JAKARTA.- Petugas Perlindungan Jemaah (Linjam) dan Media Center Haji (MCH) Madinah lakukan survei lapangan ke Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) untuk memetakan titik-titik krisis.

Seperti diketahui, para petugas haji daerah kerja Madinah nantinya akan bertugas di Mina selama puncak musim haji nanti.

Survei dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Operasional (Kasatop) Armuzna, Jaetul Muchlis pada Kamis (01/08) pagi Waktu Arab Saudi.

“Titik-titik krisis sudah kita upayakan untuk kita petakan,” ujarnya saat ditemui usai survei.

Menurutnya, titik krisis Armuzna salah satunya ada di Mina.

“Waktu kritis salah satunya pads tanggal 10 dzulhijjah, awal pertama jemaah lontar jumrah aqobah, biasanya disitu ada waktu-waktu yg menurut pemahaman dan keyakinan merupakan waktu afdol,” katanya.

“Ini waktu kritis bagi kami petugas MCR sehingga penting kiranya bagi jemaah haji kita menghindari waktu kritis atau waktu terlarang bagi jemaah haji kita dengan melihat keamanan dan kondisi jemaah haji,” imbuhnya.

Terlebih jemaah haji Indonesia menurut Muchlis, memiliki postur tubuh lebih kecil dibanding jemaah negara lain dan lebih dari 60 persen jemaah haji Indonesia dalam kondisi risiko tinggi (risti) dan lanjut usia (lansia).

“Ini survei bersama petugas kita yang masuk Mobile Crisis Rescue (MCR) terdiri dari beberapa unsur, perlindungan jemaah (linjam), Tim Gerak Cepat (TGC) Kemenkes, P3JH, Tim Promotif Preventif (TPP) dan Media Center Haji (MCH) di dua jalur nanti jalur bawah dan jalur atas,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa penempatan petugas di jalur bawah dan atas sebagai bentuk antisipasi kedatangan jemaah haji Indonesia dari tenda-tenda di Mina.

“Ada 11 pos stasioner di Mina ini dan tim mobile krisis, tim mobile crisis inilah yang nantinya secara mobile lakukan operasi tugas dan fungsinya di jamarat 1 2, 3 dan jamarat dasar,” pungkasnya.

Setelah ke Mina, para petugas juga berkeliling ke Muzdalifah dan Arafah melihat pos-pos petugas haji Indonesia lainnya. (Red)