Pencak Silat Dikukuhkan Warisan Dunia, Ridwan Akan Syukuran Akbar

0
331

BANDUNG,- Pencak silat, diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization ( UNESCO) sebagai warisan budaya tak benda dunia pada Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage (IHG) di Bogota, Kolombia 9-14 Desember 2019 lalu.

Sebagai bentuk rasa syukur, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil berencana untuk menggelar acara syukuran akbar.

“Dengan pengakuan itu, syukur Alhamdulillah, peradaban kita akan turut dilestarikan oleh dunia. Ini harus dirayakan karena mungkin tidak akan terjadi 100 tahun sekali,” ujar Ridwan Kamil saat menggelar pertemuan dengan Pengurus Provinsi Ikatan Pencak silat Indonesia (IPSI), Jawa Barat di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Sabtu, 21 Desember 2019.

Dikutip dari pikiran-rakyat.com Ridwan menegaskan, pencak silat sangat layak dilestarikan sebagai warisan budaya dunia.

Sesuai argumentasi yang dia sampaikan di hadapan sekitar 1.000 anggota majelis di Unesco Paris saat menjadi delegasi Indonesia pada 2017 lalu, kata Ridwan, pencak silat memiliki empat ekspresi kebudayaan yang tidak dimiliki kebudayaan lain.

“Dalam pencak silat ada seni bela diri, kemudian ada seni musik tak semua bela diri punya musikal khusus satu set dengan nayaganya. Lalu ada seni ibingnya dan keempat ada seni busananya. Hanya pencak silat yang memiliki empat aspek budaya itu dalam satu kegiatan budaya,” kata Ridwan pada pertemuan yang juga dihadiri pimpinan Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, dan Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Jabar.

Ridwan mengatakan, pengakuan Unesco terjadi berkat kontribusi banyak pihak yang melakukan lobi, termasuk IPSI Jabar yang beberapa kali mengirim delegasi.

Dia menambahkan, syukuran atas pengakuan Unesco terhadap pencak silat itu akan digelar dalam waktu dekat.

Menurut Ridwan, perayaan akan dirancang meriah. Pemprov Jabar akan mengundang media dalam negeri atau media untuk mempublikasikan perayaan syukuran pencak tersebut.

“Secepatnya kita rencanakan, misalnya awal tahun ini. Kita undang juga menerbitkan dalam dan luar negeri,” tutur Ridwan.

Dia menambahkan, langkah yang juga harus segera dilakukan untuk menanggapi pengakuan Unesco yang disetujui tanggapan senior budaya pencak silat.

Selain membuat pencak silat sebagai bela diri yang dikirim militer dilakukan oleh IPSI Jabar melalui kerja sama dengan Kodam III / Siliwangi dan Kostrad, kata Emil, pencak silat juga perlu segera terhubung dalam jaringan sekolah.

“Cita-cita saya mewajibkan agar siswa SMA itu wajib belajar pencak silat pada tahun pertama. Oleh karena itu (IPSI Jabar) siapkan pelatih, pelajar sekolah. Tantangan ada di pelatih untuk perancangan kurikulum,” kata Ridwan

Pada kesempatan tersebut, Ridwan Kamil juga merespons rencana pembangunan kampung pencak silat yang digagas IPSI Jabar di kawasan Kiarapayung.

Namun, Ridwan harus tetap mengkaji dulu pemilihan lokasi pembangunan kampung pencak silat tersebut, terutama dari sisi pengembangan potensi pariwisata.

“Jadi jangan sampai hanya satu fungsi, harus multifungsi dan sekarang tren dunia itu dipadukan dengan pariwisata. Untuk itu belum bisa diputuskan sekarang. Saya berencana melihat langsung dulu ke lokasi yang terhubung (Kiarapayung). kunjungi di 10 lokasi di Jabar, “kata Ridwan.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengprov IPSI Jabar Phinera Wijaya mengapresiasi tanggapan Ridwan Kamil yang akan menggelar perayaan khusus sebagai penghargaan atas pengakuan Unesco.

Selain itu, Phinera juga dapat mengatur, IPSI Jabar siap menjawab tantangan Gubernur Jabar untuk persyaratan kurikulum pelatihan pencak silat pada tahun pertama di SMA di Jabar

“Untuk itu, kami akan siapkan segera, termasuk dengan sertifikasi pelatih agar pelatihan pencak silat wajib di tingkat SMA itu sesuai standar. Kami sudah bekerja sama dengan Kodam III Siliwangi dan Kostrad menjadikan pencak silat inis sebagai bela diri wajib militer. Kami mengapresiasi langkah Pak Gubernur yang akan menjadikan pencak silat sebagai kegiatan wajib di tingkat SMA,” kata Phinera.

Mengenai pembangunan megaproyek kampung pencak silat, kata Phinera, pihaknya siap mengikuti saran dari Gubernur Jawa Barat untuk mengkaji beberapa opsi. Menurut Phinera, rencana pembangunan di kawasan Kiarapayung belum final.

“Kami juga sebenarnya memiliki beberapa opsi. Tapi sesuai saran Pak Gubernur, tentu akan kami ikuti. Yang terpenting, pembangunan kampung pencak silat ini harus terealisasi karena ini juga akan menjadi tanggung jawab kita merespons pengakuan dari Unesco. Apalagi, Unesco akan memonitoring dan mengevaluasi pemberian pengakuan itu dalam dua tahun ke depan,” kata Phinera. (Red)