Pudji Hartanto : Kedepankan Sportivitas Dan Santun Dalam Berpolitik

0
246

KOTA SUKABUMI.- Pentingnya budaya sportif dalam berpolitik, atau sikap berpolitik sportif  merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya politik kooperatif dan sistem demokrasi yang kita miliki yaitu demokrasi Pancasila.

Pudji Hartanto saat dihubungi via selulernya Minggu (24/3/19) mengatakan, politik sportif harus terus ditumbuh kembangkan untuk menolak kecenderungan praktik politik curang, saling menjatuhkan, atau tidak sportif.
Tanpa landasan budaya sportif, yaitu legowo menerima keputusan menang atau kalah.

“Saya mencontohkan pada pertandingan olahraga, dimana lawan dalam olahraga adalah teman dalam bermain di arena pertandingan. Atlit bertarung saling mengalahkan dan saling menjatuhkan, namun di luar arena mereka berteman, ketika menerima keputusan juri, mereka bahkan tak jarang saling berpelukan,” katanya.

Lawan dalam politik di Tanah AIr adalah saudara sebangsa yang membangun negara kesatuan kita, sesama warga Indonesia. Para politisi dan tokoh-tokoh berpengaruh, terutama yang sedang mendapat dukungan massa besar,  seharusnya melakukan pendidikan politik sportif, kepada kader-kadernya dengan memberi contoh langsung berpolitik sportif dan santun.

“Politik sportif dan santun diwujudkan dengan penampilan dan perilaku sehari-hari yang tidak mengganggu, mengintimidasi lawan politik di tengah arena. Dukungan dalam bentuk (yel yel) kepada jagoannya adalah penyemangat dalam upaya memberikan dukungan energi, bukan menakuti lawan yag sedang bertanding,” ujarnya.

Caleg DPR-RI Dari Partai Nasdem Dapil Kota/Kabupaten Sukabumi ini mengungkapkan, etika sportif yang perlu dikembangkan adalah perilaku politik yang sesuai dengan koridor demokrasi Pancasila yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, agama, dan sopan santun.

“Kita menolak demokrasi ala liberal, demokrasi ala komunis yang menghalalkan segala cara, demokrasi yang memancing konflik, kerusuhan dan kekakacauan,” ungkapnya.

Jenderal bintang dua purnawirawan polri ini menambahkan, demokrasi Pancasila memberi nuansa persatuan dan stabilitas, perilaku politik yang merusak, mengganggu keamanan dan membuat kacauan, pasti bukan watak dan sikap demokrasi Pancasila.

“Sejak dulu maupun sekarang, rakyat sangat mendambakan suasana aman dan tertib. Guyub rukun dengan sesama, mudah mendapatkan sandang pangan,” papar caleg nomor urut 1 tersebut.

Terakhir, di era ketika hak asasi diutamakan, maka hak asasi rakyat adalah mendapatkan penghidupan yang layak, bebas dari segala macam ancaman.

“Semua itu bisa didapat jika para elite menjaga perilaku politik yang sportif, tidak curang, dan menjunjung tinggi kesantunan,” pungkasnya.(Eko Arief)


Komentar Anda?