Menyusuri Jejak Letusan Gunung Api Purba di Selatan Cirebon

0
288

Dalam buku akar Geografi untuk pelajar SMA rentang waktu tahun 1962-2012, praktis tidak ada penambahan contoh baru untuk gunung api maar.

Sejak Dr. JA Katili memberikan contoh gunung api maar di lereng Gunung Lamongan pada tahun 1962, seperti yang terdapat dalam bukunya Pengantar Ilmu Geologi yang diterbitkan oleh Balai Pendidikan Guru, Departemen PDK di Bandung (1962). Buku ini menjadi pegangan wajib, yang dibagikan untuk para peserta Pendidikan Guru BI/BII Jurusan Ilmu Bumi.

Mengutip tulisan T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung berjudul Setu Patok, Gunung Api Purba di Cirebon, Sejak tahun itu sampai tahun 2012, tidak ada penambahan contoh dalam buku-buku ajar dari semua penerbit, paling tidak yang ada di Pulau Jawa. Semuanya hanya mencontohkan gunung api maar, seperti dicontohkan Katili, yaitu ranu, danau yang ada di lereng Gunung Lamongan, Jawa Timur, seperti Ranu Bedali dan Ranu Pakis. Padahal, ada maar di kaki Gunung Cereme, yaitu Situ Sangiang di Majalengka, Seto Sedong di Kuningan, dan Setu Patok di Cirebon.

Juga ada maar, Gembong, dan Gunungrowo di lereng bawah Gunung Muria. Di kaki Gunung Gamalama, Ternante, ada Danau Tolire Jaha dan Tolire Kecil. Akibatnya, pelajar di Majalengka yang dekat dengan Situ Sangiang, dan pelajar di Cirebon yang dekat dengan Setu Patok, misalnya, tidak tahu bahwa kedua danau itu merupakan contoh dari bentuk gunung api maar.

Maar itu merupakan bahasa dialek Franken Moselle di Daun, Jerman, yang berarti genangan air atau danau. Kata asalnya dari Bahasa Latin adalah mare, yang berarti laut. Sutikno Bronto (2010) menulis maar adalah gunung api yang memotong batuan dasar di bawah muka air tanah, dan membentuk kerucut berpenampang landai yang tersusun oleh rempah gunung api berbutir halus hingga kasar, mempunyai diameter kawah, yang bervariasi antara 100 – 3.000 m, yang terkadang terisi air membentuk danau. Lebih lanjut, Bronto menulis, “Sebagian besar maar terbentuk oleh letusan hidroklastika, tetapi juga biasa berakhir dengan letusan magmatik, sehingga terbentuk kerucut sinder atau kubah lava.”

Setu Patok di Desa Setupatok ini berada 27 km timur laut Gunung Cereme, atau 7 km di selatan Cirebon dan hanya 4 km dari Kecamatan Mundu. Gunung maar Setu Patok ini dapat dijadikan contoh gunung api maar.

Banyak yang tidak menyangka bahwa setu patok yang berupa kerucut skorea atau kerucut sinder yang ada ditengahnya itu bekas letusan gunung api. Dalam keadaan air danau penuh, keliling Seto Patok panjangnya 6.875 m, dengan bentangan danau terpanjang 1.874 m, dan terpendek 696 m. Panjang lingkaran kerucut sindernya 1.340 m.

Jejak gunung api maar ini pada umumnya lebih berupa cekungan ketimbang kerucut seperti layaknya bentuk gunung api yang kita kenal. Boleh dibilang, bentuk gunung api maar ini berupa gunung api kerdil karena kecilnya. Dasar gunungnya hanya satu pertujuh atau satu per delapan gunung komposit, seperti Gunung Tangkubanparahu, Gunung Merapi,Gunung Semeru, dll. Gunung api kate ini termasuk ke dalam kelompok gunung api monogenesis, gunung api yang terbentuk oleh satu periode letusan, karena energinya yang rendah dengan magma yang kecil, sehingga waktu hidupnya sangat singkat, dan bentuk gunungnya menjadi kecil.

Bila tidak mengamati keadaan sekeliling danau dan pulau di tengah danau yang tersusun dari tumpukan material letusan berupa lava yang sarang atau bom gunung api, yang biasa disebut kerucit sinder atau kerucut skorea, pasti tidak akan menyangka bahwa Setu Patok ini berupa gunung api maar.

Gunung Api Maar menurut Schieferdecker (1959) maar merupakan suatu cekungan yang umumnya terisi oleh air berdiameter mencapai 2 Km serta dikelilingi oleh endapan hasil letusannya.

Maar dapat disebut juga sebagai kerucut Gunung Api Monogenesis yang memotong batuan dasar di bawah permukaan air tanah dan membentuk kerucut berpematang landai yang tersusun oleh rempah gunung api yang berbutir halus hingga kasar, mempunyai diameter kawah variasi antara 100 – 300 m yang terisi air sehingga membentuk danau (Bronto, 2001; Cas & Wright, 1988).

Gunung Api monogenesis tersebut merupakan gunung api yang magmanya keluar dalam waktu relatif pendek karena dapur magmanya yang relatif kecil atau volumenya cuma sedikit. Gunung Api monogenesis adalah suatu tipe yang tidak menunjukkan gunung api pada umumnya, akan tetapi berupa kumpulan dari ratusan sampai ribuan vent dan di supply oleh magma yang cukup rendah dan lemah sehingga tidak salah jika gunung api tersebut disebut sebagai gunung api embrio.

Apabila dilihat dari kenampakan udara akan menunjukkan bahwa kawah gunung api maar memperlihatkan kenampakan lingkaran atau cekungan melingkar. Kebanyakan dari letusan gunung api maar terjadi pada lingkungan geologi gunung api besar yang berkomposisi basalt dan ditemukan sebagai kerucut skoria. (Heiken; Wood Vide Cas & Wright, 1988).

Apalagi sejak tahun 1921, di salah satu tebingnya diperkuat dengan bendungan agar dapat menampung air dari Ci Telang, Ci Dukuh, dan Ci Karamat, untuk keperluan irigasi, sehingga banyan yang menyangka ini danau buatan. Luas Situ Patok 175 ha, pada saat airnya penuh menjadi tujuan rekreasi air yang menarik. Di sana Anda dapat berperahu mengitari kerucut sinder. Masyarakat juga banyak yang memancing di sini. Namun, makin ke sini setu ini semakin mendangkal, sehingga sudah ada bagian yang menjadi sawah, dan benar-benar menjadi kering pada saat musim kemarau, sehingga dasar danau dapat dilalui dengan berjalan kaki.

Setu Patok terjangkau dengan mudah dari Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu, sehingga sangat baik bila dijadikan laboratorium kebumian. Di bekas letusan gunung api Holosen ini, para pelajar dapat mengadakan studi lapangan untuk melihat dari dekat apa yang disebut gunung api maar dalam buku. Penataan lingkungan danau dengan penanaman pohon-pohon besar khas Cirebon perlu digalakan agar mendapatkan suasana teduh dan nyaman untuk berkegiatan.

Penulis : Prawiro S

Editor : Cecep S


Komentar Anda?