Situasi Memanas di Gedung LBH Jakarta, Karena PKI Masih Ada

0
248

Inapos, Jakarta.- Sehubungan dengan upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi para pelaku pemberontakan/eks PKI berbentuk Seminar Sejarah 1965 yang bertajuk ‘Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/66’ yang rencanya dilaksanakan pada tanggal 16-17 September 2017. Yang bertempat di Gedung LBH Jakarta, Jalan Dipononegoro no 74 Jakarta Pusat.

Memasuki hari kedua tepat malam tadi pukul 21:30 WIB, sejumlah massa berkumpul di LBH Jakarta untuk membubarkan kegiatan seminar yang dilaksanakan oleh para korban PKI.

Massa yang terdiri dari berbagai elemen semakin malam semakin bertambah, seperti dari Bang Japar, GPII, FPI, LMP, FKPPI dan juga masyarakat lainnya. Kericuhan pecah pukul 01:30 WIB, Senin (18/09/17).

Massa mulai melemparkan batu dan botol ke arah kantor LBH, hal tersebut lantaran pihak kepolisian tidak juga membubarkan ataupun mengevakuasi kegiatan tersebut.

Foto : Terlihat mobil Dum Truck berada di tengah jalan Proklamasi, Jakarta Pusat saat polisi mulai membubarkan massa dengan gas airmata.

Selain itu juga massa membajak 2 mobil Dum Truck yang hendak melintasi Jl Proklamasi, kemudian dipalangkan hingga menutup jalan.

Ketua LMP DKI Jakarta Lucky Sunarya mengatakan, saya dapat berita dari rekan-rekan sesama aktifis, mengatakan masih ada kegiatan seminar PKI didalam Kantor LBH Jakarta. Padahal kemarin kita sudah melakukan aksi menurut Kapolsek Metro Menteng AKBP Ronald A Purba menyampaikan, bahwa sudah tidak ada lagi kegiatan, hal itulah yang membuat kita tenang hingga akhirnya membubarkan diri kemarin (16/09).

“Tapi nyatanya hari ini tetap dilaksanakan, saya juga tidak tahu apa maksud dari pihak kepolisian, seharusnya dengan situasi dan kondisi seperti ini, pihak aparat seharusnya memberi ketenangan bagi pihak masyarakat. Saya melihat adanya konspirasi penyelenggara, dalam hal ini pihak LBH Jakarta juga memberikan ruang, tempat dan waktu kepada penyelenggara seminar,” ujar Lucky saat berada di Tugu Proklamasi saat terjadi kericuhan.

Kalau memang LBH tidak terlibat dalam kegiatan seminar ini, harusnya bersikap netral. Sebab kegiatan tersebut sudah didesak oleh masyarakat, bahwa tidak ingin PKI ini tumbuh, ini kan bahaya. Ditambah lagi tadi saya dengar, itu lagu Genjer-Genjer dinyanyikan, pasalnya lagu Genjer-Genjer itu identik dengan PKI.

Padahal kita semua tahu, tegas Ketua LMP ini, “bagaimana sadisnya pembantaian yang dilakukan PKI terhadap para Jenderal dan Ulama pada tahun 1965-1968. Kami tetap mengadakan gerakan-gerakan, saya pun sengaja memakai atribut bersama anggota saya, agar masyarakat melihat bahwa itulah Laskar Merah Putih berada dalam perjuangan memberantas komunis, juga tidak menghendaki komunis tetap hidup di Bumi Pertiwi ini,” ujar Lucky dengan nada tegas.

Lebih dalam Lucky menuturkan, “Apapun dalihnya, alasannya, keinginannya dan tujuannya tetap tidak diperbolehkan apapun itu jenisnya,” pungkas Lucky sunarya.

Ditempat yang sama, Yudi Syamhudi Suyuti selaku Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia (MRI) berbicara bahwa, “peristiwa represi dari kepolisian ini sudah jelas menjalankan perintah rezim Jokowi. Rezim Jokowi dari awal yang memulai peristiwa ini dengan membiarkan kegiatan seminar yang mengarah pada kebangkitan komunis. Padahal TAP MPRS No 25 Tahun 1966 hingga saat ini masih berlaku. Seharusnya pihak yang mengadakan kegiatan seminar berbau komunis yang bersalah,” ucap Yudi.

Foto : Yudi Syamhudi Suyuti Ketua MRI.

Tindakan Rezim Jokowi ini menambah kesalahan dengan terang benderang. Masalah ini akan kami bawa dalam RDPU (Rapat Dengar Pendapat Umum) dengan DPR untuk menggelar Sidang Istimewa dan Pemakzulan Jokowi pada 29 September 2017 mendatang. Kita lakukan lewat jalur konstitusional, tapi tetap dibutuhkan dukungan Rakyat secara massif.

“Jokowi sudah jelas membuka kebangkitan PKI sekaligus merepresi rakyat dengan menggunakan polisi sebagai alat kekuasaannya. Jika rezim Jokowi mau berargumentasi, silahkan Parpol-Parpol pendukungnya membantah dengan argumentasinya di DPR nanti pada 29 September 2017. (Elwan)


Komentar Anda?