Ritual Larung Sukerto Bentuk Kepedulian Situasi Bangsa

0
196

Inapos, Pati.- Terinspirasi dengan apa yang dilakukan oleh warga Solo melalui Doa Anak Negeri minggu lalu, warga Pati berinisiatif menyelenggarakan Kenduri Nusantara Umbul Donga Larung Sukerto di TPI Banyutowo, Sabtu (09/03/19). Acara yang dihadiri oleh ribuan warga Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati ini menghadirkan berbagai jenis ekspresi kultural dalam bentuk seni budaya dan doa bersama yang dipimpin oleh K. H. Abdullah Umar Fayumi atau yang biasa disapa Gus Umar.

Warga Pati merasa perlu mengadakan Umbul Donga Larung Sukerto ini sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi bangsa yang semakin jauh dari rasa solidaritas. Selain itu, ritual yang sudah berlangsung turun temurun ini merupakan salah satu cara warga Pati yang berprofesi sebagai nelayan dalam menghaturkan syukur kepada Tuhan atas hasil lautnya.

Kenduri Nusantara Umbul Donga Larung Sukerto dibuka dengan tarian Gambyong yang merupakan salah satu bentuk tarian Jawa klasik dan biasanya dibawakan untuk pertunjukan atau menyambut tamu.

Ipong Ismunarto selaku perwakilan masyarakat Pati mengatakan, bahwa larungan yang dilakukan masyarakat pesisir memiliki ciri khas tersendiri, yaitu harus disertai dengan tari Tayub yang merupakan tarian pergaulan, untuk menghindari bencana.

“Larung Sukerto adalah simbol untuk melarung atau membuang hal negatif atau tindak tanduk yang mengancam bangsa Indonesia. Tumpeng merah putih akan menjadi simbol semangat kami, simbol kecintaan kami pada NKRI,” imbuhnya.

Sebanyak satu kapal utama dan empat kapal pendamping berlayar sejauh kurang lebih 10 menit ke lokasi Larung Sukerto dengan diiringi oleh alunan kendang pencak. Sesampainya di tengah laut, sepasang kembar mayang dan sepasang bebek hidup dilarung sebagai simbol untuk membuang hal negatif atau tindak tanduk yang mengancam bangsa Indonesia.

Pada saat yang bersamaan di darat, tradisi ‘Kembulan’ atau makan bersama pun dilakukan. Dengan semangat kebersamaan, para warga dengan lahap menyantap tumpeng merah putih yang menyimbolkan semangat dan kecintaan warga Pati terhadap NKRI. Acara ekspresi kultural ini ditutup dengan penampilan para penari yang membawakan Tari Tayub.

“Ini tak hanya sekedar tradisi, tapi sebagai perwujudan tekad kami sebagai masyarakat Pati yang tak ingin melihat Ibu pertiwi ini bersusah hati. Karena saat ini banyak perbedaan yang mengkotak-kotakkan masyarakat,” katanya.

Dengan adanya acara inspiratif ini, warga Pati berharap tidak hanya berhenti di Solo dan Pati saja. Inilah saatnya kita menyatukan kembali kepingan-kepingan kerukunan, merangkainya menjadi satu fragmen kehidupan yang menegaskan bahwa perbedaan itu adalah harmonisasi kehidupan, demi masa depan anak cucu kita. (Elwan)


Komentar Anda?