Pemerintah Minta SB Turun, BTN Tetap Bertahan

0
205

INAPOA, JAKARTA,- Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) terus menekan nilai suku bunga (SB) agar membuka peluang investasi sebesar-besarnya dan perekonomian menjadi bergairah.

Penurunan suku bunga ini berlaku untuk semua termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Namun sepertinya penurunan suku bunga ini tidak berlaku bagi kreditur Bank Tabungan Negara (BTN).

Kepada Inapos, Abdul sebagai kreditur KPR di BTN mengeluhkan naiknya suku bunga dari awalnya 9,9% pada tahun 2013 namun kini naik menjadi 13,75%.

“Mereka pihak BTN tidak memberitahu dulu kepada saya selaku kreditur adanya kenaikan suku bunga terhadap kewajiban saya. Ini jelas merugikan,” jelas Abdul, Rabu (06/11/2019.

Menurut Abdul, apa yang dilakukan oleh BTN jelas patut diduga melanggar ketentuan BI dan OJK.

“Bagaimana mereka seenaknya menaikkan suku bunga, sedangkan BI saja selaku otoritas tertinggi menurunkan nilai suku bunga. BTN malah tetap naik, padahal BI saja sampai empat kali menurunkan suku bunga,” tegas Abdul.

Menyikapi keluhan Abdul tersebut, Dody Agoeng selaku Corporate Communication BTN menjelaskan bahwa terkait suku bunga ini cukup sulit untuk bisa diterima semua pihak.

“Karena masing-masing pasti berbeda pandang. Tetapi pada intinya yang harus dipegang adalah tidak menguntungkan bagi bank yang menerapkan suku bunga tinggi sementara bunga di pasar turun,” jelas Dody saat ditanyakan bagaimana tanggapan BTN terhadap keluhan kreditur tersebut.

Sosy menambahkan bahwa pihaknya suport arahan otoritas dan saat ini ada bunga kredit promo sekitar 8 sampai dengan 9 persen fixed sampai dengan 2t tahun.

“Dengan ketentuan yang berlaku. Misalkan kredit lebih dari Rp. 250 juta dst. Tentang suku bunga 13,75 saya koreksi yang benar adalah 13,25. Bunga ini untuk debitur outstanding yang sudah menikmati bunga murah fixed 1 s/d 3 tahun yang masa promonya sudah berakhir, sehingga mulai diperhitungkan dengan bunga pasar,” papar Dody.

Ketika ditanyakan BTN sudah melakukan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan yang berlaku. “Saya jawab ketika otoritas menaikkan bunga bank ngga lantas menaikkan atau sebaliknya ketika otoritas menurunkan bunga, bank juga tidak serta merta langsung menurunkan. Semua bank akan menyesuaikan kemampuannya,” jawabnya.

Dody meneruskan, bahwa nasabah telah diberi bunga murah dibawah pasar katakan 2 tahun. “Bank sudah menghitung bahwa nanti pas tahun ke 3 berlaku pasar dan secara bertahap beban bank untuk memberi bunga murah diawal akan terbayar dengan penyesuaian bunga tersebut. Sampai kapan? Idealnya setelah beban bank terbayar akan dilakukan penyesuain lagi bunganya. Sistem yang secara otomatis akan melakukan koreksi. Semua berlaku jamak ya. Jadi bukan BTN saja sehingga ngga adil kalau hanya BTN yang disorot,” terusnya.

Dody kembali mempertanyakan keluhan kreditur tersebut. “Kenapa waktu dikasih bunga murah sementara di pasar mahal waktu itu ngga protes..? Harusnya kalau fixed 2 tahun itu kesempatan untuk menikmati sekaligus menyiapkan untuk nanti pas berlaku pasar. Sekali lagi mohon maaf, seperti itulah produk KPR di semua bank itu,” tutup Dody melalu pesan Whatsappnya, Rabu (06/11/2019).

Menyikapi persoalan ini, pengamat ekonomi perbankan yang tidak ingin dimediakan namanya menyatakan apa yang disampaikan BTN tersebut kurang tepat.

“Lha, mereka kok jawab begitu, mari kita lihat, NJOP tanah didaerah – daerah relatif rendah dikarenakan pemerintah daerah tdk punya “will” untuk menaikkan nilai NJOP, nah sekarang mengapa bank begitu bersemangat untuk menaikkan bunga KPR yang fantastis. Dimana suku bunga Bank Indonesia malah turun, hal ini menjadi pertanyaan semua debitur dikarenakan kondisi indonesia secara umum aman terkendali, termasuk juga internasional investasi begitu terbuka. Artinya tidak ada beban bagi bank untuk menaikkan bunga tanpa melihat kondisi rill dilapangan,” papar pria yang enggan disebutkan namanya. (Cep’s)