Soal Keluarga Uno, Tuuuh Kan Bohong Lagi

0
171

Penulis : M. Nigara
Wartawan Senior dan Mantan Wasekjen PWI

BELUM sepuluh menit tulisan saya yang berjudul: *Ini Zaman Pecah Belah* (IZPB) diposting dan dishare di jagad maya, muncul berita bantahan di media online.

*Keluarga Besar Uno Bantah Dukung Jokowi* begitu judul berita di _tempo.co_ (3/3/19). Artinya klaim yang sudah beredar sebelumnya sangat mungkin berita hoax.

_Menurut Yorsrizal Uno, salah satu pengurus Ikatan Keluarga Besar Uno Provinsi Gorontalo, sikap politik mereka adalah mendukung Sandiaga Uno sebagai calon Wakil Presiden yang berpasangan dengan calon presiden Prabowo pada pemilihan Presiden 2019. Karena itu petisi mendukung calon presiden Jokowi yang beredar bukanlah sikap resmi Ikatan Keluarga Besar Uno Provinsi Gorontalo._ Seperti tertulis di T
tempo.co itu.

Pernyataan tegas keluarga besar Uno yang dilontarkan Yosrizal ini, jelas menohok orang atau kelompok orang yang dengan sengaja membuat klaim itu. Jadi, jika dalam tulisan saya (IZPB), menggaris bawahi _patut dapat diduga digunakan untuk kepentingan tertentu_, hampir dapat dibuktikan. Mengapa?

*Bantah*
Simak lagi pernyataan Yosrizal: “Yang menandatangi dalam acara itu hanya 13 orang dan 4 di antaranya masih pelajar SMP,” tegasnya. Keluarga Uno sendiri di Gorontalo berjumlah ribuan. Jadi, bagaimana mungkin 13-4= 9 orang bisa mengklaim yang jumlahnya ribuan? Hehehe, jawabnya tentu harus menggunakan akal sehat bukan akal-akalan.

Sama seperti ketika Prabowo ‘diserang’ lantaran pernyataan Rp 11 ribu triliun kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri. Luar biasa, bukan hanya para pendukung yang berjibaku alias _die hard_ tapi petahana juga langsung menekan. “Kalau memang ada buktinya, serahkan ke pemerintah, maka akan kita kejar,” begitu kata Jokowi seperti sudah viral di media-media online dan media-media _main stream_ yang juga tak malu-malu menjadi pendukungnya.

Tidak hanya itu, ada yang menyebut Prabowo datanya asal-asalan. Bahkan ada yang sampai menyebut lebih rendah dari itu. Pendeknya mereka menggoreng hingga gosong. Tentu maksudnya agar elektabilitas petahana melonjak. Namun maksud hati tidak sesuai dengan kenyataan. Jejak digital ternyata berkata lain. Tanggal 1 Agustus 2016, ternyata Jokowi sudah menyebutkan hal itu, di dalam video itu, ia mengatakan: “Ada dana orang-orang Indonesia di luar negeri Rp 11 ribu triliun. Datanya sudah ada di kantongan saya,” katanya, di JIKSPO, Rabu (1/8/18).

Lho, jadi? Tidak usah bingung. Kita ingat saja, dulu waktu kampanye 2014, lebih gawat lagi. Ada sekitar 60 janji yang faktanya bukan hanya tidak dipenuhi tapi malah bertolak belakang. “Kalau saya terpilih, maka kita tidak akan _ngutang_ lagi. Harusnya kita bisa membantu!” tukasnya. “Kita tidak akan impor pangan lagi!”.
Faktanya? Ya kita nilai sendiri aja deh.

Jadi, saya tidak kaget jika klaim dukungan keluarga Uno di Gorontalo itu ujungnya bisa bertolak belakang. Dan pasti akan dianggap angin lalu saja, meski pada akhirnya orang tahu yang sesungguhnya. Saya tidak ingin mengatakan bahwa bohong itu bagian yang tak terpisahkan. Saya hanya akan mengatakan bahwa berbeda itu biasa. Beda data dan beda fakta. Tapi, saya yakin di kepala kita sama-sama telah merekam apa saja kebohongan yang ada.

Dan kepada sembilan keluarga Uno, ingatlah, tali persaudaraan kalian adalah fakta. Tali persaudaraan kalian adalah bukti. Dan tali persaudaraan itu mulia. Mudah-mudahan mereka tidak seperti anak dan istri nabi Nuh. Karena kepentingan tertentu, mereka tak mau percaya dengan Nuh (keluarganya). Allah tenggelamkan mereka dalam banjir dahsyat.

Ingatlah, keluarga itu penting, tapi sangat penting untuk tidak berbohong. Nauzubillah..


Komentar Anda?