Seruan Rohaniwan Kepada Gereja-gereja di Indonesia di Tengah Pandemi

0
7146

Balikpapan.- Pandemi Covid-19 yang merebak di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia, mendorong rohaniwan Kristen Pdt. Ronny Runtukahu, M.Th., angkat suara.

Ronny mengatakan, melalui peristiwa merebaknya virus Covid-19 semua sendi kehidupan ikut tergoncangkan, termasuk organisasi kerohanian seperti lembaga gereja.

Ia mendorong agar gereja di Indonesia tidak nekat melakukan ibadah dalam masa social distancing seperti sekarang.

“Dengan adanya imbauan Pemerintah agar tidak melakukan pertemuan supaya tak terjadi kontak fisik, maka secara otomatis ibadah seperti biasa yang selama ini kita lakukan tidak bisa dilakukan,” ujarnya di Balikpapan (27/3/2020).

Ia menilai pihak pemimpin gereja tertentu yang sempat mengajak jemaah tetap beribadah dengan alasan tidak boleh takut terhadap Covid-18 beberapa waktu lalu sebagai seruan yang bermotif ekonomis.

“Dampaknya sangat jelas, gereja tidak lagi bisa mengumpulkan dana seperti biasanya. Bagi lembaga gereja yang terbiasa memanipulasi jemaat demi keuntungan pribadi, mereka akan memaksakan diri untuk tetap berkumpul dan membius jemaat dengan kata-kata indah dan pesan-pesan yang seolah-olah mereka peduli, dengan tujuan agar jemaat tetap datang dalam ibadah yang mereka lakukan, dan mendengarkan motivasi-motivasi yang mereka sampaikan, supaya jemaat tetap mendukung keuangan gereja,” ungkap Ronny.

Tetapi justru melalui peristiwa ini jemaat Kristen semua dicelikkan dan bisa melihat dengan jernih mana lembaga gereja yang siap dan murni melayani jemaat dan mana lembaga gereja mana yang tidak.

Menurut Ronny, lembaga gereja yang murni akan tetap survive sambil terus tetap menjaga, mengingatkan dan mengedukasi kawanan domba yang Tuhan percayakan melalui media online agar jemaat tetap bertahan di rumah masing-masing sampai virus ini mereda.

Pria yang juga pengusaha properti itu mengatakan, “siapapun saudara, baik yang setuju maupun yang tak setuju, mari renungkan dengan hati nurani yang bersih agar saudara tidak terus-menerus terjebak oleh kelicikan pemimpin-pemimpin jenis ini, siapapun mereka, bahkan yang selama ini kita anggap sebagai hamba Tuhan yang sudah terkenal sekali pun,” imbuhnya.

“Mereka sudah terbiasa hidup dalam kepalsuan dan kelicikan sampai-sampai mereka tak sadar bahwa mereka sedang melici diri sendiri,” tegas rohaniwan Kristen itu.

Ronny mengimbau, saatnya jemaat Kristen memiliki pikiran cerdas untuk melihat mana hamba Tuhan yang sejati dan mana hamba Tuhan yang palsu.

“Dari buahnya kita dapat mengenal mereka. Jangan terbius oleh kata-kata yang manis tetapi belajarlah aktifkan nalar,” terangnya.

Ronny mengatakan, “Agama Kristen bukanlah candu masyarakat, tapi pendeta-pendeta palsu membuat jemaat menjadi sakau karena candu yang mereka sebarkan dari mimbar gereja, yaitu ajaran Kristen palsu,” tutupnya. (El)