CIREBON,- Tradisi memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW atau Muludan sudah ada di Mertasinga sejak tahun 1960an.Awalnya, tradisi ini hanya diselenggarakan keluarga besar Mertasinga setiap tanggal 24 Rabi’ul Awal (Mulud).

Tradisi ini sempat terhenti pada tahun 1995. Pada tahun ini, tradisi Muludan di Mertasinga diselenggarakan kembali dengan juga melakukan ziarah ke Tunggak Jati Leluhur ing Keratwan Singhapura.

“Ada dua pesan penting yang ingin disampaikan dalam Muludan 1443 H di Mertasinga, yakni:

Pertama, Muludan di Mertasinga sebagai momen untuk mengingat kembali peran penting para pendiri Keratwan Singhapura, Ki Gedheng Tapa dan anaknya Nyi Subang Kranjang. Kedua tokoh ini menjadi sosok kunci bagi perkembangan Islam di pesisir utara Jawa Barat juga sebagai tokoh penting bagi berdirinya Kerajaan Cirebon. Dalam buku Jejak-jejak Laksamana Cheng Hwa di Keratwan Singhapura Cirebon, Dr. Achmad Opan Syafari Hasyim M. Hum., menyebut Ki Gedheng Tapa adalah Raja Singhapura kedua setelah Ki Gedheng Sedhang Kasih atau Ki Gedheng Surawijaya Sakti,” ujar Ketua Panitia Muludan Keratuan Singhapura, R Udin Kaenudin, Minggu (31/10/2021)

Menurut Udin, Ki Gedheng Tapa, mempunyai anak bernama Nyi Subang Kranjang yang kemudian menikah dengan Raden Manah Rarasa (Prabu Siliwangi). Dari pernikahan tersebut lahirlah tiga orang putra, Pangeran Cakrabuana, Rara Santang, dan Pangeran Raja Sangara. Pangeran Cakrabuana dan Rara Santang membuka pemukiman yang kelak disebut sebagai Cirebon, dan putra dari Rara Santang, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) menjadi raja pertama Cirebon dan bagian dari Walisongo yang menyebarkan Islam di Nusantara.

“Islam sudah masuk ke Keratuan Singhapura jauh sebelum lahirnya Kerajaan Cirebon. Ki Gedheng Tapa yang notabene adalah buyut dari Sunan Gunung Jati, sudah memeluk agama Islam, yang dibuktikan dengan bentuk batu nisan kuburannya khas kuburan muslim. Begitupun anaknya, Nyai Subang Kranjang juga dipercaya masyarakat sudah memeluk Islam. Bukti lain dari Islamnya kedua tokoh ini adalah terdapat fakta sejarah berlabuhnya armada Laksamana Cheng Hwa di Pelabuhan Muara Jati di Singhapura (sekitar 1405-1422 M). Armada ini membawa serta para ulama yang menyebarkan Islam mula-mula di Jawa Barat, Syekh Quro Karawang dan Syekh Nurjati.

Melalui ziarah ke Tunggak Jati Leluhur, keluarga besar Keratwan Singhapura di Desa Mertasinga dan Sirnabaya mengajak seluruh masyarakat di Nusantara untuk menapaktilasi perjuangan kedua tokoh tersebut dalam mengembangkan ajaran Islam di wilayah pesisir utara Jawa Barat,” katanya.

Pesan kedua , dikatakan Udin, tradisi Muludan di Mertasinga juga merupakan perwujudan rasa dari rasa syukur atas dilahirkan dan diutusnya Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Nusantara. Sebagai wujud dari rasa cinta kepada Rasul, masyarakat kemudian membangkitkan rasa cintanya yang mendalam kepada Tanah Air (al-wathon) dan leluhur yang membawa ajaran Nabi hingga sampai kepada kita dan generasi seterusnya.

“Tradisi ini juga diharapkan momen untuk selalu menjadikan peninggalan leluhur sebagai inspirasi untuk selalu berbuat baik. Dulu, Muludan di Mertasinga hanya dirayakan sebatas lingkungan keluarga, sekarang dirayakan lebih luas biar memberikan inspirasi bagi masyarakat yang lebih luas. Untuk kemaslahan Cirebon dan bangsa Indonesia secara lebih luas. Melalui berbagai acaranya, acara ini ingin mengabarkan dan menyebarkan kebaikan untuk saudara-saudara yang membutuhkan. Harapannya agar kebaikan yang dilakukan tersebut bisa memberikan manfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi semua orang untuk juga senantiasa berbuat baik, sebagaimana kebaikan yang selalu kita teladani dari Nabi Muhammad SAW,” tambahanya.

Ada yang berbeda pada ziarah kubur Raja Singhapura kali ini. Pertama dari sekian lama, Sultan Aloeda mengikuti prosesi ziarah ini yaitu hadirnya Sultan Aloeda II Rahardjo Djali. (Cep’s)