RSIA Khalisah Palimanan Diduga Lakukan Malpraktek

0
556

INAPOS, KABUPATEN CIREBON – Pupus sudah kebahagiaan Dede Ulum Kulsum warga Sitiwinangun Kabupaten Cirebon. Bayi yang ia perjuangkan dalam kandungannya, kini telah berpulang ke pangkuan sang pencipta.

Sepuluh hari pasca melahirkan melalui operasi caesar di RSIA Khalishah Palimanan, buah hatinya itu akhirnya meninggal dunia.

Saat ditemui di Kediamannya, Dede Ulum Kulsum menduga ada kelalaian tindakan dari petugas medis RSIA Khalishah Palimanan terhadap dia dan bayinya.

Dugaan itu muncul setelah ia mengalami infeksi luka pasca operasi caesar yang dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) tersebut, pasca persalinan pada 3 Juli 2019 lalu.

“Awalnya kami dan pihak keluarga tidak berprasangka buruk soal kematian bayi kami. Dugaan malpraktek itu muncul setelah saya mengalami infeksi pada luka jahitan pasca operasi caesar di rumah sakit itu (RSIA Khalishah). Dari situlah kemudian keluarga menduga ada kesalahan dalam penanganan tindakan proses persalinannya,” ungkap dia, Kamis (12/9/2019).

Dede mengungkapkan, awal kejadian dugaan malpraktek itu ketika ia melakukan check up pasca operasi caesar di RSIA tersebut. Satu minggu setelah melahirkan caesar, ia masih merasakan sakit yang luar biasa pada luka jahitannya. Ia kemudian menceritakan yang dirasakannya kepada dr. AF (inisial), selaku dokter spesialis kandungan yang menangani langsung proses persalinannya.

“Pada saat kontrol (check up) luka jahitan pasca operasi caesar itu, kurang lebih satu minggu setelah persalinan, saya sudah jelaskan rasanya masih sakit sekali. Lukanya nyeri banget ke dokter AF. Karena dokter AF yang menangani persalinan waktu itu. Tapi saya heran, ketika mengeluh seperti itu, justru tidak diperiksa lukanya. Cuma perawat saja yang memeriksa dan mengganti perban lukanya,” terang Dede.

Selanjutnya, karena mendapat pelayanan yang kurang baik, akhirnya check up dilanjutkan ke RS Mitra Plumbon, dengan jangka waktu kurang lebih satu minggu setelah check up pertama di RSIA Khalishah, atau tepatnya yaitu tanggal 22 Juli 2019. Dari situlah kemudian keluarga dijelaskan oleh dokter RS Mitra Plumbon, bahwa luka jahitan Dede pasca caesar mengalami peradangan kronis berdasarkan hasil rontgen.

“Karena pelayanan yang kurang baik itu. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk memeriksakan luka jahitannya ke RS Mitra Plumbon. Dari situlah kemudian semua jelas. Keluarga yakin bahwa ada kelalaian penanganan dari tenaga medis RSIA Khalishah. Bahkan kematian anak kami pun, kami menduga ada penanganan yang tidak cermat oleh pihak RSIA Khalishah,” ungkapnya.

Terkait kondisi bayinya yang diberi nama Ahmad Abdul H.Q, kepada media, wanita 36 tahun ini menerangkan, saat sebelum persalinan, memang kondisi bayi dalam kandungannya baru berusia kurang lebih 34 minggu. Pada saat itu pun, tujuannya hanya periksa kandungan, belum ada rencana untuk melakukan persalinan.

“Awalnya periksa kandungan karena sakit dan mules. Itu pun tidak ke rumah sakit, hanya di periksa ke bidan. Karena tidak mampu menangani, akhirnya bidan merujuk ke RSIA Khalishah. Setelah diperiksa dokter, akhirnya ditindaklanjuti untuk dirawat agar bisa memantau perkembangannya,” papar Dede.

Sementara terkait keputusan tindakan operasi caesar, Dede mengaku tidak mengerti. Pihak tenaga medis RSIA Khalisah hanya menerangkan perihal kemungkinan – kemungkinan yang bisa saja terjadi. Namun tindakan operasi caesar adalah pilihan terakhir apabila keadaan sudah sangat mendesak.

“Saya saat itu ditemani oleh ibu Farisyah saat dirujuk ke (RSIA) Khalishah. Awalnya tidak ada yang aneh. Terkait tindakan operasi caesar pun, itu dijadwalkan dilakukan jam 10.00 Wib itupun sebagai opsi terakhir jika memang diharuskan. Tapi sekitar jam 05.00 lepas subuh, saya dibawa ke ruang operasi dan dilakukan persalinan secara caesar, entah apa alasannya,” jelas Dede.

Ditempat yang sama, media pun mencoba menggali informasi kepada Farisyah yang saat itu menemani Dede sampai selesai operasi persalinan. Ia mengatakan, saat pasien dibawa keruang operasi, tidak dijelaskan apa masalahnya. Ia cuma diberitahu bahwa pasien akan menjalani operasi caesar.

“Saya nggak tau alasan pasien dibawa keruang operasi apa. Susternya cuma bilang ke saya pasien mau dioperasi. Cuma saya nggak dijelaskan kondisi pasien seperti apa. Waktu dibawanya (ke ruang operasi) itu sekitar jam lima, setelah subuh seinget saya,” ungkapnya.

Sementara itu, Maman selaku suami pasien, yang saat itu tidak mendampingi istrinya di rumah sakit, juga merasa heran atas tindakan (operasi) tersebut. Sebab menurut Maman tindakan operasi caesar istrinya, tanpa sepengetahuan dirinya selaku suami sekaligus kepala keluarga dari pasien.

“Saat istri saya dilakukan tindakan operasi, saya tidak di rumah sakit. Jadi saya tidak tahu dan tidak diberitahu oleh pihak rumah sakit (khalishah). Saya tahunya istri di operasi itu pas pagi. Padahal setahu saya, biasanya sebelum dilakukan tindakan operasi harus ada persetujuan yang ditandatangani suami ataupun keluarga pasien,” cetusnya.

Terkait dugaan malpraktek tersebut, Maman berencana akan mengadukan permasalahan itu ke penegak hukum. Ia sebagai suami sekaligus ayah dari bayi yang diduga sebagai korban malpraktek, merasa sangat dirugikan atas tindakan yang dilakukan oleh pihak RSIA Khalishah. Maman menginginkan hukum ditegakkan setinggi – tingginya. Apalagi menyangkut nyawa manusia.

“Saya akan menuntut pihak (RSIA) Khalishah untuk bertanggung jawab atas kerugian yang saya derita. Saya menuntut hukum ditegakkan setegak – tegaknya. Nyawa anak dan istri saya bukan mainan kedokteran. Sudah jelas saya akan tuntut mereka semua yang terlibat dalam permasalahan ini,” pungkasnya.

Editor : Cecep S.

Wartawan : Andri Gondrong.


Komentar Anda?