Sunda adalah Keindahan Alam dan Keluruhan Budi Bertemu

0
1526

Penulis : Mohammad Fathi Royyani (Peneliti Etnobotani, Pusat Penelitian Biologi LIPI)

Masyarakat sunda merupakan masyarakat yang benyak memiliki ciri khas. Namun sebagai identitas etnis, orang Sunda “terbentuk” belum lama. yakni setelah perang bubat yang melibatkan Majapahit dan Galuh.

Sebelum era itu, masyarakat Sunda lebih dikenal dengan sebutan kerajaannya. umum pada masa itu. Perang Bubat adalah salah satu contoh nyata politik ‘belah bambu‘ dan “adu domba” yang dilakukan oleh kolonial terhadap masyarakat Nusantara. Dampaknya. antara masyarakat Sunda dan Jawa terbelah dan seolah saling bermusuhan. Padahal sebelumnya masih satu rumpun.

Membatasi masyarakat Sunda dengan batas-batas geografis semata tidaklah tepat. karena sejak lama masyarakat sunda sudah menyebar ke berbagai pelosok negeri, bahkan luar negeri. Mereka tentu masih mengidentifikasi dirinya sebagai masyarakat sunda. Masyarakat sunda sudah lama berinteraksi dengan etnis. Diantara hasil interaksi adalah pengetahuan-pengetahuan, baik dalam relasi sosial maupun relasinya dengan alam.

Masyarakat Sunda, sama juga dengan masyarakat Jawa, memiliki akar sejarah yang kuat dan penuh dengan cerita-cerita bernilai filosofi tinggi. Akar sejarah ini yang membentuk identitas masyarakat. Sebagian entitas, masyarakat Sunda telah lama berinteraksi dengan alam. Pengalaman panjang ini menjadi modal bagi generasi setelahnya untuk mengikuti jejak langkah para pendahulunya. Dari sini pengetahuan terbentuk dan diwariskan.

Orang orang dulu, di semua daerah di Nusantara, dalam menjaga pengetetahuan melalui tiga lapis. Pertama melalui cerita cerita tutur, baik berbentuk legenda. mitos, cerita rakyat. wawacan atau bentuk bentuk lainnya yang serupa. Cara kedua adalah melalui naskah naskah, baik yang ditulis di atas batu, daun lontar, daun deluang atau media media lainnya. Dan cara ketiga adalah yang disebut dengan living document atau dokumen hidup yang masih terus dipraktekkan dari zaman dahulu sampai sekarang.

Dayang Sumbi: Apakah Hanya suatu Cerita?

Untuk cerita. masyarakat sunda sebagian masih merawat cerita tersebut tetapi sebagian mungkin sudah melupakannya. Padahal, apabila kita renungkan cerita tersebut berkaitan erat dengan norma-norma kehidupan yang seimbang. Sebagai contoh saya intisarikan cerita mengenai mengenai Dayang Sumbi dan awal mula terbentuknya Tangkuban Perahu.

Cerita ini jika kita dalami bermakna sangat dalam terkait dengan hubungan manusia dan alam. Dayang Sumbi, sebagai ibu adalah gambaran atau personifikasi dari bumi. Digambarkan Dayang Sumbi sangat cantik jelita sehingga banyak raja yang tertarik dan saling berperang untuk memperebutkannya. Situmang (Rasi. Ratu, Rama, Hyang atau

Ulama, Penguasa, Pengetahuan) atau anjing penjaga adalah siloka dari aturan-aturan. norma, ulama, pejabat yang bertugas untuk menjaga Ibu Pertiwi. Sedangkan

Sangkuriang adalah anak kandung dari Ibu Dayang Sumbi dan Situmang. Sangkuriang adalah personifikasi dari makhluk yang disebut manusia. Ia mustinya menjaga keberadaan ibunya. Namun karena kecantikan dari Ibu Dayang Sumbi, Sangkuriang pun ingin menikahinya.

Apakah tafsir kisah tersebut hanya satu? Tentu tidak, kita bisa menafsirkan sesuai dengan kapasitas kita. Ada ilmuwan yang terinspirasi atas kisah tersebut. Ilmuwan ini membayangkan kecantikan dari Dayang Sumbi, lalu ia berpikir mengenai makanan yang dimakan oleh Dayang Sumbi. Tentu memiliki kandungan yang baik dan bisa menjaga kecantikan. Ia pun melakukan riset dan menemukan strain DNA untuk tumbuhan-tumbuhan budidaya supaya aman dari penyakit.

Kerajaan: Jejak Pengetahuan

Setelah era yang sangat klasik tersebut. kita melompat pada era kerajaan. Di Sunda dikenal ada Kerajaan Salaka Nagara. Tarumanegara, Galuh dan Pajajaran. Salah satu Raja Tarumanegara yang terkenal adalah Purnawarman (395-434). Pada masanya. berdasarkan prasasti yang ditemui ada dua kebijakan yang perlu diperhatikan. Pertama adalah pemisahan Sungai Gomati dan Chandraboga. Pemisahan ini penting untuk irigasi pertanian. Beliau juga melarang masyarakat untuk membangun pemukiman di rawa rawa. Kebijakan kedua adalah pencarian lokasi lokasi yang sesuai untuk pertanian. Berdasarkan Prasasti di Ciareuteun disebutkan bahwa beliau mengutus orang untuk mencari lahan lahan yang bisa digunakan untuk pertanian.

Setelah era Pajajaran, bangunan fenomenal terkait dengan alam adalah dibangunnya Samida (yang sekarang lokasinya menjadi Kebun Raya Bogor). di tempat tersebut, raja menanamjenis jenis hayati yang penting. terutama kaitannya dengan ritual keagamaan. Kemungkinan sejenis pohon kemenyan yang resinnya bisa digunakan untuk pengawet mayat dan memiliki aroma harum ketika dibakar. Alasan lainnya, pohon ini juga komoditas yang sejak lama sudah diperdagangkan.

Pemilihan lokasi Samida tentu dengan pertimbangan matang. Iklim. topografi, lanskap dan lain sebagainya. Dari adalah semacam masterpiece atau landmark yang akan dilihat pertama kali ketika memasuki wilayah tersebut. Tempat tersebut sangat strategis. sehingga kolonial menjadikan tempat ini sebagai pusat penelitian. Dari tempat ini, kolonial bisa menjangkau area pegunungan atau daratan lainnya.

Naskah Kehidupan: Lembar-Lembar Pengetahuan

Belum lagi kita bicara naskah naskah klasik lainnya yang banyak menyimpan kekayaan pengetahuan orang Sunda. Naskah naskah tersebut masih banyak yang tersimpan di penduduk dan dianggap memiliki nilai sakral yang dikeluarkan saat upacara tradisi digelar. Di kawasan sunda, masih banyak naskah-naskah yang belum tergali kandungan di dalamnya. Berbagai periode sejarah hampir dipastikan memiliki naskah naskah yang menyimpan pengetahuan. Baik mengenai agama. sosial, pengobatan, ritual, dan lain sebagainya.