MK, Masih Seperti Yang Dulu

0
245

Ditulis oleh M. Nigara – Wartawan Senior –

_AKU masih seperti yang dulu.._
_Memutusmu seperti yang lalu.._
_Menolakmu dengan caraku…_
_Membuatmu (rakyat pendukung perubahan) semauku…_

BEGITU syair lagu yang spontan muncul setelah MK bersidang. Bagi saya keputusan MK memenangkan 01 bukanlah kejutan. Kasat mata, mereka, para Hakim MK, belum sekelas *Baharuddin Lopa* dan *Benyamin Mangkoedilaga* dua Hakim fenomenal yang mampu menolak ketidakbenaran meski mendapat ancaman.

Apalagi jika melihat siapa saja yang menjadi pengusung kesembilan Hakim MK itu, mohon maaf saja, belum terbukti kehebatannya. Bahkan, sekali lagi, tanda-tanda mereka akan menjaga independensi saja, tidak terlihat.

Meski Ketua MK, Anwar Usman mengawali sidang dengan mengatakan kalimat dahsyat: “Sidang ini disaksikan oleh Allah dan para Malaikat.” Maknanya kejujuran dan keadilan seolah-olah benar-benar ingin ditegakkan. Tapi faktanya?

Saya bukan akhli hukum, untuk itu saya tidak ingin berdebat soal hukum murni. Saya hanya ingin mengajak para Hakim berbicara dengan bahasa batin, bahasa *mata hati*. Artinya, para Hakim hendaknya tidak begitu saja terpaku pada bukti kertas, video, saksi dan yang lain-lain.

Mengapa? Bukti kertas, video, dan saksi sesungguhnya hanyalah syarat manusia. Jika hanya mengandalkan semua itu, para Hakim bukan tidak mungkin bisa keliru. Dan kekeliruan Hakim bisa merugikan bukan hanya bagi diri mereka, tapi juga merugikan rakyat banyak. Sekali lagi, merugikan satu saja manusia, maka hukum Allah amat berat. Bayangkan apabila keputusan Hakim MK itu ternyata merugikan puluhan juta manusia, maka tak terbayangkan hukum Allah yang akan mereka terima.

Saya melihat, para Hakim MK bukan tergolong orang yang menganggap akhirat itu dongeng. Hakim MK itu masih mengerjakan shalat, secara kasat mata begitu. Artinya, mereka tahu ada hukum akhirat. Artinya lagi, mereka pasti tahu kepura- puraan (munakif) haram hukumnya.

Melihat itu, seharusnya para Hakim MK juga mau menjalankan fungsi batin. Melihat bukan hanya dengan mata biasa, tapi dengan mata hati. Jika mata hati para hakim dipergunakan dengan baik, maka insyaa Allah mereka bisa melihat persoalan yang sesungguhnya.

Saya mengambil contoh seorang wasit tinju berkulit hitam, Richard Steele namanya. “Saya lebih suka dituntut di muka Hakim di dunia ketimbang saya dituntut Hakim di akhirat!”
Ya, Steele beberapa kali diajukan ke pengadilan karena dianggap merugikan petinju yang kalah. Steele dianggap terlalu cepat mengambil keputusan.

Namun sang wasit berdalih, jika seseorang sudah tak mampu merespon 6 atau 7 kali pukulan ke arah kepalanya, menghentikan adalah jalan terbaik. “Saya tidak mau membiarkan 10-13 pukulan mendarat tanpa respon, bahaya!” katanya.

Dari sana, saya melihat Steele memainkan mata hatinya saat bertugas sebagai wasit. Jika ia hanya memainkan mata biasa, maka 6-7 pukulan belumlah patut untuk dihentikan. Bukan tidak mungkin petinju yang sedang jadi bulan-bulanan itu, justru membuat lawannya _konck out_ melaui gerakan reflek atau biasa disebut _lucky blow_.

Begitu pula dengan Hakim MK. Kasat mata pendukung Prabowo demikian dahsyat. Mereka bukan hanya tidak dimobilisasi, apalagi dibayar, mereka malah justru memberikan sumbangan. Jika Hakim MK menggunakan mata hati, maka akan terlihat aneh jika tiba-tiba Prabowo kalah dengan selisih begitu besar.

Belum lagi di medsos terlihat video-video, foto-foto yang viral terkait keanehan pilpres. Semua kisah itu ada di hadapan dan terus menjadi bahan pembicaraan banyak rakyat yang tak henti. Lalu, tiba-tiba mereka masuk ke MK, dan para Hakim hanya berpegang pada kertas.

Ini bukan persoalan menang atau kalah. Tidak juga soal 01 atau 02. Tapi ini soal kejujuran, keadilan, dan kebenaran.
Sungguh, Allah tidak tidur dan Allah Maha Mengetahui apa pun, termasuk rencana yang ada di hati kita semua.

Di bawah ini saya pilihkan dua ayat Quran:
_Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS:An Nisa 145)_

_Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi (2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(3) Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan (4) pada suatu hari yang besar (5) yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?(6) ( QS. Al Muthoffifin : 1-6)_

Semoga para Hakim MK tidak termasuk dalam golongan seperti di atas. Dan semoga kita bangsa Indonesia tidak sedang diazab oleh Allah…
Nauzubillah..


Komentar Anda?