Sunda = Nusantara

0
325

JAKARTA,- Sunda Besar (Greater Sunda) dan Sunda Kecil (Lesser Sunda) merupakan pelajaran yang kita terima pada pembelajaran ilmu Geografi (Ilmu Bumi). Sunda adalah sebuah kepulauan.

Sunda Besar meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan Sunda Kecil meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Gabungan dari kedua Sunda ini pada zaman dahulu dinamakan kepulauan Sunda (Sunda Islands), dan bahkan hingga saat ini saat kita mencari di mesin pencari internet tentang peta kuno dumia, akan keluar peta dengan tulisan Sunda Island.

Ini sebuah bukti bahwa pada jaman dahulu kala Indonesia yang sebelumnya bernama Nusantara ini disebut Sunda.

Menurut Prof Dr drs Edi Suhardi Ekadjati, dalam pidato pengukuhan
dirinya selaku Guru Besar Ilmu Sejarah di Universitas Padjadjaran,
Bandung. Dirinya mengutip buku Atmamihardja (1958: 8), bahwa Ptolemaeus menyebutkan, ada tiga buah pulau yang dinamai Sunda yang terletak di sebelah timur India.

Masih, menurut Edi dalam pidatonya tersebut, berdasarkan informasi itu kemudian ahli-ahli ilmu bumi Eropa menggunakan
kata Sunda untuk menamai wilayah dan beberapa pulau di timur India.

Dari penelurusan kepustakaan, katanya, kata Sunda seperti dikatakan Rouffaer (1905: 16), merupakan pinjaman kata dari kebudayaan Hindu seperti juga kata-kata Sumatera, Madura, Bali, Sumbawa yang semuanya menunjukkan nama tempat.

Kata Sunda sendiri, menurut Edi, kemungkinan berasal dari akar kata “sund” atau kata “suddha” dalam bahasa Sanskerta yang mengandung makna: bersinar, terang, putih (Williams, 1872: 1128, Eringa 1949: 289). Dalam bahasa Jawa kuna (Kawi) dan bahasa Bali pun terdapat kata “Sunda” dengan pengertian bersih, suci, murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, waspada (Mardiwarsito, 1990: 569-57, Anandakusuma, 1986: 185-186; Winter, 1928:
219).

“Menurut ahli geologi Belanda RW van Bemmelen, mengatakan, Sunda adalah suatu istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut India Timur, sedangkan dataran bagian tenggaranya dinamai Sahul, ujar Edi saat itu.

Dataran Sunda dikelilingi sistem Gunung Sunda yang melingkar
(circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekitar 7000 km.

Masih menurut Edi, dataran Sunda terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian utara, meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Pasifik bagian barat, serta bagian selatan yang terbentang dari barat sampai ke timur mulai Lembah Brahmaputera di Assam (India) hingga Maluku bagian selatan.

“Dataran Sunda itu bersambung dengan kawasan sistem Gunung Himalaya di barat dan dataran Sahul di timur,” kata Edi yang mengedepankan pendapat van Bemmelen (1949: 2-3).

Selanjutnya, sejumlah pulau yang kemudian terbentuk di dataran Sunda diberi nama dengan menggunakan istilah Sunda pula yakni Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil.

Kepulauan Sunda Besar ialah himpunan pulau besar yang terdiri dari
Sumatera, Jawa, Madura dan Kalimantan. Sedangkan Sunda Kecil merupakan gugusan pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor (Bemmelen, 1949:15-16).

Mengutip Gonda (1973:345-346), Edi mengatakan, pada mulanya kata “suddha” dalam bahasa Sansekerta diterapkan pada nama sebuah gunung yang menjulang tinggi di bagian barat Pulau Jawa yang dari jauh tampak putih karena tertutup abu asal gunung tersebut.

Gunung Sunda itu terletak di bagian barat Gunung Tangkuban Parahu. Kemudian nama tersebut diterapkan pula pada wilayah gunung itu berada dan penduduknya.

Mungkin sekali, menurut Edi bahwa pemberian nama Sunda bagi wilayah bagian barat Pulau Jawa itu diilhami oleh sebuah kota dan atau kerajaan di India yang terletak di pesisir barat India antara kota Goa dan Karwar (ENI, IV, 1921:14-15).

“Selanjutnya, Sunda dijadikan nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa yang beribukota di Pakuan Pajajaran, sekitar kota Bogor sekarang. Kerajaan Sunda itu telah diketahui berdiri pada abad ke-7 Masehi dan berakhir pada tahun 1579 Masehi,” katanya, mengutip buku Danasasmita dkk, III, 1984:1-27 dan Djajadiningrat, 1913:75.

Setelah keruntuhan Kerajaan Sunda, eksistensi dan peranan Sunda tidak lagi menonjol di daerahnya sendiri, apalagi di wilayah Nusantara, baik dalam hubungan geografis, sosial, politik maupun kebudayaan.

Keadaan seperti itu berlangsung sekitar tiga abad hingga awal abad ke-20 Masehi, karena pengaruh kekuasaan dari luar yaitu kekuasaan dan kebudayaan Islam, Jawa, Eropa (terutama Belanda).

“Di antara pengaruh-pengaruh luar itu yang paling melekat dan meresap ke dalam masyarakat Sunda adalah Islam, baru kemudian Jawa dan selanjutnya Eropa,” kata Edi.

Paguyuban Pasundan

Identitas Sunda muncul lagi awal abad ke-20 dengan lahirnya Paguyuban Pasundan (1914), yaitu suatu perkumpulan yang berorientasi pada sosial budaya Sunda, setelah melewati proses kebangkitan bahasa dan sastra Sunda sejak pertengahan abad ke-19.

Usul tersebut disetujui pemerintah kolonial sehingga ketetapan pembentukan provinsi tersebut antara lain berbunyi, ” Jawa Barat, dalam bahasa orang pribumi (bahasa Sunda) menunjuk sebagai Pasundan”. Dalam perjalanan sejarah, Paguyuban Pasundan antara lain sejak 1918 berintegrasi dengan aktivitas kaum pergerakan nasional yang menuntut kemerdekaan, bebas dari penjajah.

Penduduk Indonesia’ menurut versi pada tahun 1719

Pada atlas yang dibuat oleh Giacomo de Rossi pada tahun 1683, kawasan Nusantara ini disebut dengan ’Isole della Sonda’ (kepulauan Sunda). Ada juga peta kuno yang terbuat dari perunggu yang digrafir (engraved copper) tahun 1719 buatan Jerman yang dinamakan ’Die Inseln von Sonte’ (perhatikan cara mengeja orang Barat yang menuliskannya dengan ’sonda’ atau ’sonte’). Bahkan ditemukan juga gambar ’penduduk Indonesia’ menurut versi mereka pada tahun 1719 itu yang diberi judul ’Habitans des Isles dela Sonde’ (penduduk kepulauan Sunda).

Selama masa penjajahan Belanda, wilayah negara kita dinamakan dengan ’Nederlands Indie’ (Hindia Belanda), namun tercatat pada tahun 1850 seorang antropolog Inggris bernama J.R. Logan memberi nama tanah air kita dengan Indonesia.

Penulis : Cecep Supradin.


Komentar Anda?