Tangkal Radikalisme, Ganjar : Paling Bagus dengan Seni dan Budaya

0
81

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menjadi pembicara kunci dalam webinar “Penguatan Keluarga untuk Keluarga Berdaya Menangkal Radikalisme” yang diselenggarakan oleh Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah dan Tim Penggerak (TP) PKK Jawa Tengah, Rabu (14/4/21).

Ia mengatakan, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menangkal radikalisme, antara lain secara preventif dan kuratif.

Ganjar menjelaskan, langkah preventif dilakukan dengan menanamkan jiwa nasionalisme, berpikiran terbuka dan toleran, serta waspada terhadap provokasi dan hasutan. Selain itu, masyarakat juga perlu selektif dalam berjejaring, memilih komunitas yang positif dan menjaga perdamaian serta menjalankan aktivitas keagamaan dengan toleran.

Dalam sambutannya ia menekankan tentang pentingnya siswa untuk aktif dalam kegiatan seni dan budaya, salah satunya melalui permainan tradisional. Kegiatan itu dinilai mampu menangkal radikalisme. Pada permainan itu, mereka dapat belajar tentang nilai keterbukaan satu sama lain, kepemimpinan, kerjasama dan nilai penting lainnya.

“Paling bagus sebenarnya (mencegah paham radikal) dengan seni dan budaya. Pelajar bisa menari, main ketoprak, wayang, dolanan. Itu mengakrabkan, berhubungan, terbuka, ada teamwork (kerja sama tim), leadership (kepemimpinan). Gobak sodor,ada (nilai) leadership,” ujar Ganjar.

Upaya menangkal radikalisme juga perlu dilakukan secara kuratif, yakni dengan memberikan pemahaman bahaya dan dampak radikalisme, serta memberi pemahaman tentang ajaran agama yang benar. Nasionalisme, toleransi dan perdamaian juga harus diperkuat.

“Perdamaian, perdamaian, ada lagunya, lho,” celetuk Ganjar dengan jenaka.

Pada era digital ini, sikap bijak bermedia sosial juga sangat dibutuhkan, khususnya dalam menanggapi ujaran kebencian yang ‘melenceng’ dari etika dan mengundang perpecahan bangsa.

”Kalau di medsos ada yang serem (ujaran kebencian), kita beri contoh yang baik,” sambungnya.

Konten-konten mengandung paham radikal semacam itu,yang bersliweran di media sosial, menurut Ganjar, cenderung dilakukan oleh kelompok tertentu atau sekelompok kecil orang, yang merasa pihaknya paling benar dan gemar menyalahkan pihak lain.

“Ciri radikal itu fanatik, menganggap diri benar, yang lain salah, intoleran, tidak mau menerima perbedaan dan keyakinan orang lain, revolusioner ingin ada perubahan secara drastis. Tidak jarang ada (juga dengan) kekerasan,(mereka) ekslusif atau memisahkan diri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Siti Atikoh Ganjar Pranowo menyampaikan, peran orang tua sangat penting dalam upaya untuk mewaspadai dan menangkal pengaruh radikalisme . Selain menjadikan keluarga sebagai tempat yang nyaman bagi anak, orang tua juga harus mengenalkan anak pada sikap dan ajaran yang benar.

“(Pengawasan orang tua sangat penting).Sehingga deteksi dini (pengaruh radikalisme)bisa lebih cepat dilakukan,” ujarnya.

Siti Atikoh mengatakan, besarnya pengaruh lingkungan dan gawai pada anak, mengharuskan orang tua mengawasi dengan baik pergaulan dan aktifitas anak dalam menggunakan gawai. Ia meminta para orang tua ikut mendampingi anak saat anak mengoperasikan gawai. Dari gawai inilah biasanya berbagai informasi datang, yang tidak selalu sesuai dan baik bagi anak. Hal itu sangat berbahaya, karena anak-anak belum bisa memilah informasi dengan bijaksana.

“Orang tua juga mendampingi saat anak memainkan gadget juga. Karena kita tidak tahu, anak kita browsing apa sejak pakai gadget. Supaya, anak-anak bisa memilih yang positif,” pungkas Atikoh. (Er)