0 7 min 7 tahun

INAPOS.- Saat Gunung Krakatau meletus sangat dahsyat pada 27 Agustus 1883 dan menghebohkan jagad dunia hingga sekarang, jauh sebelumnya Gunung Krakatau telah meletus dengan lebih dahsyat.

Kedahsyatannya mencapai 10 kali lipat (volume magma di tahun 1883 sebesar 20 kilometer kubik magma, letusan di tahun 535 mencapai 200 kilometer kubik magma, sedangkan letusan Gunung Tambora di tahun 1815 mencapai 160 kilometer kubik). Padahal letusan 1883 itu daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di  akhir Perang Dunia II.

Tercatat letusan tersebut terjadi ditahun 535. Hembusan debunya, dalam jumlah yang sangat banyak menyembur ke atmosfer hingga demikian tinggi untuk kemudian menyebar ke segenap penjuru lapisan stratosfer. Dari 200 kilometer kubik magma yang dilontarkan oleh Krakatau, 10-80 kilometer kubik dalam bentuk debu memuncah ke lapisan stratosfer. Sedangkan di dataran sekitar Krakatau ketinggian debu mencapai 25 meter.

Ledakan Krakatau diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Akibatnya, dampak letusan tidak hanya dirasakan oleh warga setempat dan saat itu saja, melainkan menyebar ke seluruh dunia dan hingga beberapa tahun kemudian. Dari hamparan debu di atmosfer yang sangat banyak dan memakan waktu yang lama itulah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim dunia yang begitu dramatis dan ekstrim di tahun-tahun berikutnya. Sehingga menurutDavid Keys dalam bukunya Catastrophe: An Investigation into the Origins of the Modern World, ledakan tersebut turut andil dalammembuat beberapa peradaban di belahan dunia runtuh atau masuk dalam abad kegelapan. Daerahnya tersebar di daerah Afro-Eurasia (dari Mongolia ke Inggris, dari Skandinavia hingga selatan Afrika), daerah Timur Jauh (Cina, Korea, dan Jepang), Mesoamerica (Mexico/Amerika Tengah), dan Amerika Selatan. Di daerah-daerah tersebutlah dampak letusan Krakatau begitu terasa.

Mengenai kepastian tahun terjadinya letusan, dapat diketahui melalui laporan-laporan di berbagai belahan dunia terkait dengan peristiwa yang memiliki kaitan dengan ledakan Gunung Krakatau. Selain itu juga melalui teknik pertanggalan karbon radioaktif. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ken Wohletz, seorang ahli vulkanologi di Los Alamos National Laboratory. Dalam penelitiannya pada lapisan es di Antartika, Greenland, dan Pegunungan Andesyang berasal dari tahun 535 terkandung asam sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Kadar asam sulfat tersebut yang tertinggi sepanjang 2000 tahun terakhir.

Dari penelitiannya juga diketahui bahwa magma yang keluar dari Gunung Krakatau membuat pulau Jawa dan Sumatera menjadi satu. Lalu karena ledakannya yang begitu dahsyat, membuat jalur yang tercipta menjadi hancur dan memisahkan kedua pulau tersebut.

Simulasi komputer yang dilakukan oleh Ken Wohletz dalam laboratorium. Sumber: Ken Wohletz
Simulasi komputer yang dilakukan oleh Ken Wohletz dalam laboratorium. Sumber: Ken Wohletz

Jadi, Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sempat menyatu saat isi lava dari Gunung Krakatau perlahan keluar menutupi Selat Sunda. Namun kembali terpisah akibat letusan yang begitu dahsyat tersebut. Dalam peta nusantara yang dibuat oleh Ptolemy pada tahun 150, terlihat bahwa memang antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera itu sebenarnya sudah terpisah. Dipisahkan oleh Selat Sunda. Dalam peta tersebut tertulis Funda.

Peta buatan Ptolemy tahun 150.
Peta buatan Ptolemy tahun 150.

