Petani Magelang dan Temanggung Bantah Tolak Benih Impor Rekomendasi Pemerintah

0
345

JAKARTA, INAPOS – Petani bawang putih di kawasan lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah, membantah pemberitaan yang menyebut mereka menolak menanam benih bawang putih jenis Great Black Leaf (GBL) yang direkomendasikan pemerintah. “Tidak benar kami menolak menanam benih bawang putih GBL yang direkomendasi pemerintah. Yang terjadi sebenarnya, karena tanamnya di musim kemarau yang kurang air, jadi hasilnya juga ndak maksimal. Jadi bukan karena benihnya jelek atau tidak bisa ngumbi disini”, ujar Wiwin Suheri Ketua Kelompoktani Tunas Muda Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Magelang, Kamis (13/12).

Wiwin Suheri menambahkan saat benih GBL asal Taiwan ditanam di musim penghujan seperti sekarang ini hasilnya sangat bagus. “Kemarin-kemarin itu yang tanam dengan sprinkle dan cukup air hasilnya juga bagus kok. Yang hasilnya kurang bagus itu yang kekurangan air dan kurang dirawat saja”, kata Wiwin. “Kami kalau dikasih bantuan benih GBL akan sangat senang dan mau tanam, yang penting musimnya pas seperti sekarang ini. Ini benih saya akui bagus sekali. saya sendiri sudah coba tanam, hasilnya bagus kok”, imbuhnya.

Petani bawang putih Desa Balesari, Bansari, Temanggung, Supriyanto, mengaku terkejut dengan pemberitaan media yang menyebut kegagalan panen di daerahnya karena benih asal Taiwan. “Dulu kami beli benihnya di pasar. Memang yang kami tanam sebagian ngumbi sebagian nggak. Yang nggak ngumbi itu kayaknya kecampuran bawang konsumsi asal China. Ditambah lagi dengan kurangnya penyiraman air dan struktur tanah di daerah kami yang berpasir. Selama ini kami lebih banyak nanem benih lokal tapi tidak berarti menolak benih GBL asal Taiwan”, kata Supriyanto yang mengaku tidak bergabung dengan kelompoktani apapun.

Kepala Seksi Sayuran dan Tanaman Obat Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, Yoga Susilo, saat dikonfirmasi menyatakan dari hasil pengubinan yang dilakukan pihaknya terhadap penanaman bawang putih jenis GBL pada tanggal 14 November 2018 lalu diperoleh hasil 11,04 ton per hektar lahan. “artinya benih jenis tersebut sangat cocok ditanam, dan hasilnya cukup bagus, bahkan melampaui produktivitas nasional bawang putih yang hanya sekitar 9,1 ton per hektar”, ujar Yoga yang mengaku terjun langsung saat mengukur ubinan. “yang hasilnya kurang itu karena kekurangan air dan kurang dirawat saja. Tak hanya GBL, bawang putih benih lokal pun juga tidak maksimal hasilnya kalau kurang pengairan karena pada dasarnya bawang putih itu memang butuh air yang cukup”, tukas Yoga.

Kasi Sarana dan Prasarana Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung, Ruri Handayani, menyebut pihaknya tidak mengalokasikan bantuan APBN 2017 ke Desa Balesari Kecamatan Bansari. “Kami akan klarifikasi ke lapang. Yang jelas tidak ada kegiatan APBN 2017 di desa tersebut. Kami menduga benih yang gagal panen itu adalah bawang konsumsi asal China yang dijadikan benih, tapi bukan GBL asal Taiwan. Yang pasti secara umum lahan di Temanggung sangat cocok untuk ditanami bawang putih”, ungkapnya.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, saat dihubungi terpisah, membenarkan bahwa benih GBL asli asal Taiwan bisa tumbuh dan berumbi ditanam di Indonesia. “Seperti halnya jenis lokal, benih GBL asal Taiwan juga butuh air yang cukup selama masa pertumbuhan dan pengumbian. Mungkin dari sisi waktu pengumbian sedikit lebih lama, tapi bukan berarti tidak bisa berumbi. Kalau ada pihak-pihak yang masih meragukan, kami sangat terbuka untuk berdialog langsung, silakan”, kata pria yang akrab disapa Anton tersebut.

“Komoditas apapun apabila ditanam di kondisi kurang air pertumbuhannya tidak akan maksimal. Selain masalah air, perawatan tanaman seperti penyiangan, pengendalian hama dan penyakit, serta pemupukan sesuai takaran sangat penting dalam mendukung suksesnya pertanaman bawang putih”, pungkas Anton.(red)