Pengamat: Kemampuan Uji PCR Covid-19 di Dalam Negeri Maju dan Mundur

0
79

Jumlah tes Real Time Polymerace Chain Reaction (RT-PCR/SWAB) di dalam negeri masih jauh dari target yang ditentukan oleh World Health Organization atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada Republik Indonesia, yakni tes 1.000 orang per satu juta jiwa per Minggu, rakyat Indonesia ada sekitar 270 juta jiwa dibagi 1.000 hasilnya 270.000 per Minggu, jadi minimal tes PCR 38.571 orang per hari.

Kemudian kita merujuk pada Pemerintah Wuhan, China yang terbukti berhasil mengatasi kasus COVID-19 (Virus Corona), di saat Wuhan, China darurat Covid-19, Pemerintah China mampu melakukan tes PCR sebanyak 6,5 juta orang per 9 hari di Wuhan (sekitar 722.222 orang per hari), dan akhirnya Wuhan berhasil menekan jumlah kasus Covid-19 hingga ke angka Nol.

Sama halnya saat ini kita bisa mengamati hasil kerja dari beberapa negara yang mampu melakukan tes PCR dengan jumlah ratusan ribu orang per hari, seperti Brasil, India, Amerika Serikat dan sebagainya, karena salah satu cara fundamental tindakan preventif untuk mengatasi penyebaran dan pertumbuhan kasus COVID-19 adalah melakukan tes PCR secara massal dan cepat serta tepat.

Saya semakin merasa khawatir akan keadaan kasus Covid-19 di dalam negeri, jumlah tes PCR ditingkatkan beberapa hari hingga 21.508 orang per hari, namun diturunkan lagi, hari ini, Mingggu, 6 September 2020 Pemerintah Indonesia hanya berhasil tes PCR sejumlah 13.325 orang saja, padahal sekitar sebulan yang lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menargetkan tes PCR sebanyak 30.000 orang per hari.

Padahal angka suspek (dugaan positif) terus bertambah. Per hari ini jumlah angka suspek sudah mencapai 89.701 orang. Jadi apa yang sudah disampaikan oleh pak Jokowi tersebut tidak menunjukkan kemampuan yang memadai dalam pelaksanaan. Tes PCR di dalam negeri terkesan berniat maju dan mundur.

Salah satu kekhawatiran saya adalah dengan mengamati angka kematian yang terjadi di Jawa Timur sekitar dua setengah kali lipat lebih banyak dibandingkan angka kematian di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, namun jumlah angka positif per hari menunjukkan DKI Jakarta lebih tinggi sekitar tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan angka positif per hari di Jawa Timur, Apakah angka-angka tersebut benar apa adanya?

Fundamental kekhawatiran saya adalah orang-orang yang sesungguhnya sudah positif COVID-19, namun, karena belum berhasil diungkap dari hasil tes PCR yang karena jumlah tes PCR yang terlalu minim dan lambat, maka keadaan demikian akan menimbulkan virus COVID-19 bergentanyangan di mana-mana dan terjadilah penularan dan penyebaran Covid-19 yang sangat sulit untuk dikendalikan lagi.

Sementara waktu Rumah Sakit rujukan khusus pasien COVID-19 mulai kepenuhan, dan pasien positif terus bertambah drastis. Bagaimana, dan apabila dalam waktu dua bulan hingga lima bulan kedepan angka kasus aktif Covid-19 di dalam negeri terjadi seperti di beberapa negara, yakni Brasil, India, Amerika Serikat dan sebagainya yang mencapai ratusan ribu pasien positif Covid-19 dengan status kasus aktif, sekiranya jumlah pasien yang membludak seperti itu banyaknya harus merawat di mana? Bagaimana cara mengatasinya?

Apakah kita masih ingat peristiwa yang pernah terjadi di negara Ekuador bahwa saking banyaknya jenazah akibat Covid-19 sampai harus tergelak di mana-mana hingga di jalan-jalan raya dan sebagainya, semua itu terjadi dikarenakan faktor Pemerintah Ekuador yang sudah sempat kewalahan mengatasi permasalahan Pandemi Wabah Covid-19.

Di mana kita ketahui saat ini pasien positif yang menjadi kasus aktif di DKI Jakarta baru berjumlah 10.267 saja sudah mulai tampak mengarah kewalahan, dari 67 Rumah Sakit rujukan pasien Covid-19 per tanggal 28 Agustus 2020 saja sudah terisi 70 persen. Apakah Pemerintah Indonesia sudah melakukan tindakan preventif untuk menghadapi situasi pandemi wabah Covid-19 untuk dua bulan hingga lima bulan akan datang?

Mr.Kan Pengamat Hukum dan Politik