Perkuat Konsolidasi, KSBSI Gelar Workshop Nasional

0
385

Inapos, Jakarta.- Dalam rangka menghadapi tantangan serikat buruh ditengah era globalisasi, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) mengadakan workshop khusus internal pimpinan KSBSI dari tiap federasi, di Teraskita, Hotel Dafam, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (05/09/17).

Tampak hadir dalam workshop tersebut, diantaranya dari tingkat Dewan Eksekutif Nasional (DEN) KSBSI, perwakilan pengurus dan Ketua Umum Federasi KSBSI, perwakilan organisasi Serikat Buruh dan perwakilan ILO Jakarta.

Agenda workshop yang bertemakan ‘Strategy Networking Yang Lebih Efektif Untuk Penguatan Buruh di Perusahaan Multinasional’ terlihat dinamis. Tampak dalam dialog itu, peserta langsung mengeluarkan aspirasinya terkait persoalan mereka dalam perusahaan masing-masing. Khususnya, persoalan tantangan kebebasan serikat buruh, upah layak, Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di perusahaan multinasional, seperti garmen, pertambangan, perkebunan, perbankan dan lainnya.

Salah satu peserta, Elly Rosita Silaban – DEN KSBSI menjelaskan, ditengah tantangan serikat buruh saat ini, dia menyarankan agar pemimpin serikat buruh bersikap bijak dan cerdik, ketika menghadapi perusahaan yang terkesan mengekang kebebasan serikat buruh.

“Jika ada perusahaan yang terkesan mengekang kebebasan serikat buruh, maka sebagai pimpinan serikat buruh, sudah waktunya kita harus bersikap bijak dan cerdik. Jadi tak selamanya kita harus bersikap frontal. Kita harus bisa mempengaruhi kebijakan perusahaan dengan cara dialog namun tetap dengan strategi gerakan buruh,” ujarnya.

Waktu diwawancarai, Maria Emeninta, penanggung jawab program mengatakan, agenda workshop dilakukan rutin setiap tahun. Tujuannya untuk melakukan konsolidasi internal dan evaluasi gerakan dari sembilan federasi KSBSI yang ada di perusahaan multinasional.

“Hasil dari workshop ini nantinya juga harus bisa memetakan kekuatan dan kelemahan dari tiap federasi KSBSI. Tujuan workshop ini juga untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan KSBSI dalam rangka memperkuat posisi tawar di tiap perusahaan multinasional,” ujar Maria yang saat ini menjabat penanggung jawab International Institut Workers Eeducation (IIWE-KSBSI).

Dia juga menjelaskan hasil dari workshop harus bisa melahirkan gerakan aksi bersama dalam bentuk kampanye program buruh, baik di tingkat nasional sampai internasional. Sejauh ini persoalan upah layak, kebebasan berserikat, PKB dan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja masih pembahasan utama dalam workshop tersebut.

“Untuk itulah, pertemuan workshop ini, seluruh pimpinan KSBSI dari tiap federasi lebih mengutamakan mencari  solusinya dan mengurangi perdebatan,” tutupnya. (Elwan)