Selamatkan Aru

0
251

MALUKU,- Hujan turun deras pada malam itu pada Agustus 2013, ketika seorang mahasiswa bernama Collin Leppuy, tiba-tiba muncul di hadapan rumah Pendeta Jacky Manuputty di Ambon, Maluku. Kehadiran Collin bukanlah tanpa maksud. Dia hendak meminta bantuan. Kampung halamannya sedang terancam.

Collin, saat itu berusia 23 tahun. Di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, provinsi di bagian timur Indonesia itu, dia lahir dan besar. Aru sendiri merupakan kawasan dengan bentang alam unik dari perpaduan hutan, sabana, dan bakau. Kala itu, Collin tengah menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) di Ambon. Di kota itu, dia mengorganisir aksi unjuk rasa terhadap seorang politisi korup yang berkuasa di Aru selama hampir satu dekade.

Bupati Theddy Tengko, yang meraup puluhan miliar uang dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD), sempat kabur untuk melarikan diri. Dia akhirnya tertangkap jaksa di Bandara Rar Gwamar, Aru. Tentu saja, Collin punya rasa bangga atas hasil perjuangannya. Dari situlah, dia menyadari, ternyata ada bahaya lain yang mengintai Aru sebagai bagian dari ulah si bupati sebelum dibui.

Selama beberapa dekade, Aru luput dari perhatian perusahaan-perusahaan pembabat hutan Indonesia. Ketika hutan di Jawa, Sumatera dan Kalimantan, kian menyusut, mereka sebetulnya sudah bergerak ke kawasan timur Indonesia untuk menguras “emas hijau” dan membangun lahan-lahan perkebunan. Saat ini, Aru berada dalam cengkeraman perusahaan bernama Menara Group. Sebelum pemecatannya, Theddy menyetujui rencana Menara Group untuk mengubah dua pertiga wilayah Aru menjadi lumbung gula. Jika proyek itu terus berjalan, perusahaan akan mampu meraup triliunan uang dari hasil penebangan hutan dan perkebunan tebu yang mungkin saja terbesar di dunia.

Sisi lain, proyek ini akan pula menghancurkan mata pencaharian dan persediaan makanan dari puluhan ribu warga di Kepulauan Aru, termasuk keluarga, kerabat, dan teman Collin. Habitat satwa liar pun akan ikut hancur di mana Kepulauan Aru merupakan rumah bagi berbagai flora dan fauna khas, seperti burung cenderawasih yang menjadi identitas masyarakat Aru.

Burung cenderawasih jantan (Paradisaea apoda) sedang memamerkan kemolekan bulu-bulunya di Kepulauan Aru. Foto diperoleh dari Laboratorium Ilmu Burung di Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat.

Malam itu, Jacky mempersilakan Collin bertamu di rumahnya. Pria dengan rambut hitam keriting, kumis tebal, dan sikap yang lembut, namun tegas itu, mempunyai posisi penting di Gereja Protestan Maluku (GPM). GPM sendiri memiliki lebih dari 700 paroki dan Jacky yang berusia di akhir 40-an itu, menjabat sebagai Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan GPM. Saat muda, Jacky pernah terinspirasi oleh ide teologi pembebasan, sebuah gerakan Kristen untuk membantu masyarakat miskin dan tertindas di Amerika Latin. Jacky pun punya pengalaman puluhan tahun membantu perjuangan masyarakat di desa-desa di bagian timur Indonesia dalam melawan perusahaan-perusahaan ekstraktif. Kini, Collin memintanya melakukan hal sama untuk masyarakat di Kepulauan Aru.

Jacky tahu harus selalu berwaspada. Dia memahami risiko maupun hal buruk yang bisa dialami oleh kelompok masyarakat adat yang menentang proyek-proyek yang didukung pemerintah. Di tempatnya berasal di Pulau Haruku,- di seberang Ambon — masyarakat bahkan terpecah belah ketika perusahaan pertambangan menginjakkan kaki di sana. Perlawanan terhadap proyek perusahaan dan bentrokan antar-desa yang bertetangga, tak terhindarkan dan kekerasan terjadi di mana-mana.

Kelompok yang mendukung Jacky mencoba menempuh jalur hukum melawan perusahaan, namun konflik justru mencapai puncak ketika penduduk membakar kamp perusahaan yang berada di hutan. Dia pun mulai bertanya-tanya, apakah masyarakat di Kepulauan Aru bisa kuat bersatu menentang proyek tebu atau justru malah terjerat dalam situasi di luar kendali.

