Prabowo : Jangan Terpancing

0
540

PENULIS : M. Nigara (Wartawan Senior
Mantan Wasekjen PWI)

BEBERAPA sahabat ‘protes’ karena tampilan Prabowo Subianto (PS) dalam dua debat Pasangan Capres dan Cawapres (17/1) dan Capres vs Capres (17/2).

Mereka tidak puas karena Prabowo tidak tampil seperti tampilan yang selama ini terekam di banyak benak orang: Galak, keras, dan tegas.

Awalnya juga saya hanyut dengan bayangan seperti itu. Ya, Prabowo selama ini dikenal orang sebagai jendral purnawirawan berbintang tiga itu (catatan, PS berhak atas sebutan purnawirawan. PS tidak dipecat seperti selalu diucapkan oleh mereka yang dengki. Sebaliknya PS diberhentikan dengan hormat atas tuduhan yang belum pernah bisa dibuktikan. PS tidak pernah diajukkan kepengadilan mana pun. Dan terpenting PS memperoleh surat dari pemerintah sebagai purnawirawan, karenanya PS berhak atas uang pensiun)
suaranya memang cukup menggelegar. Tapi, dalam dua debat itu, Prabowo terlihat santun.

Bahkan ketika pribadinya diserang terkait kepemilikan tanah yang sangat luas, dia pun hanya tersenyum. Padahal, itu harapan saya dan para sahabat, inginnya Prabowo menyerang balik. “Lembek banget, gregetan gue,” tukas sahabat saya seorang profesor, sekertaris jurusan Fakultas Kedokteran universitas negeri ternama di Jakarta. Itu juga komen sahabat saya wartawan senior yang saat ini tinggal di Eropa.

“Mestinya dia (Prabowo) bisa balik nyerang. Iya betul saya punya HGU seluas itu, tapi, saya tidak sendirian. Itu di sekitaran anda banyak tuan tanah yang luas lahannya jauh lebih besar dari yang saya punya. Dan, lahan saya ambil, justru dari tangan asing,” begitu tutur sahabat yang lain lagi.

Tapi, apa yang diharapkan tidak muncul, Prabowo hanya tersenyum. Kalau pun ia membela diri hanya pada tataran: “Itu bukan hak milik, tapi HGU. Bahkan kalau negara membutuhkannya, akan saya serahkan kembali,” ujar Prabowo saat menutup debat.

Hasilnya? Jangan tanya dengan kubu lawan dan kubu Prabowo, jawabannya bisa bias. Maklum militansi kedua pendukung sangat tinggi. Tapi, lihatlah sambutan masyarakat (bukan masa bayaran, karena tidak pernah dimobilisasi oleh BPN. Maklum, ada masa yang jelas dimobilisasi, buktinya? Ada puluhan bis pariwisata yang berbaris untuk menjemput dan mengantar masa, ada yang khas terjadi, rebutan nasi kotak, protes semur daging rasa langkuas, dan hehe berselisih karena uang transport) yang datang, makin lama semakin barjubel. Terakhir di Pakansari Bogor, Jumat (29/3) siang, Prabowo terpaksa berjalan lantaran mobilnya sudah tidak mungkin bergerak. Ya, bukan memaksa jalan kaki menuju lokasi untuk pencitraan, tapi karena ratusan ribu orang yang datang untuk mendukungnya.

*Jangan Terpancing*
Untuk debat ke-4, malam ini, Sabtu (30/3), Prabowo akan bertambah indah jika tetap mampu menampilkan sikap tenang seperti debat-debat sebelumnya. Meski hasil debat insyaa Allah tidak akan mempengaruhi sekitar 60 persen pemilih yang insyaa Allah pula telah menetapkan pilihannya ke Prabowo-Sandi, tapi orang akan terus bertambah simpati pada calon presidennya kelak jika tetap tidak menyerang, apalagi ke pribadi lawannya. Biar petahana saja yang marah-marah dengan pekiknya: “Lawaaan!”. Hehehe, entah siapa yang akan dilawannya, wong dia sendiri yang tidak menepati janjinya, kok orang lain atau rakyat yang mau dilawan, aneh.

