Perselisihan Jemaat HKBP Timbulkan Kerusakan dan Korban Luka

0
630

Jabar.- Ratusan jemaat berkumpul di area HKBP Cibinong, dengan dipenuhi spanduk bertuliskan penolakan pelantikan terhadap Pendeta Tiapul Hutahaean.

Tepat pukul 10:00 jemaat yang menginginkan pelantikan tiba dan langsung berorasi dengan mobil sound agar dapat memasuki Gereja HKBP. Salah seorang orator menyampaikan bahwa telah dilakukan penandatanganan kesepakatan minggu lalu dihadapn Kapolres Bogor, mari kita sama-sama meneruskan pembangunan.

Sedangkan di area dalam yang mayoritas mendukung Pendeta Gideon Saragih melakukan perlawanan dengan menutup akses masuk HKBP Cibinong, karena selama kepemimpinan Pendeta Gideon Saragi Gereja HKBP Cibinong mengalami kemajuan, salah satunya dengan dibangunnya Gereja baru yang ditaksir senilai 12 milyar.

Saat ditemui awak media, Ketua Majelis Perbendaharaan Sintua Siahaan menyampaikan, “mayoritas jemaat HKBP Cibinong mendukung Pendeta Gideon Saragih dikarenakan selama kepimpinan beliau HKBP Cibinong mengalami kemajuan,” kata Sintua kepada awak media di HKBP Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Minggu (16/8/2020).

Pembangunan gereja ini dulunya direncanakan ada panitia yang sudah terbentuk, lewat perencana rancang bangun PT Bona Hariara Perkasa yang merencanakan biaya sebesar 20,8 miliar. Biaya 20,8 miliar ini bentuk gereja yang mereka buat dengan luasan sampai 3.019 meter.

“IMB waktu itu sudah keluar dan rencana akan ditenderkan, tetapi karena pendeta Gideon Saragih merasa biayanya terlalu besar dan akan membebankan Jemaat maka dievaluasilah hal tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut Sintua menjelaskan, waktu itu mereka mematok biayanya sebesar Rp 20,8 miliar. Dikarenakan gereja tidak memiliki uang sebesar itu, dan jemaat susah untuk mengumpulkan sebanyak itu, mereka merencanakan membuat sistem funding dalam hal pembiayaannya.

“Sistem funding tersebut direncanakan dengan DP Rp 4,5 miliar kemudian gereja akan membayar dengan cara mencicil sebesar Rp 299 juta perbulan selama 11 tahun. Jadi kalau dihitung total biayanya sekitar 43 miliar. Oleh karena itu jemaat melakukan evaluasi, ternyata biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 12 Miliar,” pungkas ia.

Hasil evaluasi tersebut kemudian dibawa ke rapat jemaat untuk selanjutnya diputuskan sistem swakelola. Setelah diputuskan, panitia pembangunan sebelumnya mengundurkan diri.

“Kemudian tidak dibentuk lagi panitia pembangunan tetapi hanya ketua pelaksana yang dikepalai oleh Pak Rudi Arwan dan ketua pencarian dana adalah M. Sitorus. Setelah itu dilaksanakan pembangunan gereja hingga sekarang,” tukasnya.

Mengenai persoalan SK Tiapul Hutahaean, sambung Sintua, itu merupakan tindakan pusat yang semena-mena. Karena jemaat masih menginginkan Pendeta Gideon yang masa periodenya hingga 5-6 tahun sedangkan saat ini dirinya baru menginjak 2,5 tahun masa kepimpinannya.

Sempat terjadi gesekan antara dua kubu, hingga menimbulkan korban luka-luka. Bahkan jemaat yang sebelumnya berada diluar pagar, berhasil merobohkan pagar setinggi 5 meter.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada titik terang dalam penyelesaian tersebut dan jemaat yang pro Pendeta Gideon, akan menempuh jalur hukum atas tindakan pengrusakan hingga sejumlah orang mengalami luka. (El)