Beranda Sejarah Sejarah Penistaan Agama Islam di Indonesia

Sejarah Penistaan Agama Islam di Indonesia

INAPOS,- Setelah mengalami perang panjang 1873~1904, Aceh secara resmi takluk ditangan Gubernur Aceh J.B Van Heutz bersama penasehat pribadi Snouck Hurgronye dan untuk mengawasi serta mengendalikan kaum pribumi dan umat islam, pemerintah kolonial Belanda pada 1899 mendirikan Het Kantoor voor Inlandsche en Arabische Zaken dengan Christian Snouck Hurgronye sebagai Direktur pertama (1899~1906)

16 Oktober 1905 Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) dan kemudian berobah menjadi Sarekat Islam (SI) pada Kongres Pertama di Solo 1906. Yang dikemudian hari pada tahun ±1917, atas saran Sneevliet, SI dipecah menjadi SI Merah (Komunis) dan SI Putih (Nasionalis Religius).

Sebagai response terhadap berdirinya SI, para Priyayi Jawa yang tergabung dalam Theosofi – Vrijmetselarij Pada 20 Mei 1908 mendirikan Boedi Oetomo (BO) yang kemudian melakukan penghinaan terhadap Islam melalui tulisan dan ceramah yang berujung dengan konflik terbuka antara Boedi Oetomo (BO) vs Sarekat Islam (SI).

Rapat Gubernemen Boemipoetra tahun 1913, anggota Theosofi – Vrijmetselarij Radjiman Wediodiningrat, menyampaikan pidato berjudul “Een Studie Omtrent de S.I (Sebuah Studi tentang Sarekat Islam)” yang menghina anggota SI sebagai orang rendahan, kurang berpendidikan, dan mengedepankan emosional. Radjiman mengatakan bahwa bakat dan kemampuan orang Jawa yang berada di Boedi Oetomo lebih unggul ketimbang ajaran Islam yang dianut oleh para aktivis Sarekat Islam.

Kongres Boedi Oetomo tahun 1917, Anggota BO yang beragama Islam meminta agar BO memperhatikan aspirasi umat Islam, tetapi Radjiman menolaknya dengan mengatakan, “Sama sekali tidak bisa dipastikan bahwa orang Jawa di Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.”

Pada tahun 1917, pemerintah Kolonial Belanda menyalurkan bantuan kepada Islam ƒ127.029 dan untuk Kristen ƒ1.235.500. Inilah yang disebut sebagai Kerstening Politiek (Politik Kristenisasi) untuk merobah orang Indonesia menjadi Kristen agar mudah dikendalikan.

Surat Kabar Djawi Hiswara yang dikelola oleh penganut kebatinan Theosofi yang dipimpin oleh R.Martodarsono (ex-Aktivis Sarekat Islam) pada 11 Januari 1918 No.5. memuat artikel Djojodikoro yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo”. Djojodikoro menulis “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, Minoem Opium, dan Kadang Soeka Mengisep Opium”.

Artikel ini memicu kemarahan Sarekat Islam dengan menggelar Rapat Akbar (Vergadering) di Surabaya 6 Februari 1918. Kemudian Centraal Sarekat Islam membentuk Tentara Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM) atau Tentara Kandjeng Rosoel yang diketuai oleh H.O.S Tjokroaminoto. TNKM berhasil mengumpulkan dana ±ƒ3.000. Aksi protes yang diadakan serentak pada 24 Februari di 42 tempat di seluruh Jawa dan sebagian Sumatera dihadiri oleh lebih dari 150.000 orang dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari ±ƒ10.000. Subkomite TKNM didirikan hampir di seluruh Jawa kecuali Semarang dan Yogyakarta yang merupakan basis Kristen dan Kejawen.

Pembentukan TKNM mendapat reaksi dari kelompok Theosofi – Vrijmetselarij, dan Boedi Oetomo dengan mendirikan Comittee voor het Javaasche Nationalisme yang menuduh terbentuknya TKNM sebagai upaya untuk menghalangi Bangsa Jawa mengamalkan Kepercayaan Jawa, Menghalangi Agama lain di luar Islam dan mengatakan TNKM dibentuk oleh bangsa Arab. Comittee voor het Javaasche Nationalisme (Komite Nasionalisme Jawa) menyatakan, Politik dan agama harus dipisahkan sesuai dengan konsep Snouck Hurgronye agar tidak menganggu Pemerintah Hindia Belanda.

Tudingan ini kemudian dijawab oleh aktivis SI, Abdoel Moeis, dengan menyatakan bahwa TKNM adalah isyarat agar pihak di luar Islam tidak melakukan pelecehan terhadap Islam dan mengingatkan kepada penganut kebatinan dan kejawen, bahwa umat Islam tidak rela jika junjungannya dihina.

