Konservasi SDA

0
6651

Dunia tempat tinggal kita kaya akan sumber daya alamnya (SDA), manusia sebagai mahkluk hidup sangat bergantung dengan sumber daya alam untuk kelangsungan hidup.

Untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia mengelola sumber daya alam ada yang dengan cara melakukan Ekploitasi SDA secara berlebihan yang tidak ramah lingkungan, yang pada akhirnya menyebabkan rusaknya komponen-komponen sumber daya alam, timbullah masalah lingkungan bagi kehidupan manusia yang dapat mengangcam kelangsungan hidup manusia kalau tidak melakukan tindakan, maka di perlukan langkah konservasi untuk dapat menjaga keseimbangan sumber daya alam, untuk kelangsungan hidup manusia.

Pengertian Konservasi
Kita sering mendengar istilah konservasi baik dari media massa maupun dari kalangan aktivis lingkungan kalau kita ada kesempatan bertemu dengan mereka dan pada tulisan di atas ada istilah konservasi dan sumber daya alam , apa sih konservasi dan SDA itu?

Konservasi adalah Pengawetan atau Pelestarian
Ternyata konservasi adalah pengawetan atau pelastarian, selain itu ada makna dari konsevasi.

Makna konservasi adalah tercapainya kemampuan lingkungan yg serasi & seimbang serta adanya peningkatan kemampuan & kualitas keanekaragaman hayati.

Kita juga sering mendengar istilah SDA (sumber daya alam), apa yang di maksud dengan sumber daya alam ?
SDA adalah unsur-unsur lingkungan alam baik fisik & hayati yang diperlukan manusia untuk pemenuhan kebutuhan & meningkatkan kesejahteraan.

Kita juga akan mengenal istilah konservasi SDA, apa sih yang di maksud dengan konservasi SDA ?
Konservasi SDA adalah pengelolaan sumberdaya alam yang menjamin pemanfaatan secara bijaksana & menjamin keseimbangan dengan tetap memelihara kualitas & keanekaragaman.

Nah sekarang kita telah mengenal apa yang di sebut dengan konservasi, apa yang di sebut SDA (sumber daya alam) dan Konservasi SDA (sumber daya alam).

Tujuan Konservasi
– Terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan manusia.
– Pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang.

Manfaat Konservasi
– Sumber plasma nutfah
– Wahana pengembangan ilmu pengetahuan;
– Pendidikan;
– Hidrologis penyangga kehidupan;
– Iklim
– Menciptakan lingkungan sehat.

Sasaran Konservasi
Dalam konservasi ada sasaran yang ingin di capai dalam upaya melakukana konservasi yaitu Menjamin keberadaan dan keserasian sumberdaya alam hayati & ekosistemnya (SDAH&E) dari kerusakan dan penurunan kualitas & kuantitas serta Pemanfaatan secara berkesinambungan.

Kawasan Konservasi
Dalam konservasi di kenal kawasan konservasi, yang termasuk dalam kawasan konservasi meliputi :

1. daratan/lautan; merupakan ekosistem alam yang disisihkan dari segala bentuk eksploitasi.

2. Dan ditunjuk & ditetapkan; dengan kriteria (keutuhan, keaslian, keindahan, keunikan, kelangkaan & kepekaan) dengan memperhatikan keanekaragaman, perwakilan, keefektifan.

Sedangkan kawasan konservasi terdiri dari :

– Kawasan Suaka Alam (KSA); kawasan yang sifatnya khas yg mempunyai fungsi sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tentang satwa liar (tsl) serta ekosistemnya; juga berfungsi sebagai wilayah Sistem penyangga kehidupan.

– Cagar alam; Kawasan Suaka Alam yang keadaan alamnya khas (nabati dan hewani) dan dilindungi; untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

– Suaka Margasatwa:
Kawasan Suaka Alam yang merupakan tempat hidup margasatwa yang mempunyai nilai khas; pengetahuan, kebudayaan, serta merupakan kekayaan dan kebanggaan nasional.

– Hutan Wisata: kawasan hutan yang dibina & dipelihara guna kepariwisataan dan wisata buru.

