Mewaspadai Potensi Ketidakseimbangan Baru

0
137

Oleh: Bambang Soesatyo

Ketua DPR RI/

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia

 

INDONESIA bersama banyak negara lain sedang menyongsong ketidakseimbangan (disequilibrium) baru, jika Amerika Serikat (AS) terus berperilaku ugal-ugalan dalam mengelola perekonomiannya. Untuk mereduksi ekses dari ketidakseimbangan baru itu, Indonesia harus melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi. 

Jika penyesuaian tidak segera dilakukan, Indonesia justru akan terlihat konyol. Sebab, dampak ketidakseimbangan baru akan menghadirkan beberapa dampak, yang langsung maupun tak langsung; akan membuat banyak orang tidak nyaman. Bersyukur bahwa pemerintah telah berani menginisiasi langkah pertama dari upaya penyesuaian kebijakan itu,dengan menaikkan tarif Pajak Penghasilan (PPh) impor atau PPh pasal 22 atas 1.147 komoditas atau produk. Termasuk dalam daftar barang yang PPh-nya dinaikkan itu adalah impor mobil-mobil eksotis berkubikasi besar dan barang mewah lainnya.

Sudah barang tentu penyesuaian kebijakan itu tidak asal-asalan. Pemerintah tetap mengalkulasi kebutuhan konsumsi masyarakat, serta menjaga kebutuhan dan keberlanjutan aktivitas industri dalam negeri. Namanya juga penyesuaian dengan situasi dan kondisi, tentu saja penyesuaian kebijakan itu tidak  berstatus harga mati. Kebijakan menaikkan PPh impor itu bisa diubah lagi jika situasinya sudah memungkinkan. Jadi, bagi konsumen yang ingin membeli sedan eksotis, tas mahal dan arloji super mewah, Anda tidak dilarang untuk belanja meski dengan risiko membayar belanjaan lebih mahal dari sebelumnya. Kalau ingin mendapatkan harga murah atau moderat, Anda hanya diminta menunda dulu sampai terwujudnya keseimbangan baru, atau berakhirnya gejolak nilai tukar valuta.

Boleh jadi, penyesuaian kebijakan oleh pemerintah akan berlanjut dengan model pendekatan lain, jika Bank Sentral AS, Federal Reserve (Fed), meneruskan skenario mendongkrak suku bunga acuannya atau Fed Fund Rate (FFR), dan Presiden Donald Trump mengeskalasi perang dagang. Selain impor barang mewah dan komponen barang modal, Indonesia juga impor bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas pangan. Ada BBM non-subsidi dan BBM bersubsidi. Demi menjaga daya beli masyarakat dan kondusifitas di tahun politik, pemerintah sudah berketetapan tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Terhadap tariff dasar listrik, arah kebijakan pemerintah pun terlihat sama. Sudah barang tentu Pertamina dan PLN harus bekerja keras menjaga likuiditas.

Untuk memenuhi permintaan dalam negeri, Indonesia pun secara regular impor belasan komoditi pangan, meliputi beras, gula, kedelai, tepung terigu, susu, jagung, gandum dan meslin, garam, minyak goreng, kentang, lada, mentega, telur, daging hingga buah-buahan. Per semester pertama 2018, belanja pangan impor bernilai 8,18 miliar dolar AS. Nilai ini mencerminkan lonjakan sebesar 21,64 persen dibanding  semester pertama 2017. Dengan dolar AS yang kini terapresiasi, nilai belanja pangan impor sudah pasti mengalami pembengkakan.

Itulah beberapa risiko yang tak bisa dihindari Indonesia – dan juga sejumlah negara lain – akibat gejolak nilai tukar atau lonjakan kurs dolar AS.  Penguatan nilai tukar dolar AS yang ekstrem itu biasanya merusak keseimbangan neraca transaksi berjalan, neraca pembayaran, neraca perdagangan dan juga neraca jasa. Masalah inilah yang harus dikelola dengan sangat hati-hati melalui penyesuaian kebijakan.  Penyesuaian kebijakan menjadi keharusan bagi Indonesia guna meminimalisir kerusakan akibat gejolak nilai tukar valuta dan ekses perang dagang dua raksasa ekonomi, AS versus China.

Seperti sudah diketahui bersama, The Fed berencana masih akan menaikkan FFR hingga paruh pertama 2019. Sementara itu, Presiden Trump sudah mengambil ancang-ancang mengeskalasi perang dagang AS dengan Cina. Sabtu (8/9) pekan lalu, Trump sudah menegaskan dia akan menaikkan tarif produk dari China menjadi 267 miliar dolar AS, dari skenario sebelumnya yang 200 miliar dolar AS. China pun tak tinggal diam. Beijing menyatakan akan membalas skenario Trump itu, walaupun dengan risiko perdagangan global menjadi semakin tidak kondusif.