Abdoel Moeis menegaskan bahwa Politik dan agama merupakan satu rangkaian, tidak bisa dipisahkan. SI juga merupakan perlawanan terhadap Kerstening Politiek (Politik Kristenisasi) yang dilakukan oleh Kolonial Belanda untuk meredam Pemberontakan.

Dalam Perayaan 10 Tahun Boedi Oetomo pada 1918 di Tempel van De Bazel De Ruyterstraat 67, Den Haag. Boedi Oetomo melakukan peluncuran buku Soembangsih: Gedenkboek Boedi Oetomo 1908 – 20 Mei 1918. Dalam buku itu, Goenawan Mangoenkoesomo menulis: “Jika kita berlutut dan bersembahyang, maka bahasa yang boleh dipakai adalah bahasanya bangsa Arab…”

”Bagaimanapun tinggi nilai kebudayaan Islam, ternyata kebudayaan itu tidak mampu menembus hati rakyat. Bapak penghulu boleh saja supaya kita mengucap syahadat: “Hanya ada satu Allah dan Muhammad-lah Nabi-Nya”, tetapi dia tidak akan bisa berbuat apa-apa bila cara hidup kita, jalan pikiran kita, masih tetap seperti sewaktu kekuasaan Majapahit dihancurkan secara kasar oleh Demak.”

Majalah Pewarta Theosofie Boeat Indonesia, No.5, Tahun KA XXIV, Mei 1930, menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”. Theosofi menganggap ke Baitullah di Makkah dan ke Baitullah di Tanah Java, adalah sama karena sama-sama Baitullah dan sama-sama rumah Allah.

Desember 1930, koran Soeara Oemoem yang diterbitkan oleh Studieclub Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Soetomo, memuat berbagai tulisan yang menghina Ibadah Haji. Dalam tulisan-tulisan itu, penulis mempertanyakan manfaat naik haji, menganggap orang-orang yang dibuang ke Digul karena membela bangsa, lebih mulia dari orang-orang yang naik haji karena hanya menyembah berhala Arab, serta menganjurkan orang Islam untuk pergi ke Demak saja daripada ke Mekah.

Akibatnya umat Islam marah. Akhirnya Soetomo berkilah, dengan mengatakan bahwa ia dan ayahnya juga seorang muslim dan sering menyumbang kepada Muhammadiyah dan Nahdlatul ‘Ulama. Pernyataan itu oleh M.Natsir, dalam Majalah Pembela Islam disebut sebagai ‘Sahadat Model Baru’.

1937
Oktober 1937 aktivis Theosofi, Siti Soemandari melalui artikelnya di Madjalah Bangoen No.9 & No.10 yang dikelola oleh Parindra (Dr.Soetomo) memuat pelecehan terhadap istri-istri Rasulullah dan poligami sehingga memancing reaksi umat islam dengan mengadakan Rapat Akbar di Batavia pada 18 Desember 1937.

Karena Persoalan Agama merupakan persoalan yang paling sensitive di Indonesia, maka pada 27 Januari 1965 Soekarno menerbitkan “Penetapan Presiden No.1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama” yang Menjadi UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama.

1967
H.K. Mangunbahan. Seorang Dosen beragama Kristen di Sekolah Tinggi Ekonomi, Makassar, di hadapan murid-muridnya yang mayoritas muslim, menghina Nabi Muhammad dengan mengatakan “Nabi Muhammad adalah seorang pezina. Nabi Muhammad adalah seorang yang bodoh dan tolol, sebab dia tidak pandai menulis dan membaca.” Akibatnya, pada malam 1 Oktober 1967, beberapa gereja di Makassar dirusak

1968
Cerpen berjudul Langit Makin Mendung karangan Kipandjikusmin yang dimuat di majalah Sastra edisi Agustus 1968 No.8 Th.VI dinilai telah menodai kesucian agama Islam. Pemuda dari Ormas Islam mendatangi kantor majalah Sastra dan rumah HB. Jassin. Mereka menuntut Darsjaf Rachman untuk menarik kembali Cerpen “Langit Makin Mendung” dan meminta maaf kepada umat Islam. Situasi makin memanas. Sastrawan-satrawan yang kontra terhadap Cerpen “Langit Makin Mendung” diantaranya: Jusuf Abdullah Puar, Buya Hamka, Wiratmo Soekito, Moh. Zabidin Jacub SH, Ajib Rosidi, dan Abdul Muis, dan Taufiq Ismail. Buya Hamka menegaskan bahwa dalam ajaran Islam, tidak boleh menggambarkan sosok Tuhan. Hal senada juga ditegaskan oleh Ajib Rosidi dan Taufiq Ismail. Akhirnya Darsjaf Rahman selaku pemimpin Umum majalah Sastra, meminta maaf kepada umat Islam.