– Hutan Wisata:

1. Taman wisata: Kawasan Pelestarian Alam yang dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam;

2. Taman Buru: hutan wisata yang terdapat satwa buru dan diselenggarakan perburuan secara teratur dengan kepentingan rekreasi.

– Hutan Lindung: kawasan hutan yang diperuntukkan guna mengatur tata air, pencegahan erosi, banjir serta pemelihara kesuburan tanah.

– Taman Nasional: Kawasan Pelestarian Alam yg mempunyai ekosistem asli, dikelola dgn sistem zonasi yg dimanfaatkan untuk penelitian, IP, pendidikan, budidaya pariwisata dan rekreasi.

Bentuk kawasan konservasi:
1. Suaka Alam :
– Cagar Alam
– Suaka Margasatwa
2. Hutan Wisata:
– Taman Wisata
– Taman Buru
3. Taman Laut
4. Taman Nasional
5. Hutan Lindung
6. Taman Hutan Raya

Ruang Lingkup Konservasi
– Konservasi tanah;
– Konservasi air;
– Konservasi hutan;
– KSDAH&E
Pentingnya upaya konservasi
1. Konservasi dari sudut ekonomi:
1. Pelestarian tanah dan air (keuntungan negara tdk langsung)
2. Menciptakan stabilitas iklim (keuntungan negara tdk langsung)
3. KSDAG&E yang dapat diperbaharui (keuntungan negara langsung dan jangka panjang)
4. Perlindungan plasma nutfah
5. Turisme dan rekreasi (devisa negara)
2. Konservasi dari sudut sosial filosofi:
1. Mutu kehidupan;
2. Tanggung jawab moral manusia;
3. Warisan dan kebanggan nasional.

Melihat sejarah Konservasi di Indonesia
Sejarah konservasi di Indonesia sudah di mulai dari Zaman pendudukan Belanda, tepatnya pada Tahun. 1657-1714> ada seorang anggota dewan Hindia Chostelein melaksanakan & menetapkan cagar alam di Depok dengan arealnya ± 6 Ha.

Dan pada Tgl.
14-20-1909> dibuat per-UU bid.

Konservasi alam, pada tahun. 1863-1919> Dr. Kooders mendirikan perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda untuk melindungi wilayah konservasi seperti :

– perlindungan hutan Udas

– perlindungan danau di Banten, P. Krakatau,

– kawah Papandayan, Ujung Kulon, Bromo,

– P. Nusa Burung, Alas Purwo, Kawah Ijen, Batu Gajah.

– perlindungan tanaman Raflesia Arnoldi.

Sedangkan pada tahun .

1919 ditetapkan 55 kawasan di Indonesia sbg CA, serta pada tahun.

1931 penetapan UU perlindungan binatang liar, pada bulan April 1937, A. Hoogerwerf sbg ambteder khusus PA yang berkedudukan di Bogor, pada tahun.

1940 di tetapkan UU perburuan Jawa dan Madura.

Zaman pendudukan Jepang
Setelah pendudukan belanda berakhir karena perebutuan wilayah jajahan pada masa itu dengan jepang, indonesia pada Zaman pendudukan Jepang kegiatan konservasi yang telah di lakukan pada zaman pendudukan belanda di tidak diteruskan pada masa pendudukan jepang, yang mengakibatkan :

– Usaha berencana bidang Pelestarian Alam (PA) tidak ada.

– Secara kebetulan, Suaka Alam Bromo dapat terjaga karena mempunyai nilai ritual agama Hindu.

– Suaka alam Depok rusak.

Setelah kemerdekaan indonesia, yang telah lepas dari belenggu penjajah, kegiatan konservasi di lanjutkan karena melihat semakin rusaknya SDA (sumber daya alam) akibat perang, terutama setelah masa pendudukan jepang, kegiatan konservasi pada Zaman Demokrasi Liberal (1950-1959):

Pada Tahun 1951 dibentuk seksi PA (pelestarian Alam) dan ditingkatkan menjadi bagian PA (Pelestarian Alam ) yang kemudian pada tahun 1957 diubah menjadi lembaga pengawetan alam dan lembaga pusat penyelidikan alam dan pada era demokrasi liberal ada Usaha perlindungan & pengawetan alam seperti :

