Sekjen GO Indonesia Serukan Cara Peringati Hari Pahlawan

0
247

Jakarta.- Hari Pahlawan 2019 merupakan momen yang tepat bagi bangsa Indonesia merenungkan kembali arti sebagai anak bangsa yang berbakti bagi Ibu Pertiwi Indonesia.

Hal ini seperti yang disampaikan Sekretaris Jendral Generasi Optimis (GO) Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga di Jakarta (10/11/2019).

Horas mengatakan, “Pahlawan berasal dari Bahasa Sansekerta, phala-wan yang merujuk pada orang menghasilkan buah phala berkualitas bagi bangsa, negara, dan agamanya. Atau 英雄 yingxiong dalam bahasa Mandarin.”

“Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, dia berjuang dengan gagah berani,” imbuhnya.

Kepada wartawan Horas Sinaga mengajak Pemerintah dan masyarakat untuk menghidupi semangat kepahlawanan di era post-milenial ini.

“Bung Karno, Bung Hatta, Sam Ratu Langie, Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Sisingamangaraja XII, Kapiten Pattimura, Patih Jelantik, dan semua pahlawan bangsa ini telah berjuang pada zamannya masing-masing. Semua demi Ibu Pertiwi. Bagaimana dengan kita sekarang?,” ujar Horas berapi-api.

Masing-masing pahlawan, menurut Horas, telah berjuang melawan masalah pada konteks zamannya sendiri. Pemerhati intelijen itu melihat pada masa kini masalah yang menjadi ancaman bagi Republik ini adalah korupsi dan intoleransi. Kondisi inilah yang harus diperangi oleh anak bangsa pada masa kini.

Melawan Korupsi

Sejak ratusan tahun lalu korupsi dan suap telah menjadi masalah klasik yang tak mudah diatasi. Bahkan Pangeran Diponegoro sampai menampar Patih Danurejo IV yang korup dengan selop.

“Melawan korupsi itu tak mudah, karena berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia dan sinful nature atau sifat keberdosaan manusia,” kata Horas Sinaga.

Ia menyebut bahwa secara natur manusia telah cenderung kepada kejahatan, sehingga jika banyak pejabat tersangkut masalah korupsi, itu karena ‘sinful nature’.7

“Oleh sebab itu perlu ada sistem yang kuat untuk menekan praktik korupsi. Berikan hukuman yang berdampak efek jera. Termasuk miskinkan para terpidana korupsi,” tegas Horas.

Melawan korupsi harus dengan tekad kuat, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan sistem hukum yang ketat.

Mengatasi Intoleransi

Tingginya praktik intoleransi akhir-akhir ini, menurut Horas, harus segera diatasi mulai dari dunia pendidikan.

“Pendidikan mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi sudah disusupi gerakan intoleransi. Karena itu Generasi Optimis Indonesia mendukung Presiden Jokowi memaksimalkan Kemendikbud, Kemenag, Kemendagri, dan eleme-elemen lain yang terkait untuk mengatasi praktik intoleransi,” kata Horas.

Masalah ekonomi juga niscaya menjadi pemicu intoleransi. Ketidakadilan ekonomi dan timpangnya pembangunan perlu segera diatasi oleh Pemerintah.

“Menjadi pahlawan di masa kini adalah dengan melawan semua musuh dalam konteks zaman post-milenial ini,” kata Horas.

“Generasi Optimis Indonesia mengucapkan selamat menghayati Hari Pahlawan, dan semoga banyak pahlawan gagah berani zaman ini yang berjuang bagi Ibu Pertiwi,” pungkas Horas Sinaga. (Elwan)