Peristiwa meletusnya Krakatau di tahun 535 sendiri di Kerajaan Tarumanagara tidak terdapat dokumentasi yang menceritakan kejadian dahsyat tersebut. Padahal, kalau dilihat dari lokasi kerajaan yang dekat pesisir pantai utara Jawa, dan tidak jauh dari Krakatau, seharusnya ada dampak yang ditimbulkan terhadap Tarumanagara.

Menurut Naskah Wangsakerta sendiri, tahun 535 merupakan tahun Raja Tarumanagara yang ketujuh,  Candrawarman berakhir (515 – 535). Tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya yaitu Suryawarman (535 – 561). Tapi tidak diceritakan apa ada hubungannya dengan peristiwa bersejarah tersebut.

Dalam dokumen lain, Pustaka Raja Purwa yang disusun oleh Raden Ngabehi Rangga Warsita(1802 – 1873), diceritakan bahwa pada tahun 338 saka atau 416 masehi telah terjadi peristiwa yang begitu dahsyat pulau Jawa kala itu. Isi lengkapnya, “Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada goncangan Bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Lalu datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia.

Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatra.” Meski tahunnya tidak sama dengan hasil penelitian David Keys dan Ken Wohletz, tapi setidaknya mendekati. Terutama peristiwa yang memiliki cerita yang sama.

Tidak seperti pada peradaban lain yang punah atau menderita parah sebagaimana dipaparkan oleh David Keys, justru Tarumanagara tetap gagah berdiri hingga 100 tahun kemudian sebelum ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Tetapi memang pada masa itu, tidak ada catatan penaklukan yang dilakukan oleh Tarumanagara terhadap wilayah lain, sebagaimana biasa dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Ada sejumlah pendapat yang menyatakan bahwa punahnya Kerajaan Aruteun terkait erat dengan meletusnya Krakatau di tahun 535.

Padahal, sejak tahun 452 Kerajaan Aruteun tidak lagi mengirimkan utusannya ke Negeri Cina. Dan disaat yang sama, terdapat prasasti yang menyatakan bahwa penguasaTarumanagara telah menguasai daerah Aruteun. Yang itu berarti Kerajaan Aruteun sudah tidak ada 83 tahun sebelum Krakatau meletus dengan dahsyat.

Dampak ledakan Krakatau di tahun 1883 sendiri memang dahsyat. Jumlah korban jiwa yang dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda adalah 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon) serta Sumatera bagian selatan. Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke Afrika Selatan juga melaporkan guncangan tsunami, dan mayat para korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian.

Gelombang Tsunami yangditimbulkan bahkan merambat hingga kepantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengahdan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Sebaran suara yang terdengar hingga ke beberapa negara di dunia
Sebaran suara yang terdengar hingga ke beberapa negara di dunia

Bagi Bekasi sendiri, tercatat dalam surat Residen Batavia kepada Gubernur Jenderal tertanggal 7 September 1883. Isinya mengenai kerusakan akibat letusan Krakatau di Cabang Bungin, Pondok Dua, Sembilangan, Pondok Tengah, Muara Gembong, Blacan, Blubuk, Gaga, dll. Diceritakan bahwa berdasarkan telegram pada 30 Agustus 1883 dari Assisten Residen Meester Cornelis, terjadi ombak yang mencapai enam kaki tingginya (gelombang Tsunami akibat letusan Gunung Krakatau 26-27 Agustus 1883) menghajar perkampungan di pinggir laut. Kampung Sembilangan Laut lenyap, sedangkan kampung-kampung lainnya rusak berat. 71 rumah, 18 perahu yang masih berada dimuara, dan semua alat penangkap ikan hanyut. Kerugian materi dan padi belum ditaksir. Dalam surat tersebut tidak diketahui berapa jumlah korban jiwa.

oleh:
Endra Kusnawan
Penulis Buku Sejarah Bekasi; Sejak Peradaban Buni Ampe Wayah Gini. Herya Media, Depok 2016. Hal: 66-68.