Pesan Pdt. Ronny Runtukahu Kepada Gereja

0
2380

Balikpapan.- Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hari-hari ini seluruh umat manusia di bumi harus menghadapi wabah virus Covid-19, di mana pemerintah menginstruksikan agar seluruh masyarakat lebih banyak diam di rumah, baik bekerja, bersekolah maupun beribadah untuk sementara waktu.

Pdt. Ronny Runtukahu, S.E., M.Th., mengatakan sebagai gereja, kita harus tunduk dan mengikuti anjuran pemerintah. “Alasan yang pertama, sebagai warga negara yang baik, kita harus tunduk pada aturan dan keputusan pemerintah, karena tidak mungkin bisa tunduk dengan aturan Tuhan yang tidak kelihatan sedangkan dengan pemerintah yang kelihatan kita tidak mau tunduk,” kata Pdt. Ronny dalam pesannya, Sabtu (21/3/2020).

Yang kedua, gereja Tuhan secara tidak langsung ikut meringankan beban pemerintah dalam mengatasi pandemi virus Covid-19 ini.

Yang ketiga, sambungnya, kita mau menjaga diri kita dan orang-orang yang kita kasihi supaya tidak terpapar oleh virus ini. Sesungguhnya inilah alasan kenapa kita harus mengikuti aturan pemerintah.

“Kalau hari-hari ini kita harus melakukan ibadah di rumah secara daring (online), kembali kita diingatkan bahwa gereja bukan gedung, tata cara ibadah, tetapi gereja adalah organisme, yaitu kumpulan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus yang mau berjuang untuk mengikuti, menghidupi ajaran dan teladan hidup Tuhan Yesus,” ucapnya.

Menurutnya, inilah sebenarnya saat terbaik bagi setiap orang percaya untuk merenungkan pengiringannya kepada Tuhan Yesus, karena ibadah yang sesungguhnya adalah berjuang melakukan kehendak Allah dalam setiap aktivitas yang kita jalani.

“Sebagaimana yang dikatakan oleh Paulus dalam Roma 12:1, Karena itu, Saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati,” jelas Pdt. Ronny.

Jadi ketika kita mempersembahkan tubuh atau menggunakan tubuh kita untuk dipakai memuliakan Tuhan, maka itulah yang disebut sebagai ibadah yang sejati. Demikian pula yang ditulis dalam Yak 1:27, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Sesungguhnya inilah ibadah yang dimaksud oleh Alkitab. Persoalannya, masih banyak orang yang tidak menyadari betapa seriusnya kita sedang menghadapi virus ini.

Masih banyak orang Kristen yang beranggapan kalau orang Kristen, maka akan dilindungi oleh darah Yesus dan diluputkan dari terinfeksi oleh virus ini. “Sesungguhnya pandangan seperti ini adalah pandangan yang bodoh, ceroboh, dan naif, karena siapa pun bisa terpapar oleh virus Covid-19 jika tidak berjaga-jaga dan waspada,” pungkasnya.

Kalau saya bicara hal ini, bukan berarti saya membangun narasi yang negatif dan menyebarkan virus ketakutan, tetapi kita mau menggunakan akal sehat supaya tidak bertindak bodoh dan ceroboh, tetapi tetap membangun sikap waspada dan tetap tenang dalam menghadapi keadaan ini.

Ia mengajak agar kita tidak boleh panik menghadapi keadaan ini, “karena sebagai anak-anak Tuhan yang memiliki pengalaman berjalan bersama Tuhan secara pribadi, pasti ada dalam perlindungan Tuhan yang sempurna,” ujarnya.

Harus diingat sebagai orang percaya kita tidak boleh takut mati, karena kematian pasti akan dialami oleh semua orang yang pernah hidup di bumi ini, tetapi kalau kita tahu ada ancaman di depan kita maka kita harus bersikap waspada sebagaimana yang dikatakan dalam Amsal 22:3, “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.”

Jadi kalau seseorang tahu ada ancaman di depannya, tapi cenderung mengabaikannya karena yakin Tuhan pasti melindungi, sebenarnya ia sedang mencobai Tuhan.

Akhirnya, saya ingin berpesan kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi tanpa izin Tuhan. “Dengan menyadari hal ini, maka kita tidak perlu bersungut-sungut dan khawatir berlebihan, tetapi kita harus tetap jaga kebersihan, sebisa mungkin tidak melakukan aktivitas di luar rumah, kurangi berinteraksi dengan orang jika tidak perlu, jaga kesehatan dengan makan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup,” harap Pdt. Ronny.

Meskipun kita tidak tahu kenapa hal ini harus terjadi, kita harus tetap bersyukur, karena semuanya akan mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia, karena tidak ada rancangan Tuhan yang buruk. Sebenarnya melalui keadaan ini membuat orang percaya semakin menyadari bahwa betapa rentannya manusia, di sinilah manusia sadar bahwa ia memerlukan Tuhan dalam segala hal.

Jadi melalui peristiwa ini ada beberapa hal yang dapat kita renungkan yaitu:

1. Dunia ini bukan rumah kita tetapi hanya hunian sementara, bukan hunian tetap (1Petrus 1:17). Semakin kita menyadari kenyataan ini, maka sisa hidup yang kita jalani di dunia ini hanyalah kita isi untuk mempersiapkan diri memasuki langit baru dan bumi yang baru yang Tuhan sediakan.

2. Betapa rentan dan lemahnya manusia. Sehebat apa pun seseorang, kembali ia harus dipaksa untuk mengakui bahwa sesungguhnya betapa lemahnya manusia.

3. Kita disadarkan untuk menjalani hidup dengan waspada dan bertanggung-jawab. Kejadian ini menjadi alarm bagi manusia untuk bertobat dan kembali kepada jalan-jalan Tuhan. Di sinilah orang percaya harus benar-benar menyadari bahwa Tuhan bukan melulu diidentikkan dengan ritual, tetapi Tuhan ingin adanya hubungan yang bersifat pribadi dengan kita. Karena ibadah yang sesungguhnya adalah apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan.

4. Manusia disadarkan bahwa manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Manusia ada bukan untuk menjadi pemangsa/serigala sesamanya, tetapi manusia ada untuk menjadi penolong bagi sesamanya. (El)