0 3 min 6 tahun

KARAWANG- Berawal dari keprihatinan akan adanya populasi dari Owa Jawa yang nyaris punah akibat penebangan hutan untuk industri perkotaan, pencurian hingga faktor alam lainnya. 

PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field bekerja sama dengan Yayasan Owa Jawa gencar melakukan sosialisasi penyelamatan hewan tersebut ke 8 Sekolah di Karawang dan Subang, salah satunya SMAN 1 Karawang.

Subang Legal and Relations Ast Manager PT Pertamina EP, Retno Hastuti mengatakan, kegiatan sosialisasi Owa Jawa ini didasari atas keprihatinan pihaknya pada Primata yang hampir punah di Indonesia ini.

Hewan yang hidup selama 50 tahun dihutan dengan ketinggian 600 meter ini hanya menyisakan 4.000 ekor versi data UNHCR , itupun hanya menyisakan di Jawa Barat saja, tepatnya di Gunung Pangrango dan Gunung Punang Bandung Selatan, karena di Jawa Timur sudah tidak bisa ditemukan lagi.

“Owa ini hampir punah, kita upayakan penyuluhan ini untuk menyampaikan pesan-pesan penyelamatan Primata ini,” katanya.

Dijelaskannya, Primata Monogami ini memang tidak ada di Karawang dan Subang, namun alasan pihaknya mengarahkan penyuluhan Owa Jawa ini sebagai bagian rangkaian kerjasama bersama Yayasan Owa Jawa, dimana sosialisasi, publikasai dan pelestarian OwA jawa bisa difahami semua pelajar baik konservasi, rehabilitasi maupun abituasnya.

Pihaknya juga menjelaskan alasan kenapa sosialisasi tersebut harus ke anak Sekolah, alasannya sebab siswa merupakan agen perubahan yang terdidik yang bisa berefek pada lingkungan sekitar baik saat ini, maupun dimasa mendatang, sehingga kapanpun dan dimanapun orang akan semakin sadar melestarikan owa Jawa, karena Primata ini menjadi indikator hutan sehat. Apalagi, kalau binatang ini punah, maka binatang lainya akan rusak sehingga bisa menggangu keseimbangan ekosistem di hutan.

“Kita sosialisasikan Owa Jawa ini di 8 sekolah, 4 Sekolah di Karawang dan 4 Sekolah di Subang, karena Karawang maupun Subang masuk wilayah kerja kita,” katanya.

Hasil dari penyuluhan ini, selain dibekali materi, visual, brosur dan komunikasi dua arah, para siswa juga di arahkan agar bisa tanggap jika melihat Owa di pelihara masyarakat, bisa melapor ke relawan di Yayasan Owa, Kepolisian maupun Dinas Lingkungan Hidup setempat, bukan ikut-ikutan memelihara.

Sebab, primata ini sebut Minanti, dalam suatu keluarga monogami yang rata-rata melahirkan bayi setelah dikandung 220 hari, bahkan sampai usia 3-4 bulan, bayi owa tetap melekat di perut induknya sebelum mencari pasangannya di wilayah teritorialnya. Tak heran, selain terancam punah, Primata ini juga memang lambat perkembangbiakannya.

“Kalau lihat Owa, segera lapor ke pihak terkait, jangan ikut-ikutan memelihara,” katanya.(Red/Adv)