Jangan terpancing, kita sudah menang. Pendapat itu sudah menyebar dan menjadi fakta lapangan. Tentu tidak mudah. Apalagi upaya seminggu terakhir ini terasa betul ada upaya untuk memancing amarah Prabowo. Yang paling menonjol ada tiga jendral senior yang memainkan kartu lama.

Penculikan dan pelanggaran HAM Berat 1998. Tapi, Allah tidak tinggal diam, jendral senior itu malah saat ini terperangkap dengan pernyataannya sendiri. “Saya tahu di mana dibuang dan dikuburnya para korban itu!”. Kalimat itu jadi bumerang bagi dirinya.

Lalu ada lagi jendral senior yang menyebut bahwa pemilu saat ini perang antar Panca Sila vs Khilafah, pemilu kali ini ada yang akan menggantikan Panca Sila. Secara selintas, pernyataan itu sama sekali usang, tidak laku, dan justru membuat kredibiltas keduanya malah jadi bahan olok-olok. Tidak ada siapa pun yang mau menegakkan khilafah dan mengganti Panca Sila. Kok ya takut amat sih.

Terakhir, ada tulisan di medsos yang mengatasnamakan sebagai jendral juga, isinya keterlaluan, mendeskriditkan keluarga Prabowo dan khususnya orang tua serta mertuanya, ini juga kuno. Tapi yang lebih gawat orang yang mengaku jendral itu malah bersimpati pada PKI. Dia yang tanpa nama itu mengabaikan bahwa PKI pernah gagal kudeta di Madiun 1948. Ia justru menuliskan bahwa PKI adalah korban fitnah, jelas _ngaco_ atau dia ternyata memang simpatisan komunis. Atau, orang yang mengaku jendral itu malah yang akan mengubah Panca Sila dengan idiologi komunis.

Dari fakta itu, tampaknya para jendral sepuh, ya saya harus katakan begitu karena usia mereka rata-rata sudah 72-73 tahun. Sebagai manusia normal, paling lama 2-3 tahun lagi mereka boleh dibilang masih bisa menikmati hidup, selebihnya mereka akan jadi beban keluarga karena tubuh dan pikiran mereka pasti (hukum alam) akan semakin berkurang.

Sambil bergurau, orang sering mengatakan, usia seperti itu sama seperti kita yang sudah di ambang subuh. Eh, maaf, itu jika mereka memang melaksanakan shalat, khususnya shalat subuh, jika tidak mereka tentu tidak akan memahaminya. Maaf lho…

Sekali lagi, kita berharap Prabowo bisa tampil tetap sesantun dua debat sebelumnya. Dan saya akan tetap menjawab dan menjelaskan pada para sahabat saya yang selalu protes karena berharap Prabowo bisa tampil segarang Johan Cruyff, _stricker_ dan kapten tim nasional Belanda di Piala Dunia 1974 dengan _total football_nya. Atau segarang Ronaldo, saat masih di Real Madrid atau di klub Juventus saat ini. Bahkan ada juga sahabat saya yang berharap Prabowo tampil seperti Mike Tyson, menggebrak dengan dahsyat untuk mengKO setiap lawannya.

Sebaliknya, saya berharap Prabowo tetap tampil seperti _the greatest_ Muhammad Ali, legenda tinju dunia. Tampil dengan gaya _hit and run_, dan _foalt like a butterfly, sting like a bee_ (terbang seperti kupu-kupu, menyengat seperti Lebah). Ya, penonton pun akan sangat terhibur, lalu mereka memberikan semangat dengan pekik panjang yang menggema dan menggetarkan kalbu: “Prabowo..Prabowo.. Prabowo, eeee…… maksudnya Ali… Ali.. Ali,”. Dan Ali pun memenangkan pertarungannya. Sama seperti Prabowo insyaa Allah akan memenangkan pertarungan ini. Tentu kemenangan bukan untuk Prabowo-Sandi, tapi kemenangan untuk rakyat Indonesia. Kemenangan untuk perubahan. Kemenangan untuk Indonesia yang adil dan makmur. Ya, kemenangan untuk kita semua: Takbir! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!