Soal HMI, FSI Soroti Kinerja Polisi

0
317

Inapos, Jakarta.- Terjadinya penganiayaan oleh aparatur Polres Jakarta Pusat saat aksi damai memperingati 20 tahun Reformasi di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin (21/05) lalu.

Panglima Forum Syuhada Indonesia (FSI) Diko Nugroho mengatakan, kami mengutuk keras atas tindakan kekerasan jajaran Polres Jakarta Pusat dari tujuh kader HMI yang diperlakukan secara tidak manusiawi

“Ada dua kader HMI yang terluka cukup parah akibat kekerasan penanganan aksi, kami dapat kabar dari media kapolres menawarkan biaya pengobatan. Kami dari FSI sangat apresiatif jajaran kepolisian datang ke markas HMI Cabang Jakarta di jalan Bunga dan mereka menerima dengan penuh hormat,” ujarnya saat menggelar acara Buka Bersama dan santunan di markas FSI, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (31/05/18).

Namun menurut kami tidak cukup begitu saja, proses pun harus dijalankan untuk para anggota polisi yang bertindak tidak sepantasnya, tambah Diko, FSI menyayangkan anarkisme yang dilakukan aparat kepolisian dalam aksi peringatan 20 tahun Reformasi yang di lakukan oleh kader HMI.

“Dengan kejadian seperti ini  pandangan sikap Forum Syuhada Indonesia mendukung kader HMI Cabang Jakarta untuk harus tetap turun aksi menyuarakan keinginan masyarakat yaitu cabut mandat kepemimpinan Presiden, meskipun Korlap aksi kini masih sakit akibat tendangan aparat polisi ke dadanya yang menyisakan retak 3 rusuknya,” tegasnya.

kader HMI yang kini masih perlu perawatan intensif karena rusuknya retak akibat ditendang aparat. Meskipun begitu rekan mereka akan tetap turun aksi walaupun aparat bertindak anarkis terhadap mereka dan melontarkan pernyataan bohong kepada media. Mereka maknai ini semua sebagai ujian di bulan jihad bulan Ramadhan. Ini adalah sikap perjuangan yang harus terus dilakukan semoga bulan Ramadhan ini menjadi kebaikan setelah 20 tahun reformasi bergilir.

Seminggu lalu, tepatnya 21 Mei 2018, sekelompok kecil mahasiswa yang tergabung di HMI Cabang Jakarta melakukan aksi damai peringatan 20 tahun reformasi di depan istana merdeka Jakarta Pusat. “Aksi itu direspon secara represif oleh pengamanan dari Polres Jakarta Pusat. Para aktivis itu ditendang dadanya ke kawat berduri, dicekik, dan dipukul bagian mukanya oleh aparat kepolisian. Akibatnya dua orang langsung dilarikan ke RSUD Tarakan tak jauh dari lokasi aksi. Hingga kini aktivis mahasiswa masih mengalami sakit akibat aksi anarkis dari kepolisian,” tandasnya.

Kami juga mendesak agar SOP dalam penanganan sebuah aksi massa harus di evaluasi, terlebih para mahasiswa tidak melakukan perusakan hanya membakar ban yang dibawanya. (Elwan)