Kontraktor Mayora Wanprestasi, Supplier Gigit Jari Duit Belum Cair

0
296

INAPOS, KABUPATEN CIREBON, – Pembangunan gudang Mayora yang terletak di wilayah Japura Lor kecamatan Pangenan kabupaten Cirebon memanas. Pasalnya, kontraktor utama pembangunan gudang Mayora, yaitu PT. Garuda Antarnusa Prima (Garuda), diputus kontrak oleh PT. Cipta Niaga Semesta (Mayora Group) karena wanprestasi.

Karena masalah tersebut, sejumlah pembayaran supplier material pembangunan gudang Mayora, yang melalui PT. Garuda Antarnusa Prima mengalami kendala dan belum dibayar hingga sekarang. Bukan cuma itu, sebanyak kurang lebih Rp 130 juta upah kuli (pekerja bangunan) yang menjadi hak mereka, sampai saat ini juga belum dibayar.

Merasa selalu dijanjikan pembayaran oleh pihak Garuda, para Supplier setempat yang menjadi korban, mengadu dan meminta Muspika kecamatan Pangenan memfasilitasi permasalahan tersebut hingga selesai.

Akhirnya perwakilan perusahaan yang bersengketa, yaitu Garuda dan Mayora dihadirkan dalam pertemuan dengan masyarakat, yang dilaksanakan di kantor balai desa Japura Lor, Rabu siang (2/10/2019).

Pada pertemuan tersebut, masyarakat setempat yang sebagian pekerja bangunan dan supplier pembangunan gudang Mayora, menuntut hak mereka untuk dibayar. Berdasarkan hasil audit pekerjaan, ada sekitar Rp 3,5 Milyar yang harus dibayarkan oleh pihak PT. Garuda atas pekerjaan yang sudah dilaksanakan, baik kepada supplier material dan juga pekerja.

Usai mediasi alot selama 4 jam, akhirnya para pihak sepakat untuk membuat perjanjian penyelesaian masalah tersebut. Pihak PT. Garuda Antarnusa Prima, membuat surat pernyataan akan menyelesaikan pembayaran kepada para pihak selama 14 hari kedepan.

Salah satu supplier PT. Garuda, Kaji Tulis mengaku masih memberikan toleransi atas surat pernyataan itu. Menurutnya para supplier dan para pekerja hanya menuntut haknya agar segera dibayarkan. Namun apabila sampai waktu yang dijanjikan belum juga dibayarkan, ia tidak menjamin kesabaran para pekerja masih bisa ditahan.

“Intinya kami para supplier hanya menuntut hak kami. Dari mulai pembangunan Maret sampai sekarang, belum ada pembayaran yang masuk. Padahal material sudah saya kirim. Pasir, batu, besi, kayu, sudah saya drop ke lokasi proyek. Tapi sampai sekarang belum dibayar. Sudah hampir tujuh bulan, kami digantung nasibnya,” ujar Kaji Tulis.

Ia meminta PT. Garuda tidak menganggap sepele tuntutan masyarakat pekerja dan para supplier, terkait pembayaran haknya. Menurutnya masyarakat pekerja yang upahnya juga belum dibayar, sudah sangat emosi dan bisa melakukan tindakan apa saja diluar kontrol. Namun ia bersama pemerintah desa dan Muspika berupaya menempuh jalur musyawarah untuk mencari solusi terbaik. Sehingga kondusifitas dan keamanan bisa tetap terjaga.

“Kami selama ini masih bisa menahan emosi para pekerja dan masyarakat. Tapi apabila masalah ini terus berlarut – larut, saya tidak bisa menjamin kesabaran masyarakat masih bisa ditahan. Kerugian saya saja Rp 902 juta, itu dari material yang saya kirim. Nominal segitu bukan duit sedikit mas. Apalagi kita usaha juga perlu modal. Kami tidak mau tau persoalan yang terjadi antara PT. Garuda dan Mayora, itu urusan mereka. Kami cuma menuntut hak kami segera dibayar,” ungkapnya.

Sementara itu, Asep Hanafi selaku Direktur PT. Garuda Antarnusa Prima mengaku siap bertanggung jawab atas permasalahan itu. Ia meminta waktu untuk menyelesaikan pembayaran tersebut selama 14 hari kedepan. Menurutnya sangkutan antara PT. Garuda dan Mayora akan diselesaikan tanpa melibatkan masyarakat. Ia mengakui, keterlambatan pembayaran itu dikarenakan ada sekidit perbedaan data antara pihak PT. Garuda dengan Mayora. Tapi masalah itu akan dibicarakan secara internal perusahaan.

“Kami mewakili perusahaan PT. Garuda memohon maaf kepada masyarakat dan supplier. Kejadian ini tidak diharapkan oleh kita semua. Masalah pembayaran baik kepada pekerja dan supplier sepenuhnya tanggung jawab kita (Garuda). Tagihan – tagihan yang sudah terlampir, yang diketahui para supplier, kita akan bayarkan semua dalam kurun waktu 14 hari kerja,” jelasnya.

Asep juga meminta kepada para pihak untuk bersabar. Ia berjanji dalam surat pernyataannya akan menyelesaikan masalah pembayaran tersebut sesuai dengan bukti – bukti tagihan dan audit pekerjaan dengan para supplier. Ia juga siap menghadapi segala resikonya apabila dalam kurun waktu 14 hari pembayaran itu tidak terealisasi.

“Keterlambatan pembayaran ini dikarenakan ada sedikit miss antara kami dengan Mayora. Uang yang semestinya dibayarkan kepada supplier dan pekerja, justru diklaim oleh Mayora dimasukkan dalam Bank Garansi. Ini yang kemudian membuat pembayaran pekerjaan tertunda. Kami siap dengan segala resikonya apabila masalah pembayaran ini tidak selesai,” pungkasnya. (Andri Gondron)


Komentar Anda?