Pancasilanomics ala Arif Berbau Kapitalis dan Liberalisme

0
60
Horas Sinaga (kiri) dan Frans Meroga (kanan)

Jakarta.- Baru-baru ini Arif Budimanta meluncurkan buku Pancasilanomics, Jalan Keadilan dan Kemakmuran di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEJ), Jakarta (7/10/2019). Tetapi peluncuran buku tersebut menuai kritik dari masyarakat luas, salah satunya Generasi Optimis (GO) Indonesia.

Sekalipun Arif mengaku Ekonomi Pancasila bukan anti-pasar, melainkan hadir untuk melindungi para pelaku ekonomi, kiritik tajam tetap menghujam kepadanya. Arif diduga kelabui masyarakat dengan gunakan istilah ‘Pancasilanomics’.

Wakil Ketua Umum GO Indonesia, Frans Meroga, mendesak Arif tidak menggunakan istilah ‘Pancasilanomics’ karena menduga Arif lebih berpihak pada kapitalis ketimbang ekonomi kerakyatan/keumatan yang merupakan ekspresi dari nilai-nilai Pancasila.

Frans mempertanyakan integritas Arif terkait komitmennya mengembangkan Ekonomi Pancasila. Ia mengatakan, “Katanya Ekonomi Pancasila, kok launching di BEJ? Kan jelas bursa efek itu identik dengan kapitalis, sedangkan Pancasila pada sila keempat menyuarakan kerakyatan dan musyawarah mufakat. Jangan pakai istilah Pancasilanomics lah, launchingnya aja di tempat kapitalis. Jangan kelabui masyarakat,” tegasnya kepada Inapos.com, Selasa (8/10/2019).

“Mana ada kapitalis bersedia musyawarah untuk mencapai mufakat? Yang ada selama ini winner takes all. Jangan kamuflase praktik kapitalis dengan balutan istilah Pancasila,” ujar Frans.

Pakar ekonomi kerakyatan dan koperasi milenial itu menambahkan, katanya Ekonomi Pancasila, tapi kok tidak anti pasar? Padahal sila kelima kan menyatakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Mana ada pasar bisa bikin adil? Yang ada ialah Pemerintah memang perlu terlibat minimal memproteksi yang lemah. Saya pikir Arif perlu belajar kepada Abah Kyai Ma’ruf Amin,” sambung Wakil Ketua Umum GO Indonesia itu kepada wartawan.

Frans menilai justru prinsip ekonomi kerakyatan yang digagas oleh KH. Ma’ruf Amin adalah yang sesuai dengan prinsip Pancasila. Gagasan ekonomi Ma’ruf yang dikenal sebagai The Ma’ruf Amin Way itu dinilai lebih relevan dan mengekspresikan secara autentik keadilan, keumatan dan kedaulatan.

Prinsip ekonomi Pancasila, menurut Frans, hanya termanifestasikan secara konkret melalui pemberdayaan koperasi. Karena koperasi jelas mengutamakan kepentingan anggota. Tiap anggota koperasi berperan sebagai produsen dan konsumen. Dasar sukarela dan terbuka.

Prinsip pengelolaan dalam koperasi bertujuan untuk menumpuk laba guna kepentingan anggota, bukan segelintir orang atau pemilik modal (kapitalis-red).

Sejalan dengan pemikiran Frans, Sekretaris Jendral (Sekjen) GO Indonesia Tigor Mulo Horas Sinaga, mengatakan Pancasilanomics ala Arif berbau kapitalis dan liberalisme.

“Pemilihan tempat launching bukunya aja di BEJ, itu menunjukkan kepada publik bahwa Pancasilanomics gagasan Arif Budimanta lekat dengan kapitalisme dan liberalisme. Itu tampak jelas,” kata Horas tegas.

“Sewaktu krisis moneter terbukti hanya ekonomi kerakyatan atau keumatan seperti koperasi yang secara gemilang membuktikan ketangguhannya melawan krisis ekonomi. Hanya koperasi yang yang sanggup bertahan dan tetap membangun negeri ini, bukan kapitalis yang berwujud korporasi-korporasi liberal di BEJ,” terang mantan senior manager di bank Mandiri itu.

Seperti diketahui sebelumnya, Arif Budimanta menyatakan penulisan bukunnya diselesaikan dalam kurun 8 tahun, sejak ia masih menjadi anggota DPR-RI. Namun ketika Arif masuk ke pemerintahan, ia mengaku melakukan penulisan ulang seiring dengan tantangan ekonomi dalam birokrasi.

Dalam peluncuran buku itu tampak ikut hadir Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Ekonom Senior Indef Aviliani, dan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda. (Elwan)


Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here