Raja Utara : Kembalikan Harlah Kab. Cirebon Kepada 1 Muharram

0
123

KABUPATEN CIREBON, INAPOS – Hari lahir (Harlah) Kabupaten Cirebon semua tahu dan selalu diperingati pada 2 April atau 12 Safar kalender Jawa dan selalu diperingati dengan meriah.

Namun, Harlah ini ternyata sangat bertentangan dengan sejarah aslinya saat terbentuknya Cirebon oleh Pangeran Chakrabuana atau Mbah Kuwu Sangkan.

” Diperingatinya Harlah Kabupaten Cirebon di 2 April atau 12 Safar itu jelas bertentangan dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. 12 Safar itu adalah penghentian pembayaran upeti kepada Pajajaran yang dilakukan oleh Sinuhun Sunan Gunungjati Syekh Syarif Hidayatullah,” papar R. Udin Khaenudin alias Raja Utara yang menurutnya, Ia merupakan keturunan dari Sunan Gunung Djati dari garis Ibu dan keturunan langsung dari Pangeran Chakrabuana atau Mbah Kuwu dari garis ayah yang berasal dari Desa Trusmi.

Bagi Raja Utara yang siap membuka silsilah sesungguhnya dan juga yang sedang menghidupkan lagi Keratuan Singhapura ini, bahwa seharusnya, Harlah Kabupaten Cirebon berbarengan dengan Harlah Kota Cirebon.

“1 Muharam yang diperingati sebagai Harlah Kota Cirebon itu ya sama dengan Kabupaten Cirebon. Mengapa…? karena pendiri Cirebon itu masih orang yang sama dan waktu yang sama yaitu Pangeran Chakrabuana alias Mbah Kuwu Sangkan. Oleh sebab itu, saya telah berjuang keras agar Harlah Kabupaten Cirebon dikembalikan lagi kepada 1 Muharam sejak jaman pemerintahan Alm Dedi Supardi saat menjabat Bupati Cirebon,” jelas R. Udin berapi-api.

Menurut pria yang juga sebagai Camat Pasaleman, Kabupaten Cirebon ini, dirinya telah membicarakan hal ini dengan beberapa anggota DPRD Kabupaten Cirebon dan mereka pun setuju serta akan membawa persoalan ini pada rapat DPRD.

“PLt Bupati Cirebon pun setuju dan siap untuk berusaha agar Harlah Kabupaten Cirebon di kembalikan kepada 1 Muharam. Untuk memulai momentum kembalinya Harlah Kabupaten Cirebon kepada aslinya, maka akan diadakan Grebeg Suro di Desa Mertasinga tepatnya di Situs Lawang Gada pada 4 September mendatang sebagai peringatan 1 Muharam di Kabupaten Cirebon dan pada saat itu akan dibacakan beberapa sejarah yang sesungguhnya,” ujar Raden Udin yang merupakan keturunan langsung Pangeran Chakrabuana dari perkawinannya dengan seorang wanita yang berasal dari Desa Trusmi dan tidak diboyong ke Keraton namun tetap tinggal di Desa Trusmi hingga keturunannya tidak tercatat dalam sejarah umum.

Menanggapi persoalan ini, Priyo Andi Dwiwoko dari Lembaga Kajian dan Investigasi Nusantara (Lakin) yang juga konsen dalam pelurusan sejarah menyatakan dukungannya terkait kembalinya Harlah Kabupaten Cirebon kepada 1 Muharam.

“Berdasarkan informasi yang kami terima, memang ada perdebatan panjang terkait Harlah tersebut. JIka dikaji dari sejarah awal Raden Walangsungsang atau Pangeran Chakrabuana babat alas Cirebon dan mendirikan Keraton Pakungwati, jelas Harlah Cirebon pada 1 Muharam dan jika melihat sejarah CIrebon yang dahulunya satu kesatuan, jelas Harlah dua wilayah ini tidak dapat dipisahkan,” ucap Priyo saat diminta tanggapannya.

HIngga berita ini diturunkan, pihak terkait belum ada yang bisa memberikan komentarnya. (Andri Gondrong)


Komentar Anda?