Menteri Agama, K.H. Mohd Dachlan, di Harian Kami 29 Oktober 1968, menganggap Cerpen “Langit Makin Mendung” merupakan penghinaan terhadap Tuhan, Agama, Para Nabi, Malaikat, Para Kiai/Ulama, Pancasila dan UUD 1945. Akhrinya, HB. Jassin dijebloskan ke penjara pada sidang Putusan 28 Oktober 1970. Hikmahnya, HB. Jassin semakin mendalami agama, belajar bahasa Arab, Al-Qur’an, dan kesusastraan. Bahkan HB Jassin membuat buku terjemahan Al-Qur’an.

1990
Arswendo Atmowiloto yang berasal dari keluarga muslim di Solo, kemudian pindah agama menjadi Katolik, di Tabloid Monitor (Kompas Gramedia Group) menempatkan Nabi Muhammad di bawah urutan dirinya, sebagai orang terpopuler. Umat Islam bereaksi kemudian 22 Oktober 1990, Tabloid Monitor mengakui kesalahan dan menyampaikan permohonan maaf atas program Kagum 5 Juta, serta mencabut tulisan tersebut.

“Kami, seluruh karyawan Monitor, memohon maaf yang sebesar-besarnya karena berbuat khilaf memuat _Ini Dia:50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita dalam terbitan no.225/IV 15 Oktober 1990. Pemuatan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yang keliru dan dapat menyinggung perasaan, khususnya umat Islam. Dengan ini, kami mencabut tulisan terebut dan menganggap tidak pernah ada.”_

Namun karena protes semakin meluas dan menjurus pada Anti-Kristen, Menteri Penerangan Harmoko, 23 Oktober 1990, mencabut surat izin penerbitan Monitor. PWI cabang Jakarta, memberhentikan Arswendo Atmowiloto dari keanggotaan dan mencabut rekomendasi PWI Arswendo sebagai pemimpin redaksi. Arswendo diadili dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.

If you don’t know history, then you don’t know anything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree. – Michael Crichton

Sumber : dikutip dari beberapa sumber.

Editor : Cecep Supradin

RELATED ARTICLES

Tahlilan Haul Bung Karno, Habib Syech Lantunkan Lir Ilir Khusus Buat Ganjar

SURAKARTA.- Komplek Benteng Vastenburg Solo menjadi lautan manusia saat gelaran Tahlil Akbar dan Salawatan bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf dan Gus Karim,...

Puncak Haji Armuzna, Dubes : Persiapan dan Fasilitas Meningkat

MAKKAH- Jemaah Haji asal Indonesia akan mendapatkan fasilitas yang sangat nyaman saat melakukan puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). “Di Arafah pake AC...

Refleksi Bulan Bung Karno, PDIP Kabupaten Cirebon Gelar Festival Ikan Bakar Nusantara

KAB CIREBON.- DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cirebon menggelar Sajian Kuliner Nusantara dan Festival Ikan Bakar Nusantara dalam rangka Refleksi Bulan Bung Karno. Kegiatan tersebut dihelat...

Most Popular

Tahlilan Haul Bung Karno, Habib Syech Lantunkan Lir Ilir Khusus Buat Ganjar

SURAKARTA.- Komplek Benteng Vastenburg Solo menjadi lautan manusia saat gelaran Tahlil Akbar dan Salawatan bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf dan Gus Karim,...

Puncak Haji Armuzna, Dubes : Persiapan dan Fasilitas Meningkat

MAKKAH- Jemaah Haji asal Indonesia akan mendapatkan fasilitas yang sangat nyaman saat melakukan puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). “Di Arafah pake AC...

Refleksi Bulan Bung Karno, PDIP Kabupaten Cirebon Gelar Festival Ikan Bakar Nusantara

KAB CIREBON.- DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cirebon menggelar Sajian Kuliner Nusantara dan Festival Ikan Bakar Nusantara dalam rangka Refleksi Bulan Bung Karno. Kegiatan tersebut dihelat...

Kapolri Lepas Pesepeda Gowes 508 KM, Pecahkan Rekor MURI

JAKARTA.- Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin pelepasan kegiatan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) bersepeda sejauh 508 Kilometer dari Lapangan Bhayangkara Polri, Jakarta...

Recent Comments