Sejumlah Preman Rebut Paksa Ruko Milik Delina

0
413

INAPOS, JAKARTA– Delina Eloria Hutapea kini mulai sakit-sakitan  dan kerap melamun. Betapa tidak? Bangunan toko yang sudah ditempatinya sejak tahun 1985 telah direbut paksa oleh sekelompok orang dari etnis tertentu.  

‘Ibu Delina tergoncang jiwanya sejak kejadian itu. Dia mulai sakit-sakitan,”kata  kuasa hukumnya Sabar Ompu Sunggu, S.H., M.H.,kepada awak media di rumah Delina, di bilangan Rawangun, Jakarta Timur, Rabu (19/9/2018) malam.

Sabar mengungkapkan, ruko  milik Delina yang terletak di seberang Veledroom Rawamangun Jakarta Timur no 57b ini sejak Mei lalu  hingga saat ini diteror. Delina dipaksa harus mengosongkan rukonya tersebut.

“Ini tidak benar dan itu tidak boleh terjadi. Karena klien kami, Delina memiliki surat perjanjian hak guna bangunan dan pembayaran SPPT atas namanya. Klien saya sudah menempati bangunan itu sejak tahun 1985,”tegas Sabar.

“Saya sudah tinggal di sini sejak tahun 1985. Pada tahun 1992 terjadi penggusuran diantara gang 10 dan 11 warga disekitar situ disuruh meninggalkan tempat itu dengan bayaran 400 ribu per meter. Bahkan saya juga sempat disuruh dengan bayaran 2 juta per meter. Namun tidak saya berikan karena ini sawah saya,” tutur Delina.

Delina mengaku, pada saat mengurus ijin usaha ia pun telah menempuh nya sesuai prosedur hukum yang berlaku.

“Dulu pada saat mengurus ijin usaha, oleh lurah saya disarankan agar jangan dibuat perjanjian jual beli, namun ganti rugi bangunan, karena tanah deretan tersebut merupakan tanah milik negara sehingga pada waktu itu bangunan saya ikut digusur,”kenangnya.

Namun, pada akhir-akhir ini pada bulan Mei, kembali bangunan milik Delina diduga “diusik” oleh kuasa hukum LTJ yang bernama JS dengan memanfaatkan para orang suruhannya yang diduga membobol toko tersebut.

“ Mereka juga menjarah barang-barang yang ada di toko sehingga mengalami kerugian material yang ditaksir kurang lebih 100 jutaan rupiah,”ungkap Sabar. Ia juga sangat menyesalkan tindakan JS tersebut yang menggunakan cara-cara premanisme.

Delina Eloria Hutapea (tengah) didampingi kuasa hukumnya.(red)

Menurut Sabar ada  beberapa kejanggalan yang ditemuinya atas klaim JS tersebut. “Yang menjadi permasalahan adalah pertama ketika kami diperlihatkan sertifikat itu tertulis 100 m, setelah dapat dari data ibu Delina antara no 59 dan 57 itu terpisah.Tapi menurut pengacara kok bisa digabung,”imbuhnya.

Sabar menyesalkan tindakan JS yang tidak menggunakan prosedur hukum yang berlaku, tetapi malah menggunakan preman.

“Padahalkan dia Advokat sudah mengetahui ilmu hukum yang luar biasa saya anggap, tetapi dalam melakukan tindakan hukum kok pakai pihak ketiga seperti preman,”sambungnya.

Terkait aksi teror dan bongkar paksa bangunan, Sabar  mempertanyakan itu. Akibat peristiwa ini klien kami telah  mengalami kerugian hilangnya sebagian besar barang-barang yang ada di dalam toko yang ditaksir nilainya  mencapai ratusan juta rupiah. Padahal belum ada keputusan yang berkekuatan hukum tetap.

“Atas kejadian  yang menimpa ibu Delina, kita akan segera mengambil tindakan hukum . Kita meminta aparat penegak hukum untuk  menindaklanjuti laporan kami hingga ke tingkat pengadilan, agar proses cepat selesai, karena sudah 4 bulan ini belum ada tanggapan dari pihak kepolisian,”pungkas Sabar.(red/ist)