Ka’bah, bangunan yang menjadi titik pusat berkumpulnya seluruh ummat, baik saat menjalankan ibadah haji maupun saat menjalan ibadah Shalat. Salah satu makna Ka’bah (selain diartikan sebagai kubus persegi empat) adalah mata kaki atau mata kayu, pangkal dan poros.

Begitu banyak tulisan sejarah yang menceritakan tentang sejarah Ka’bah. Namun, sebagian besar tulisan itu hanyalah berupa catatan tentang peristiwa alam lahiriah. Meskipun tetap memiliki nilai sebuah pencarian kebenaran untuk mempertemukan antara ajaran agama dengan ilmu pengetahuan. Agama bertujuan membangun spirit (akhlak). Sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan membangun cara bekerjanya akal untuk meluruskan arah pandang terhadap alam semesta. Keduanya tetaplah memiliki aspek-aspek pengkajian yang sangat penting.

Cara agama dalam memahami segala sesuatu berdasarkan bangunan spirit yang dimiliki oleh seseorang. Sedangkan cara ilmu pengetahuan memahami segala sesuatu berdasarkan bangunan akal atas peristiwa-peristiwa yang bisa diindera. Keduanya tidak terpisah sama sekali. Bahkan saling take and give agar spirit dan akal, keduanya terbangun dengan kokoh.

Ada satu sejarah yang menuliskan tentang berdirinya Ka’bah, yakni terjadi jauh sebelum manusia pertama turun ke bumi. Dalam kajian tersebut, penulis sejarah menyimpulkan bahwa Ka’bah dibangun oleh Malaikat. Bahkan cerita tentang dibangunnya Ka’bah oleh para Malaikat seolah sudah menjadi asumsi umum yang disajikan berdasarkan analisa sebuah dalil tertentu. Contoh dalil tersebut :

“Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo’a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah : 127).

Analisa tersebut menyimpulkan bahwa sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka’bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata “Yarfa’u” artinya meninggikan yang diartikan meninggikan bangunan yang suda ada. Artinya, Ka’bah sudah lebih dulu dibangun, dan yang membangunnya adalah para Malaikat.

Analisa tersebut barangkali ada benarnya. Tetapi, persepsi tentang Malaikat pun harus tetap berdasar. Jika analisa dalil nash tersebut menyimpulkan bahwa Malaikat telah membangun Ka’bah, maka persepsi tentang Malaikat yang melakukan suatu perbuatan tidaklah sama seperti manusia. Namun, asumsi itu sangat sulit untuk membedakan Malaikat dengan manusia. Sebab, Malaikat itu termasuk salah satu rukun iman sedangkan manusia tidak termasuk. Beriman kepada Malaikat adalah azas aqidah sedangkan beriman kepada manusia tidak ada kamusnya.

Seperti pada definisi Ka’bah secara bahasa di atas, bahwa Ka’bah itu bermakna pangkal, mata kaki (kayu), poros atau sentral segala sesuatu. Definisi tersebut tidak sekedar mengarah kepada tema-tema yang sifatnya lahiriyah. Ia lebih mengarah kepada makna metaforis (majazi). Apalagi dalam sejarahnya, bahwa Ka’bah dibangun oleh para Malaikat.

Makna Malaikat secara bahasa adalah sistem-sistem kekuasaan. Ia berasal dari kata kerja (fi’ilmalaka-yamliku, artinya menguasai, merajai, atau memiliki. Malaikat adalah Tangan-tangan Tuhan yang membentuk serangkaian mekanisme penguasaan Tuhan terhadap alam semesta. Malaikat adalah bentuk jama’ dari kata tunggal Malakah. Banyaknya Malaikat membentuk kesatuan mekanisme yang beraneka macam. Ibarat pohon yang terdiri dari akar, batang, dahan, cabang, ranting, daun dan buah. Alam semesta ini seperti pohon yang saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Syaikh Muhyiddin Ibn Arabiy pernah mengilustrasikan ini dalam kitabnya berjudul “Syajarotul Kaun“.

Malaikat yang disimpulkan sebagai yang pertama membangun Ka’bah disebabkan karena dirinya yang notabene tercipta dari cahaya, terhubung kepada Allah. Karena itu, ia termasuk bagian dari rukun iman. Hal ini dapat dicermati dari ayat yang terdapat dalam Surat Al-Ahzab (33) ayat 56 :Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya shalat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya“. Shalat dalam ayat ini bermakna keterhubungan.

Dalam menterjemahkan ayat tersebut, secara bahasa banyak orang membedakan istilah shalat dengan shalawat. Padahal, perbedaan itu hanya terletak pada bentuk mufrod yang bermakna tunggal. Shalat bentuk tunggal dan shalawat bentuk jama’. Sedangkan dalam ayat tersebut tetap saja artinya ya shalat. Yushalluuna ‘alan Nabiyybermakna shalat kepada Nabi. Pada cara penterjemahan ayat ini, nampak suatu persepsi bahwa shalat selalu saja diterjemahkan kepada penyembahan secara fisik seperti penyembahan rakyat kepada rajanya. Padahal, untuk mengatasi bentuk persepsi yang keliru ini, shalat itu harus dipahami sebagai keterhubungan. Akan terasa beda jika diterjemahkan begini : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya terhubung kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berhubunganlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya“.