Ugal-ugalan

Langkah The Fed untuk terus mendongkrak FFR dan tindakan Trump mengeskalasi perang dagang dengan Cina mendorong perekonomian global menuju ketidakseimbangan baru. Dan, ketika dunia melihat bahwa kedua raksasa ekonomi itu sulit menemukan kompromi, perekonomian global kini sedang menyongsong ketidakseimbangan baru itu.

Dengan menaikkan FFR secara berkelanjutan, The Fed secara tidak langsung menarik valuta dolar AS dari pasar uang di sejumlah negara berkembang. Untuk memelihara momentum dan mencegah panik di pasar, otoritas moneter sejumlah negara, termasuk Indonesia; harus mampu menyediakan dolar AS sejumlah yang diminta pemilik dana dan investor. Prinsipnya, likuiditas dolar AS tidak boleh kering-kering amat walaupun dengan biaya pengadaan yang lebih mahal.

Berapa pun besaran atau volume yang diminta pemilik dana atau investor, otoritas moneter harus mengupayakan ketersediaan dolar AS di pasar. Selain itu, negara dengan model perekonomian seperti Indonesia pun harus mengeluarkan lebih banyak daya dan dana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat domestik, seperti belanja pengadaan BBM dan komoditas pangan. Ketika nilai impor membengkak dan nilai ekspor menciut, itulah ketidakseimbangan yang harus diseriusi. Apalagi jika beban itu masih harus ditambah dengan kewajiban membayar utang luar negeri yang jatuh tempo.

The Fed mendongkrak FFR untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menyehatkan likuiditas di AS. Sedangkan perang tarif yang dilancarkan Trump bertujuan menyehatkan neraca perdagangan AS dengan semua mitranya. Jangan lupa, Trump juga mengancam produsen mobil dari Eropa dengan rencana menaikkan tarif impor. Namun, dua skenario ini dinilai sebagai perilaku ugal-ugalan AS dalam mengelola perekonomiannya. Trump sendiri tidak sepakat dengan scenario The Fed. Sebab, patokan kurs dolar AS terhadap sejumlah valuta lainnya tidak mencerminka fundamental ekonomi AS yang sebenarnya. Artinya, nilai tukar dolar AS sekarang ini tidak mencerminkan kejujuran, tetapi levelnya dipaksakan. Sementara itu, para ekonom di sekitar Trump pun tidak semuanya setuju dengan inisiatif perang tarif ala Trump.

Skenario The Fed menaikkan FFR secara berkelanjutan tidak hanya menyebabkan keringnya likuiditas valuta dolas AS di negara berkembang, tetapi juga  menyebabkan durasi gejolak nilai tukar jauh lebih lama dan sulit diperkirakan. Sedangkan aksi Trump melancarkan perang tarif akan mendorong dunia kembali pada perilaku proteksionistis untuk menjaga dan melindungi kepentingan nasional masing-masing. AS mendorong dunia untuk merusak kesepakatan global tentang mekanisme perdagangan global yang tertuang dalam aturan main Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO).

Namun, pada akhirnya, AS akan menerima getahnya. Sehingga, cepat atau lambat, The Fed dan Trump harus berhenti berperilaku ugal-ugalan. Ketika perbankan dan pasar uang AS mengalami kelebihan likuiditas yang ekstrem, The Fed pada akhirnya akan dipaksa untuk memosisikan FFR pada level yang realistis. FFR yang terlalu tinggi berpotensi membunuh industri AS karena berkonsekuensi pada turunnya daya saing produk AS di pasar ekspor.

Lalu, ketika aksi Trump melancarkan perang tarif dibalas oleh mitra dagang, persoalannya akan menjadi sangat serius. Trump harus berhadapan dengan aspirasi konsumen dan industri di dalam negerinya sendiri. Sebagian kebutuhan konsumen AS dipenuhi oleh produk impor. Sebaliknya, AS juga ekspor sejumlah produk. Kalau perang tarif menjadi tidak terkendalikan lagi, bukan tidak mungkin harga gadget merek Iphone yang popular di pasar Indonesia akan memasuki level puluhan juta rupiah.

Tidak ada yang tahu sampai kapan AS akan berperilaku ugal-ugalan seperti sekarang. Namun, komunitas internasional mencatat bahwa ada kegelisahan di AS akibat sepak terjang Trump. Pemerintahan Trump diketahui tidak solid karena rongrongan dari orang-orang di sekitar Presiden AS itu. Trump dinilai tidak kredibel dan cenderung ngawur. Walau pun tidak mudah, sudah muncul semangat untuk mengoreksi gaya Trump memerintah.*


Komentar Anda?