Seorang Murid di Kelas di Permalukan oleh Oknum Guru

0
107

Inapost.com Pangkalpinang — Seperti di ketahui, sebagai tenaga pengajar atau pendidik (Pengajar) tidak sepatutnya memperlakukan seorang anak didik yang sehingga timbul rasa dipermalukan dihadapan pendidik lain maupun murid lainnya. Walaupun hal itu dilakukan didalam kelas/ruangan guru.

Dengan apapun bentuk kekeliruan atau kelalaian yang dilakukan murid/anak didik tentunya menjadi proses pembelajaran yang sedang di jalankan seorang anak didik dan ini pun proses mengajar seorang guru/pendidik dengan cara pendekatan persuasif bukan dengan cara bersama sama sehingga membuat perasaan terhakimi dan di permalukan.

Berawal mula kronologis atau kejadian terjadi pada seorang siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pembinaan, Di kecamatan Pasir Putih Kota Pangkalpinang Bangka. Sebut saja siswa ini bernama Satria (14), (nama samaran) yang saat ini duduk di Bangku kelas VIII.

Lebih lanjut salah satu Siswa SMP (Pembina), Satria didampingi orang Tua (W) (40) temui awak media Sabtu,1/5/2021 mengatakan,” anak saya Satria Pada saat berlangsungnya pembelajaran tatap muka mata pelajaran Matematika Satria diminta wali kelasnya untuk menemui seorang Guru yang diketahui merupakan Guru Bidang Studi Bahasa Mandarin untuk menghadap ke ruang guru, padahal pada saat itu sedang berlangsungnya pelajaran matematika namun tetap saja hal itu dilakukan dimana pembelajaran saat itu saat singkat waktu pembelajaran,” Jelasnya Orang tua Satria

Lanjut dikatakannya, Satria pun mendatangi ruang Guru dan langsung menemui Guru Bidang studi Bahasa mandarin tersebut hinga adanya komunikasi antara guru tersebut kepada muridnya mempertanyakan mengenai tugas tidak dikerjakan hingga 10x. Akhirnya Satria mendapat teguran dari gurunya namun pada saat di ruang guru itu guru bidang studi lain pun ikut bersama sama menegur mengenai tugas.”Ujarnya

Dan lagi Satria di dalam ruang guru itu pun mala di paksa untuk menjawab bahwa pekerjaan mandarin yang kerjakan adalah tulisan ibu nya pada satria sudah menjelaskan bukan ibu nya yang menulis atau mengerjakan tetapi berkali kali satria di paksa mengakui bahkan melalui Telphone orang tua dari satria sudah menjelaskan bukan ibu nya yang mengerjakan.

” Nah dengan kejadian seperti itu anak saya Satria karena hal ini merasa direndahkan dan dipermalukan, dan saat ini Satria merasa tepojok dan sebagai seorang anak yang berusia 14 tahun pulang sekolah satria langsung menangis dan tidak mau kembali ke sekolah dan juga tidak mau kembali mengikuti pembelajaran tatap muka. Seperti diketahui saya selaku orany tua dsri Satria pun sangat kecewa dengan keperilakuan kependidkan oknum guru seperti itu.” Cetusnya (W/M)