jadi apa yang terjadi? Pertumbuhan ekonomi kita itu eksklusif.  Dinikmati oleh aktor-aktor ekonomi besar dan oleh karenanya mereka menjadi sumber daripada apa yang disebut Purchasing Power,”kata pria kelahiran Pulau Selayar, Sulawesi Selatan ini di sela-sela acara “Konferensi Diskusi Nasional Kedaulatan Pangan ” di Kampus UIN Syarif Hidayatullah  Ciputat, Selasa ( 4/12/2018).

Aktor – aktor ekonomi besar dengan daya beli itulah yang mendobrak peningkatan ekonomi kita. Tetapi yang  sektor usaha di bawah (UMKM) tidak naik.  Karena yang di bawah tidak naik, maka potensi yang begitu besar, seperti sektor pangan, sektor perkebunan, kelautan  menjadi tidak berdaya.

“Jadi karena pertumbuhan ekonomi kita masih eksklusif di atas, maka kita tidak  bisa membangun pertumbuhan ekonomi yang berbasis kekayaan alam,  kekayaan manusia kita. Masyarakat kita kan semua itu di daerah kan? Ini tidak diberdayakan,”ujar Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) ini.

“Kenapa tidak diberdayakan? Petani yang lahannya hanya setengah hektar, mana mungkin dia pergi ke pasar.Mana mungkin dia bisa dapat “duit”. Tidak bisa. Maka saya punya konsep yang saya namakan badan usaha milik rakyat . Itu bagaimana mengkorporasikan usaha-usaha mikro kecil ini. Bahkan koperasi menjadi kelompok yang besar, sektor pangan, sektor laut , sektor kebun . Sehingga kalau dia sudah besar, maka dia punya daya untuk bisa memperoleh pendanaan. Dia punya daya untuk bisa akses ke pasar,”papar pemilik Universitas Tanri Abeng ini.

“Kalau yang punya  1 (satu )hektar, dia kepasar mungkin dibelinya 20 % di bawah harga pasar.  Tapi  kalau dari 1 (satu) koorporasi digabungkan mereka ini semua, maka dia harus beli dengan harga pasar. Dan itu lalu menjadi keberuntungan dari semua. Tidak lagi hanya yang besar (BUMN) itu saja,”jelas nya.

Bila hal di atas dilakukan, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak saja hanya karena industri besar (BUMN), tetapi  sudah berbasis kepada sumber-sumber daya alam, seperti sektor perkebunan, sektor pertanian, sektor kelautan, dan sektor kerajinan.

“Itu semua akan tumbuh . Ini akan mendobrak ekonomi kita secara inklusif. Jadi termasuk yang kecil-kecil ini. Inilah yang saya namakan ekonomi yang berbasis kepada pertumbuhan inklusif. Tidak lagi pertumbuhan hanya eksklusif, tetapi ini membutuhkan politik ekonomi ,”tambah Tanri.

Menurut  dia, hanya pemerintah yang bisa mengeluarkan politik ekonomi tersebut, yang mengatakan : “Eh,  usaha kecil dan menengah itu saya harus sediakan sumber pendanaan asal mereka mengelola dengan baik. Ada strukturnya yang saya namakan BUMN. Ada manajemennya. Sediakanlah dana. Kalau tersedia dana, kemudian mereka-mereka ini  yang pengelola usaha badan milik rakyat ini kita latih. Sudah ada pelatihannya di sekolah saya.”

“Kalau itu kita latih, maka teman-temannya di daerah yang biasanya hijrah ke kota, mereka tinggal aja di daerah . Punya pendapatan bagus kok. Ya kan? Ini kebijakan politik ekonomi. Kalau ini tidak dilakukan, saya kira berbahaya terhadap kesenjangan,”pungkas  mantan CEO Bakrie & Brothers ini.(red)