– rehabilitasi SM;

– penertiban perburuan;

– kerjasama internasional;

– menyusun rencana kerja.
Era Demokrasi Terpimpin (1960-1965)
Dan pada Zaman Demokrasi Terpimpin (1960-1965), terjadi Perburuan liar (Br. Cendrawasih, Badak dll) secara besar-besaran yang menyebabkan satwa tersebut di ambang punah, pemerintah Indonesia pada era tersebut melakukan tindakan mengirim delegasi ke RRC & Pasific Science dari lembaga PA (pelestraian alam), yang kemudian Lembaga PA (pelestarian alam) menjadi bagian Perlindungan dan Pengawetan Alam (PPA) dan pada era ini untuk pertama kalinya di adakan kegiatan Pekan Penghijauan Nasional I th. 1961.

Era Orde baru
Pada era zaman Orde Baru (1966-1998), khususnya pada tahap Pra-Pelita adanya kebijakan pemerintah tentang pengurusan hutan didasarkan pada hukum produk Belanda, karena telah di tentukan pada era pendudukan belanda dan melakukan pendidikan dan pengawetan alam.

Pada tahap Pelita I melakukan pekan penghijauan, serta menetapkan hutan SA (suaka alam) dan wisata 268 lokasi, kemudian membentuk 30 seksi PPA( perlindungan dan pengawetan alam), pada era pelita I ditetapkan dalam undang-undang mengenai perlindungan flora dan fauna yang dilindungi sebagai berikut :

– fauna yg dilindungi 75 jenis;

– flora yg dilindungi 71 jenis.

Pada tahap Pelita II keluar SK.

Dirjen Kehutanan tentang Struktur Organisasi Direktorat PPA (perlindungan dan pengawetan alam) dan menetapkan kembali beberapa HW (hutan wisata) dan SA (suaka alam).

Pada tahap Pelita II menetapan KSDA (konservasi sumber daya alam) dan lingkungan hidup untuk pembangunan kehutanan, melakukan kegiatan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup pada kawasan in-situ dan ek-situ.

Pada tahap Pelita IV-V lahir UU No. 5 th. 1990, serta di buat strategi konservasi dan membuat program-program konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem (KSDAH &E).
Zaman Reformasi (1998 – …..)
Pada era reformasi lahir UU No. 41 Th. 1999 tentang Kehutanan yang baru dan pada era reformasi terjadi peningkatan tekanan terhadap hutan.

Itulah sedikit cerita tentang upaya-upaya konservasi yang dilakukan mulai dari zaman penjajahan sampai saat ini.

Strategi konservasi
1. Perlindungan proses ekologis esensial yang mendukung kehidupan:

– Perlindungan daerah pegunungan yg curam & mudah erosi; hutan lindung.

– Perlindungan pantai dlm bentuk pengelolaan hutan bakau, pantai, terumbu karang.

– Perlindungan mata air dan DAS (daerah aliran sungai), danau, ngarai; pengelolaan vegetasi.

– Perlindungan tempat-tempat yang memiliki nilai unik, keindahan alam, ciri khas alam/budaya, dll.

2. Pengawetan keanekaragaman sumber plasma nutfah:

– *Di dalam kawasan, dalam bentuk: suaka alam, hutan wisata, taman nasional.*

– *Di luar kawasan, dalam bentuk: perlindungan flora fauna melalui per-UU, kebun botani, kebun binatang, taman satwa dll.*

3. Pemanfaatan secara lestari:

*- Pemanfaatan kondisi lingkungan KPA (non konsumtif).*

contoh: *rekreasi, pariwisata, penelitian, pendidikan.*

– *Pemanfaatan TSL (tentang satwa liar):*

*pengembangan perikanan, kehutanan, pengambilan hasil hutan ikutan secara terkendali.*

*pengaturan perdagangan TSL (tentang satwa liar).*

*memajukan budidaya, pengembangan & perbaikan selektif yang mempunyai nilai langsung bagi manusia.*

Penulis : Gorby Saputra

Sumber : materi DIKLAT KADER KONSERVASI – oleh BKSDA