Keterhubungan Allah, Malaikat dan Nabi membentuk suatu kesatuan yang masing-masing punya fungsi sendiri-sendiri. Bukan berarti Allah dengan para Malaikat dan Nabi berposisi sejajar. Allah tidak akan pernah bisa diperbandingkan dengan apapun. Ayat di atas mengungkapkan sebuah prosedur menghadap Allah. Kalimat perintah kepada orang beriman untuk berhubungan kepada Nabi mengungkapkan sebuah tata cara untuk berhubungan kepada Allah. Nabi adalah gerbang untuk memasuki wilayah Ketuhanan. Hanya Nabi yang diperkenalkan dan mengenal Allah. Pemahaman singkat dari ayat di atas begini: “…Hai orang-orang yang beriman, berhubunganlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” karena Nabi berhubungan kepada-Ku (pen-).

Baiklah, kembali kepada kajian tentang Ka’bah. Mengapa Malaikat mendirikan Ka’bah? Apa maksudnya? Mengapa Ka’bah? Kok bukan bangunan yang lain yang dibangun pertama? Dalam al-Qur’an surat Ali Imran : 96, disebutkan :

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah yang di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Ternyata, bayt yang pertama dibangun untuk manusia adalah Ka’bah. Ia berada di Bakkah. Bakkah yang kemudian menjadi awal sejarahnya nama Mekkah itu tidak sekedar mengandung makna denotative yang hanya merujuk kepada tempat tertentu. Makna dasar dari Bakkah adalah kesedihan, kesengsaraan, tembusan, lobang dan kebinasaan. Semua terjemahan dasar dari Bakkah merujuk kepada sesuatu yang fana dan sengsara. Ia merujuk kepada sesuatu yang sering dinisbatkan untuk makna dunia. Dunia adalah makna kesedihan, kesengsaraan dan kebinasaan. Hukum-hukum di dunia telah ditetapkan oleh Allah sebagai mekanisme yang memunculkan kesedihan. Allah melalui para MalaikatNya membangun rumah untuk menetralisir atau melipur segala kesedihan manusia. Rumah itu adalah sebuah dimensi untuk menanggalkan baju keduniaan untuk menuju baju Ketuhanan. Rumah itu membinasakan segala yang palsu untuk memasuki maqam yang asli.

Jadi, Ka’bah adalah dimensi bathiniyah. Ia dikatakan Baytullah(rumah Allah) karena ia merujuk kepada makna bathini. Mengapa Malaikat yang membangun, karena Malaikat dinisbatkan pada pemahaman keimanan yang bersifat bathini. Manusia berada pada dua dimensi; lahiriyah dan bathiniyah. Kakinya yang satu berada di dunia dan satunya lagi berada di akhirat. Dunia dan akhirat adalah lahir dan bathin. Ia berjalan beriring. Dalam dimensi ini, tidak ada lagi sebutan kemarin, sekarang atau besok. Sebutan waktu tersebut hanya ada pada dimensi dunia.

Meski dibangun oleh para Malaikat, Ka’bah hanya diperuntukkan bagi manusia. Penjelasan ini tidak merujuk kepada suatu tempat yang berada di dunia. Ingatlah persepsi tentang alam semesta; manusia, Nabi dan para Malaikat. Ia hanya merujuk kepada persepsi rangkaian banyak system yang membentuk satu kesatuan system. Sistem itu membawa manusia untuk kembali kepada keasliannya. Ada jejak Nabi Ibrahim ketika beliau mencapai titik keasliannya melalui rumah tersebut. Bahkan Nabi Adam pun ada jejaknya. Hingga Nabi Muhammad pun ada jejaknya. Karena itu, ia ajarkan manusia untuk mengikuti jejaknya. Tidak akan ada artinya bagi penelusuran dimensi akhirat, jika jejak yang dicari adalah jejak kaki di dunia. Jejak yang dimaksud itu adalah jejak-jejak dalam dimensi bathiniyah. Makna dari jejak itu adalah kesadaran yang sama tentang Tuhan. Ketika seseorang menyadari tentang hakekat Ketuhanan di dalam dirinya, ingatlah bahwa Nabi Ibrahim pun punya proses yang sama. Dalam istilah Sunda Kuna disebut juga “tampak saking“. Inilah proses-proses yang dialami oleh orang yang bersuluk (menjalani laku bathin untuk mengenal Allah).

Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya menjadi amanlah dia. (penggalan surat Ali Imran : 97)

Rumah yang dimaksud pada ayat di atas adalah sebuah system agar manusia memiliki arah untuk menelusuri kaki akhiratnya. Ka’bah yang di Mekkah saat ini hanyalah simbolisasi dari dimensi kaki akhiratnya manusia. Maqam Ibrahim telah tercetak nyata dalam rumah itu. Ia membentuk sebuah strata bathiniyah hingga mencapai eskalasi yang paling tinggi, yakni Wilayah Ketuhanan.

Disadur dan dikutip dari beberapa sumber