Ketua Seknas Dakwah Jokowi: HA Sebarkan Fitnah Demi Jabatan

0
63

Jakarta.- Demi sebuah jabatan, salah satu cara yang dilakukan adalah menyerang kekuasaan. Hal itu sudah bukan menjadi rahasia bagi perpolitikan di Indonesia.

Ketua Seknas Dakwah Jokowi yaitu Ustad H. Rizal Maulana mengungkapkan adanya berita bohong yang disebarkan Haidar Alwi (HA) mengenai Menantu Presiden Jokowi dan Moeldoko yang terlibat dalam kasus investasi ASABRI.

Menurut Rizal, apa yang dikatakan HA tersebut beraroma hoaks dan fitnah. “Direktur PT ASABRI seperti yang ditulis oleh HA sendiri sudah mengklarifikasi bahwa tuduhan itu fitnah bahwa tidak benar adanya. Saya sangat menyesalkan terjadinya hal tersebut,” kata dia saat diwawancarai, di wilayah Jakarta Pusat, Selasa (11/2/2020).

Dalam sebuah kesempatan HA menyebut bahwa pencairan dana Rp1 triliun dari PT. ASABRI ke BN adalah sebagai dana investasi PT ASABRI ke PT Jenedi Investama yang dimiliki oleh BN, tetapi dalam paparan tentang perusahaan-perusahaan investasi yang mengelola dana PT ASABRI, tidak ada disebut PT Jenedi Investama.

Rizal dengan lugas menilai, kebohongan HA tentang keterlibatan Menantu Presiden dan Moeldoko dalam kasus PT ASABRI adalah fitnah keji yang beraroma sakit hati dan dendam karena syahwat posisi jabatannya tidak terwujud.

Lebih jauh Rizal mengatakan, baiknya HA bertabayun sebab Moeldoko telah berjerih lelah memperjuangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin agar terpilih pada Pilpres 2019 lalu.

Selain itu, Rizal memastikan bila dalam 3 x 24 jam HA tidak meminta maaf kepada Moeldoko, maka pihaknya akan melaporkan kepada pihak berwajib dengan tuduhan menyebar fitnah.

Bagi Rizal, sejatinya relawan adalah komunitas masyarakat yang mendukung salah satu kandidat Pilpres adalah karena keyakinan bahwa kandidat yang didukungnya akan membawa perbaikan dan kemajuan bagi negeri ini. Artinya, dukungan kepada kandidat (Jokowi) bukan hanya mendukung pribadinya untuk menjadi Presiden, tetapi relawan mendukung Jokowi untuk NKRI yang lebih baik dan maju.

Berangkat dari motivasi itu, maka relawan tidak berhitung untung rugi, bersifat rela dan ikhlas meski dia harus berkorban waktu, tenaga, pikiran bahkan dana, demi terpilihnya kandidat yang didukung.

Namun disayangkan bila ada relawan yang tidak sejati. “Mereka tidak tulus dan ikhlas, dibalik gerakannya, ternyata ada maksud tersembunyi, mengincar jabatan atau posisi di pemerintahan atau BUMN, ketika tujuannya tidak terakomodir, maka mereka membuat ulah, bahkan menyerang lingkaran Istana,” pungkas Rizal. (El)