Pada malam berguyur hujan itulah, Jacky dan Collin, menyusun rencana. Mereka hendak mengundang para mahasiswa Aru di Ambon pada aksi solidaritas dengan menyalakan lilin. Collin pun mengumpulkan teman-teman di ruang kelas kampusnya, Jacky akan memimpin doa bersama. Kemudian, mereka semua akan membahas cara-cara terbaik untuk melanjutkan perlawanan.

Kepulauan Aru terbentang sekitar 185 kilometer dari utara ke selatan dan 90 kilometer dari timur ke barat. Ukurannya hampir sama dengan dua kali Pulau Bali.

Malam berikutnya, Collin tiba dengan belasan mahasiswa. Jacky memimpin doa. Di sela-sela itu, para pemuda bertanya padanya apakah mereka boleh menyanyikan lagu daerah yang menceritakan asal usul orang Aru. Pendeta itu mengiyakan. Dia menyimak lantunan lirik lagu yang berkisah tentang pertikaian dua saudara memperebutkan tombak emas yang punya kekuatan gaib untuk menangkap ikan.

Perselisihan itu pun membuat Tuhan murka dengan ada gempa dan gelombang pasang nan hebat. Pulau yang menjadi tempat tinggal keduanya pun terbelah dua. Bencana itu memaksa penduduk pergi berlayar ke kepulauan yang kini dikenal dengan Aru.

Tiba-tiba, Jacky memotong nyanyian mereka. Lagu itu memiliki makna mendalam, tetapi para pemuda menyanyikan seolah-olah mereka malu dengan sejarah leluhur mereka. Baginya, lagu itu seperti mempunyai jiwa. Itulah yang mereka perlukan untuk membakar semangat kalau hendak melawan kekuatan besar yang mengancam Aru.

“Jangan mulai perjuangan ini kalau tidak bangga dengan identitas sebagai orang Aru,” kata Jacky. “Jika kalian tak bangga, perusahaan akan datang dan membayar kalian. Lalu, memecah belah kalian.” Dia menyerukan lagi kepada para pemuda dengan berkata, “Nyanyikan lagi! Lebih bersemangat dari kalian menyanyikan lagu nasional.”

Mereka pun bernyanyi kembali. Kali ini, dengan lebih keras dari sebelumnya.

Kemudian, di penghujung malam itu, mereka menulis dua kata di atas kertas: “SOS ARU.”

Jacky (tengah) berdiri bersama Collin (ketiga dari kanan) dan para mahasiswa lain pada malam solidaritas di mana mereka menyalakan lilin pada Agustus 2013.

Selama beberapa bulan ke depan, pesan itu dan pesan-pesan lain serupa, menjadi seruan yang menumbuhkan gerakan rakyat yang bergema dari Aru hingga ke ibu kota provinsi di Ambon, bahkan Jakarta juga mancanegara.

Gelombang perlawanan di kalangan akar rumput itu menyertakan semua kalangan, baik lelaki maupun perempuan dari berbagai usia, tokoh adat, serta orang-orang dari luar Aru. Para pendukung di seluruh dunia juga tak ketinggalan untuk mengambil peran.

Visi “pembangunan” sedang berada dalam pertaruhan. Perusahaan bersama para pejabat dan politisi yang mendukungnya mengutarakan, bahwa masyarakat Aru itu terbelakang dan miskin. Satu-satunya jalan keluar mereka terlepas dari keterbelakangan dan kemiskinan ini, dengan menyerahkan nasib mereka pada konglomerat bertopeng. Sementara, masyarakat Aru menggantungkan hidup pada alam sekitar dan mereka tegas untuk berkata tidak.

Pertarungan masyarakat Aru pun menjadi kian jelas. Bahwa, mereka tidak hanya sedang melawan perkebunan, melainkan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yaitu, membuat pemerintah lebih berpihak kepada rakyat di negara dimana kepentingan bisnis secara luas mengkooptasi kekuasaan negara. Perjuangan masyarakat Aru juga turut menentukan nasib dari salah satu kawasan hutan tropis yang tersisa di bumi ini dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Yakni, mereka yang kebudayaan dan mata pencaharian bergantung dari alam yang lestari.

Hari ini, perjuangan masyarakat Aru bergema ke seluruh pelosok dunia. Semangat perlawanan itu terjalin dengan gerakan global yang tengah berkembang dan berhadapan pada dua pilihan, antara kepentingan kemakmuran dan lingkungan. Masyarakat Aru mendobrak pilihan biner itu.

Kita perlu mengingat, pertempuran besar itu dimulai dari seorang pendeta, segelintir mahasiswa, dan pesan yang terdiri dari dua kata pada selembar poster.

“Seperti itulah pada awalnya gerakan ini dimulai,” kata Jacky. “Di ruang kelas itu.”

Sumber : SaveAru : Pertempuran Panjang Menuju Kemenangan Gerakan Rakyat

Editor : Cecep Supradin