Ormas Pribumi Bangkit, Jamran : Kita Merdeka Tapi Butuh Merdeka Lagi

0
312

Inapos, Jakarta.- Dalam momentum memperingati Hari Sumpah Pemuda, Puluhan Ormas menggelar acara yang bertajuk ‘Kebangkitan Pribumi Bersatu, Berdaulat dan Mandiri’. Acara yang digagas para Ormas ini bertujuan untuk membangkitkan semangat Pribumi, agar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Adapun acara tersebut berlangsung di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat, Sabtu (28/10/17) sore. Susunan acara yang dihadiri pimpinan Ormas itu didahului dengan memperkenalkan dirinya sekaligus pidato kemudian secara serentak membacakan Ikrar dan penandatanganan Kebangkitan Pribumi.

Dalam pantauan Inapos.com beberapa tokoh pimpinan Ormas yang hadir diantaranya ; Syarief (BIMA), Rijal (KOBAR), Jamran (AMJU), Eki Pitung (BRAJA), Eka Jaya (BJP), Yudi Syamhudi Suyuti (MRI), Diko Nugroho (FSI), Matrawi Alwi (Laskar GPK), Arif (PPMI), Daeng Luar Batang, KH. Hasri (GNPF/PA 212), Bastian (Geprindo), Dahlia Zein (APU-RI) dan lainnya.

Selain membacakan pidato, ada juga yang memberikan sebuah puisi kebangsaan ialah Jamran (AMJU). Ia mengatakan puisi tersebut dibuatnya ketika dilanda kegalauan yang esoknya akan diperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, berikut puisi karya Jamran ;

*MERDEKA atau MERDEKA LAGI*

Lihat bendera MERAH PUTIH di pojok rumah kita, berkibar sedikit agak malu-malu.

Iya, malu-malu, entah mengapa?

Dulu…merah putih kita berkibar gagah, perkasa, ditakuti, disegani dan di hormati.

Sekarang…merah putih tanpa malu ada di dada, walaupun hanya simbol kegagahan tanpa makna dan tanpa arti.

Duduk dipojok emperan pasar rakyat, masih terlihat banyak anak-anak yang mengais sampah, ya sampah bekas buangan untuk mereka makan.

Berada dipelosok desa, masih melihat anak-anak bertelanjang kaki berdiri tegak dibawah terik matahari panasnya tanpa mereka peduli, menatap bendera merah putih begitu gagahnya.

walaupun bendera sudah lusuh dan usang, tetap berkibar, didepan gedung sekolah yang nyaris roboh.

Berdiri dipematang sawah ditengah kuningnya padi begitu indah dan elok dilihat mata, berbanding terbalik.

ketika aku melihat petani berdiri dipinggiran sawahnya, menatap dengan pandangan mata kosong dan putus asa tanpa ada rasa bangga.

Saat aku berdiri di pinggir laut, menyaksikan para nelayan sibuk menyiapkan perahu didampingi istri dan anak-anaknya begitu semangat, walaupun terlihat jelas tanpa asa, karena laut mereka dibatasi.

Tanya mengapa? Laut, udara dan tanah katanya milik kita…Pembangunan mengorbankan harkat, martabat dan harga diri.

Pembangunan itu semestinya, membuat senyum anak-anak bangsanya.

Lihat GARUDA kita sedang dicengkram oleh ELANG berkepala putih.

Lihat RAJAWALI SAKTI kita sedang dililit NAGA, tak berdaya.

Kita MERDEKA diatas tanah yang TIDAK MERDEKA.

Kita MERDEKA diatas laut yang TIDAK MERDEKA.

Kita MERDEKA diangkasa raya yang TIDAK MERDEKA.

Apakah kita perlu merebut KEMERDEKAAN kembali.

Apakah pekik TAKBIR bung TOMO kita kumandangkan lagi untuk membakar anak-anak negeri ini.

Apakah PROKLAMASI yang dibacakan bung KARNO dan bung HATTA kita kumandangkan lagi untuk meyakini kita MERDEKA sesungguhnya.

MERDEKA atau MATI, dan ternyata kita MATI.

Air mata MERDEKA sudah kering untuk MERDEKA lagi.

Kita MERDEKA, Tapi butuh MERDEKA lagi.

Jakarta, 28 Oktober 2017. (Elwan)


Komentar Anda?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here