Presidium Alumni 212 Gelar Diskusi Kebangsaan

Presidium Alumni 212 Gelar Diskusi Kebangsaan

Inapos, Jakarta.- Dengan maraknya kriminalisasi terhadap aktivis dan ulama, Presidium Alumni 212 mengadakan diskusi kebangsaan  dengan mengangkat tema ‘Bedah Kasus Kriminalisasi Ulama dan Aktivis’, yang berlangsung si Roemah Rakjat, Jakarta Selatan, Rabu (31/01/18) kemarin.

Juru bicara Presidium Alumni 212 Aminuddin menyampaikan, terkait untuk Habib Rizieq Sihab, saya anggap mempunyai catatan-catatan yang positif, buktinya beliau saat mau balik ke Indonesia tidak mau dibiayai dari rakyat, beliau bilang saya tidak mau merugikan atau merepotkan rakyat yang telah mendukung saya.

“Apa kalian masih ingat apa yg dikatakan Caknun dulu, kalau Peradaban islam akan lahir dari Timur. Mungkin bisa saja besok akan terjadi penghancuran negara-negara barat. Kita akan tetap mengambil poros kita di tengah yaitu Islam,” ucap Aminuddin.

Natalius Pigai Mantan Komisioner Komnas HAM mengatakan, Saya merasa sangat termormat karena telah diundang oleh Presidium 212. 212 itu sendiri adalah sejarah yaitu angka paling kecil, akan tetapi berada dipaling depan.

“212 adalah sejarah yang dimana Indonesia menunjukan Islam yg sangat besar, dan itu ditunjukkan ke seluruh dunia. Peristiwa 212 itu sangat santun, sopan dan mampu mematahkan tesis didunia, bahwa umat islam tidak mengenal demokrasi. Indonesia bisa menunjukan komunitas Partikular, dan itu bisa ditunjukkan tidak cuma di Indonesia, namun ke seluruh dunia, khusunya Eropa dan Amerika, Asia Timur, Amerika Latin.

“Walaupun saya berbeda agama, saya sendiri beragama Khatolik, namun saya bisa memahami Islam yang dimana agama Islam itu sendiri bisa menyampaikan sesuatu dengan sopan dan santun. Islam bisa memukul secara Politis, tidak melakukan seperti alat pemukul,” tegas Pigai.

Kedaulatan tertinggi adalah komunitas yang paling banyak, yang dimana di negara itu banyak umat Islamnya, maka secara otomatis pimpinan mereka adalah dari umat Islam.

Percaya tidak percaya, lanjut Pigai, “pada tahun 2000 keatas, umat Islam di dunia akan dihancurkan dan sudah dirancang oleh Amerika. Itulah kekhawatiran Negara adidaya agar umat Islam tidak bisa berkuasa. Maka dari itu mereka merancang sejak lama untuk mengancurkan Islam. Asia tenggara adalah tempat peradaban agama Islam terbesar,” katanya.

Besok mau ke Negara Malaysia susah, mau agama apapun susah, karena mereka menggunakan peraturan eropa. Islam tidak ada Islam Nusantara, Islam ya Islam. Islam pusatnya dimana, kalau di Yerusalem ya di Yerusalem saja, tidak ada pusatnya ditempat lain, begitu pula dengan agama lain, Khatolik ya Khatolik, Protestan ya Protestan.

Habib Umar juga menuturkan, memang kita harus biasakan membahas tentang Negara dan Tanah Air, agar kita itu mengerti dan paham tentang masalah yang ada di negara kita, maka dari itu marilah kita belajar tentang negara yang berlandaskan dengan Pancasila dan UUD 1945.

“Untuk permasalahan yang berada di negara kita ini, tentang khilafah itu sebenarnya sudah ada di Pancasila. Tadi ada juga dari pihak kepolisian, yang dimana mereka ingin diajak agar bisa ikut kegiatan seperti ini. Pancasila ini diperuntukkan untuk orang-orang yang beragama, jadi bagi orang-orang yang tidak beragama, maka mereka tidak akan diberi ruangan atau kesempatan untuk menjadi pemimpin,” terangnya.

Negara negara lain sebenarnya pada iri kepada negara kita, karena negara kita berlandaskan ketuhanan yang Maha Esa. Negara mana yang berlandaskan Tuhan Yang Maha Esa selain Indonesia?, Indonesia ini negara yang hebat dan kuat. Jadi pengertian, amandemen yang tidak benar, maka harus kita benarkan kembali, jangan dibiarkan saja. (Elwan)


Komentar Anda?