KKP Gandeng Norwegia Garap Potensi Marikultur Di Indonesia

0
31

JAKARTA.- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot potensi marikultur di Indonesia salah satunya melalui kolaborasi dengan pemerintahan Norwegia melalui proyek Sustainable Marine Aquaculture Development Project in Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa keuntungan geografis dan potensi yang dimiliki oleh Indonesia menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu pondasi ekonomi bangsa. Hal ini tercermin dari nilai produk domestik bruto perikanan tahun 2019 yang mencapai hingga 2% dari total PDB nasional.

“Sebagai salah satu produsen akuakultur terbesar di dunia, Indonesia masih memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang, terutama di sektor marikultur. Tercatat dari 12,1 juta ha total potensi lahan marikutur, baru 325.825 ha lahan yang termanfaatkan, atau baru sekitar 2,6% dari total potensi lahan,” ujar Slamet di Jakarta, Selasa (29/9/20).

Menurut Slamet, guna menarik investor masuk ke sektor perikanan Pemerintah telah melakukan langkah strategis, seperti percepatan penyederhanaan dan sinkronisasi perizinan lintas sektor yang dipantau langsung oleh Presiden.

“Melalui program kerja sama dengan Pemerintah Norwegia diharapkan dapat mengembangkan sektor marikultur di Indonesia dan menarik investor khususnya dari Norwegia untuk dapat bekerja sama mengoptimalkan potensi yang ada” jelas Slamet.

Slamet menilai bahwa kerja sama dalam bidang marikultur dengan Norwegia merupakan langkah yang tepat karena telah berpengalaman selama puluhan tahun dan berkembang menjadi salah satu produsen marikultur terbesar di dunia.

“Dalam bidang marikultur, Indonesia telah berhasil mengembangkan dengan baik komoditas seperti rumput laut, kakap putih, dan bawal bintang. Ke depan kita akan terus dorong pengembangan komoditas laut lain yang potensial seperti kerang yang memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi dalam proses budidaya, tidak mengonsumsi pakan buatan serta memiliki kelebihan dapat menjernihkan air laut” tutup Slamet.

Sebagai informasi, beberapa strategi pakan ikan tahun 2020-2024, salah satu diantaranya adalah pengembangan pakan ikan mandiri melalui bantuan mesin pakan dan bahan baku pakan ikan, peningkatan kapasitas mesin pakan ikan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, pengembangan formulasi pakan ikan berbahan lokal, pelatihan pembuatan pakan ikan berbasis bahan baku lokal, bantuan pakan ikan produksi UPT dan pembangunan pabrik pakan skala medium di sentra produksi.

Selain itu, pengendalian pakan ikan antara lain pengujian mutu pakan ikan yang beredar, pendaftaran pakan ikan yang beredar, penguatan laboratorium uji pakan ikan di UPT, monitoring dan evaluasi pakan yang beredar, penyusunan SNI pakan, Penerbitan Surat Keterangan Teknis bahan baku dan pakan ikan impor, serta sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB).

Sementara itu Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Vegard Kaale dalam sambutannya pada acara Sustainable Aquaculture Webinar menyatakan bahwa pihak Norwegia siap menjadi partner Indonesia dalam mengembangkan industri marikultur tanah air.

Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi cara kerja kita menjadi lebih efektif, untuk itulah dalam seri webinar kali ini kami mengambil tema pakan dan alternatif pakan dalam akuakultur agar pelaku usaha budidaya mendapatkan gambaran mengenai pemilihan pakan yang tepat agar usahanya dapat berjalan secara efektif dan efisien” tambah Vegard.

Vegard memaparkan bahwa pada tahun 2050 diprediksi akan ada 9 miliar orang di dunia, sehingga akan dibutuhkan 2 kali lipat produksi pangan dibandingkan pada tahun 2010 untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Potensi sumber pangan yang tinggi berada di laut karena 70% bumi tertutup oleh air, namun di sisi lain baru 5% sumber pangan saat ini yang berasal dari laut. Oleh karena itu, menumbuhkan sumber pangan di laut menjadi opsi yang sangat prospektif untuk dilakukan.

“Kami senang dapat bekerjasama serta membagi pengetahuan dengan Indonesia mengenai marikultur dan melakukan pembahasan mengenai pengalaman kami dalam membangun industrialisasi akuakultur di Norwegia. Semoga kerja sama yang baik berkesinambungan dengan Indonesia dapat terus dikembangkan untuk kemajuan industri akuakultur Indonesia” pungkas Vegard. (Red/KKP)